Kamis, 15 Januari 2015

Resensi Novel "Friends Don't Kiss"

Penulis : Syafrina Siregar
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Terbit : Desember 2014
Tebal : 208 hlm
Available @bukupedia
Ini bukan pertama kalinya aku membaca karya penulis, setelah April Cafe dan Early, aku cukup antusias sekali saat novel “Friends Don’t Kiss” ini akan diterbitkan. Apalagi isu yang coba diangkat kali ini sangat terkait sekali dengan kehidupan baruku sebagai “seorang ibu baru”.

Kali ini, melalui “Friends Don’t Kiss” penulis mencoba mengangkat isu “breasfeeding” yang memang sekarang sedang banyak dibincangkan. Selama ini aku sudah membaca banyak buku nonfiksi tentang “breastfeeding” tetapi ini pertama kalinya aku membaca novel yang mengangkat isu itu dan buatku penulis mampu meramu isu menjadi kesatuan yang utuh dengan cerita tanpa meninggalkan esensi cerita itu sendiri.

Friends Don’t Kiss ini mengisahkan tentang kehidupan Mia Ramsy, seorang konselor laktasi. Seorang wanita single yang bergabung dalam sebuah organisasi Indonesian Breastfeeding Mothers (IBM) yang sangat konsen masalah “breastfeeding”. Sebagai seorang konselor laktasi, Mia dan teman-temannya berperan mendampingi ibu-ibu dalam proses menyusui sejak pra hingga pasca melahirkan. Hingga suatu hari Mia bertemu dengan seorang pria tampan melalui sebuah peristiwa tabrakan yang tanpa sengaja dilakukannya.

Pria itu bernama Hardian “Ryan” Subagyo, dan berawal lah ketertarikan diantara keduanya. Sosok Mia yang mungil dan berwajah perpaduan Winona Ryder dan Demi Moore versi Asia itu ternyata mengusik Ryan. Ryan baru pertama kali merasakan ketertarikan yang sangat dalam kepada seorang wanita, dan wanita itu Mia. Dan tanpa diduga Ryan untuk pertama kalinya memikirkan tentang sebuah pernikahan, sesuatu yang jauh dalam jangkauan pikiran Ryan sebelum bertemu Mia.

“Kamu sudah menghidupkan setiap kepekaan primitif dalam diriku. Sesuatu yang bahkan aku sendiri tidak bisa mengontrolnya,” ujar Ryan.
“Well, married is a lifetime commitment, isn’t it? Unless he damn sure, he’s not going to do it.”
Perlahan-lahan rasa itu tumbuh dan berkembang diantara keduanya, Ryan dibuat bertekuk lutut dihadapan sosok Mia yang idealis dan agak ceroboh.
“In case you forgot, Mia, friends don’t kiss.”
Namun, Mia tak pernah tahu siapa Ryan sesungguhnya. Mia seakan lupa menanyakan kehidupan Ryan. Mia terlalu larut dengan kehidupannya sebagai seorang konselor laktasi apalagi Mia merasa gagal mendampingi Lia, adiknya dalam proses menyusui. Ditambah saat itu konsentrasi Mia dan teman-teman IBM juga lagi terfokus dengan Prima Gold, produsen susu formula yang dianggap melanggar aturan yang berlaku terkait pemasaran susu formulanya.
“Hakikat seorang ibu adalah perjuangannya yang maksimal untuk memberikan yang terbaik. Dan ASI adalah hak setiap bayi.”
Tanpa diketahui Mia, bahwa Ryan adalah salah satu sosok di balik kesuksesan Prima Gold. Ryan pun menjadi dilema, Ryan memutuskan untuk merahasiakan identitas sesungguhnya. Dan ketika semua rahasia Ryan terbongkar bagaimana akhir kisah Mia dan Ryan? Bagaimana Mia dan Ryan menjembatani perbedaan yang ada?

Aku menikmati proses membaca novel ini. Banyak sekali info baru yang kudapatkan terkait isu “breastfeeding” ini. Sebagai pembaca, aku diajak berkenalan dengan dunia kerja Mia sebagai konselor laktasi yang membantu mendampingi para ibu menyusui (busui), banyak hal baru yang menambah wawasanku terkait IMD, proses menyusui, tantangan menyusui, teknik memerah ASI, jenis ASI, perlekatan yang begitu penting hingga masalah relaktasi.

Semua terasa pas, penulis mampu meramu isu “breastfeeding” menjadi sebuah kisah romansa yang menarik, ringan dan mengalir. Hingga tak terasa aku bisa menyelesaikan novel setebal 208 halaman ini hanya sekali duduk saja.

Tetapi tak ada gading yang tak retak, kisah romansa yang hadir diantara Mia dan Ryan tidak terlalu banyak dieksplor. Aku dibuat terpesona dan makin jatuh cinta dengan Mia-Ryan tetapi aku merasa penulis terlalu terburu-buru bahkan cepat mengakhiri cerita, sehingga terkesan “nanggung”. Apalagi menjelang klimaks, aku hanya bisa terperanjat dengan keputusan Ryan. Sebagai pembaca, aku merasa keputusan yang dibuat Ryan terlalu “berlebihan” untuk seorang pengusaha yang mempunyai aset yang jumlahnya triliun. Keputusan yang rasanya tidak mudah jika terjadi di dunia nyata, apalagi melibatkan banyak pihak. Konflik yang mungkin bisa menjadi “klimaks” novel ini menjadi hambar dan bahkan kurang dieksplor dengan baik, terkesan terburu-buru cerita sudah berakhir.

Namun, ini hanyalah sebuah fiksi, dibandingkan dengan novel-novel penulis yang sudah pernah saya baca sebelumnya, saya merasakan unsur “romance” yang lebih berasa. Semoga terus bisa menghadirkan novel yang lebih baik lagi dan terus berkarya.

Tak lupa juga aku ingin mengucapkan selamat kepada editor dan penerbit karena menerbitkan karya yang berbeda dengan isu khusus, apalagi dari segi editan yang rapi dan hampir mulus dari typo.

Sebagai penutup, novel ini kurekomendasikan untuk pembaca metropop atau kisah romance dewasa, khususnya calon ibu dan ayah yang sedang menunggu kelahiran bayinya juga ibu yang sedang menyusui biar terus semangat memberi ASI untuk si buah hati.^^

"ASI itu makanan yang bergizi dan berkalori tinggi, juga mudah dicerna. Kandungan yang terdapat di dalam ASI membantu penyerapan nutrisi, membantu perkembangan dan pertumbuhan, juga mengandung sel-sel darah putih, anti-bodi, anti-peradangan, dan zat-zat biologi aktif yang penting bagi tubuh bayi dan melindungi dari berbagai penyakit."
Resensi ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Resensi Novel FRIENDS DON'T KISS by Syafrina Siregar

1 komentar:

  1. Menurutku, keunikan tulisan dari Syafrina Siregar itu adalah pemilihan profesi untuk tokoh utamanya. Selain menarik dan jarang diangkat, juga bisa memberi wawasan dari profesi itu sendiri.

    Pertama kali baca bukunya adalah Psycho-love. Terbit tahun 2007. Profesi tokohnya menarik, psikolog. Tapi terlepas dari itu, menurutku cara bercerita dan gaya menulisnya masih kurang berkembang. Ngga total gitu. Konfliknya juga ngga menggigit. Tapi keknya yang ini beda deh. Seiring berjalannya waktu aku yakin cara bercerita penulis pun makin berkembang.

    Semoga bisa baca buku tulisan Kak Syafrina Siregar yang ini. Covernya kalem banget :))

    BalasHapus

Design By Wulansari | Blogger Theme By Black Coffee Design