Sabtu, 03 Januari 2015

[Book Review] Maryam



Judul Buku : Maryam
Penulis : Okky Madasari
Penerbit : GPU
Tebal : 275 Halama
Tentang mereka yang terusir karena iman di negeri yang penuh keindahan.

Lombok, Januari 2011

Kami hanya ingin pulang. Ke rumah kami sendiri. Rumah yang kami beli dengan uang kami sendiri. Rumah yang berhasil kami miliki lagi dengan susah payah, setelah dulu pernah diusir dari kampung-kampung kami. Rumah itu masih ada di sana. Sebagian ada yang hancur. Bekas terbakar di mana-mana. Genteng dan tembok yang tak lagi utuh. Tapi tidak apa-apa. Kami mau menerimanya apa adanya. Kami akan memperbaiki sendiri, dengan uang dan tenaga kami sendiri. Kami hanya ingin bisa pulang dan segera tinggal di rumah kami sendiri. Hidup aman. Tak ada lagi yang menyerang. Biarlah yang dulu kami lupakan. Tak ada dendam pada orang-orang yang pernah mengusir dan menyakiti kami. Yang penting bagi kami, hari-hari ke depan kami bisa hidup aman dan tenteram.

Kami mohon keadilan. Sampai kapan lagi kami harus menunggu?

Maryam Hayati

-------------------------

Novel ke-2 penulis yang kubaca dan aku makin suka dengan gaya menulisnya, walau mengangkat isu sosial yang sedang marak di masyarakat, tapi penulis mampu menempatkan dirinya sebagai pencerita yang baik. Kali ini penulis ingin memberikan kita gambaran mengenai jemaah Ahmadiyah, yang pernah sangat marak di pemberitaan baik media cetak maupun elektronik.

Novel ini mengisahkan tentang Maryam, seorang wanita yang sejak lahir telah menjadi Ahmadiyah seperti kedua orangtuanya. Sejak kecil, Maryam tahu bahwa walaupun dia “Islam” tapi kepercayaan yang dianutnya berbeda dengan pemeluk Islam yang lain. Karena mereka punya masjid/musholla sendiri dan komunitas sendiri yang tidak mengizinkan mereka untuk beribadah bersama warga lain diluar komunitas mereka. Dan ini cukup membuat tekanan dari lingkungan, yang menganggap bahwa dia dan keluarganya “sesat”. Hingga ketika dia dewasa pun, tekanan itu pun makin terasa.

Maryam telah mendapatkan nasehat sejak awal untuk mencari pendamping hidup dari warga Ahmadiyah juga, gayung bersambut Maryam pun berkenalan dengan Gamal, sesama Ahmadiyah. Tapi ternyata suatu peristiwa membuat Gamal berubah, akhirnya kisah mereka pun tidak berlanjut. Kemudian, Maryam malah diuji bertemu dengan Alam, pria yang membuatnya jatuh cinta, pria yang bukan Ahmadiyah dan jelas-jelas ditentang keluarganya. Karena cinta yang terlalu besar kepada Alam, Maryam pun tidak menghiraukan nasehat orangtuanya untuk memutuskan hubungannya dengan Alam, malah niatnya untuk menikah semakin besar. Tanpa restu keluarganya, Maryam akhirnya menikah dengan Alam, dengan syarat Maryam tidak lagi menjadi “Ahmadiyah”.

Awalnya Maryam berpikir mertua dan keluarganya akan menerimanya dengan tulus, tapi ternyata tekanan demi tekanan masih terus menderanya dan Alam pun seakan tidak mau tahu menahu dan menyuruhnya untuk bersabar. Apalagi Alam dan Maryam belum juga dikaruniai calon buah hati, hal ini membuat ibu mertuanya makin menekannya. Hingga kesabaran Maryam pun habis, dia memutuskan untuk menggugat cerai Alam.

Maryam pun memutuskan kembali ke kampung halamannya, ke keluarganya. Namun, tidak seperti yang dibayangkannya, keluarganya telah terusir dari rumah dan kampungnya. Mereka pun harus kehilangan harta benda dan menjadi pengungsi. Dan hidup tidaklah lebih mudah ketika Maryam bertemu dengan keluarganya. Baru juga menikmati kebahagiaan, karena akhirnya Maryam bertemu dengan Umar, pria yang pernah dijodohkan dengannya, yang juga sesama Ahmadiyah, takdir pun berkata lain. Keluarganya pun harus mengalami pengusiran untuk kedua kalinya, dan ini jauh lebih parah, bahkan Maryam harus menerima kenyataan ayahnya tercinta pun harus berpulang ke Yang Maha Kuasa.

Bagaimana akhir kisah Maryam? Membaca kisah ini, sebagai pembaca aku larut dengan gambaran penulis mengenai permasalahan Ahmadiyah. Penulis tidak mengarahkan untuk suatu pembenaran/kesalahan mengenai isu ini, dia membiarkan pembaca untuk berimajinasi sendiri, karena memang itulah potret kehidupan sesungguhnya...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Design By Wulansari | Blogger Theme By Black Coffee Design