Jumat, 06 Februari 2015

[Book Review] Dua Masa di Mata Fe

Judul Buku : Dua Masa di Mata Fe
Penulis : Dyah Prameswarie
Penerbit : Moka Media
Tebal : 224 Halaman
Terbit : Agustus 2014
Mei 1998, masa ketika aku genap berusia 21 tahun. Usia yang matang memang, apalagi untuk memahami kenapa api tiba-tiba datang membakar harapan dan kebahagiaan. Teriakan dan bau penderitaan itu, aku tak ingin membahasnya. Namun, satu hal, aku hanya ingin sejarah tak meminta waktu untuk mengulang kejadian yang sama. Seperti cinta dan rasa sakit.

Tapi, apa yang bisa kulakukan ketika waktu punya kuasa penuh untuk menentukan takdir? Saat anakku tiba-tiba menjadi diriku, mengalami hal yang sama, dan jatuh cinta pada orang yang berbeda warna kulit, mata, dan keyakinannya. Aku tak punya kekuatan. Namun, satu yang pasti, cerita ini membutuhkan akhir.

--------------------------

"Kompas hati tidak pernah keliru dan selalu menunjukkan belahan hati kita dengan tepat."

Ini kisah tentang Fe, seorang wanita Tionghoa yang mempunyai putri beranjak dewasa bernama Christie. Di hari specialnya, Christie mengundang teman-teman terdekatnya, salah satunya bernama Fathir. Entah kenapa sejak awal melihat Fathir, Fe menampakkan ketidaksetujuan bahkan terkesan "melarang" Christie untuk mengenal lebih dekat sosok Fathir. Ternyata ada alasan di balik itu.

Melihat Fathir, seakan membuka kisah masa lalu Fe. Masa lalunya yang pahit bertahun-tahun lalu. Sosok Fathir mengingatkannya akan sosok Raish, seorang pria yang dulu pernah begitu sangat dekat dengannya.

Layaknya kotak pandora, kehadiran Fathir membuat Fe mengenang kembali kisah perjumpaannya dengan Raish dan sejuta kenangan tentang kerusuhan Mei 1998 yang membuatnya kehilangan semuanya.

Sebagai pembaca, aku diajak Fe untuk mengenang kisah kerusuhan yang merenggut keluarganya, membuatnya menjadi yatim piatu. Suasana yang cukup mencekam dihadirkan, menjadi minoritas kala itu merupakan tantangan terberat bagi Fe dan keluarganya. Melihat rumahnya terbakar dan keluarganya dibunuh didepan matanya meninggalkan trauma yang sangat mendalam.

Untungnya Fe berhasil selamat saat kerusuhan itu, karena dia berhasil bersembunyi di bagasi mobilnya. Tapi itu tetap saja menjadi trauma berat untuknya. Hingga kemudian dia bertemu dengan sosok Raish, seorang pria yang awalnya dipikirnya sebagai malaikat penolongnya tetapi ternyata tak lebih dari salah seorang tersangka.

Fe perlahan-lahan mulai merasa nyaman dengan kehadiran Raish. Perjalanan dan interaksi mereka berdua dalam pelariannya hingga proses pengantaran Fe ke Surabaya untuk bertemu dengan keluarga ayahnya menumbuhkan bunga-bunga cinta bermekaran. Dan ketika rahasia Raish pun terkuak, apa yang terjadi????

Membaca novel ini menarik, aku begitu menikmati proses membaca novel ini. Aku seakan melihat sendiri proses kerusuhan Mei 1998 bersama kisah Fe. Kerusuhan yang begitu mencekam dan meninggalkan trauma dimana-mana khususnya kaum minoritas seperti Fe.

Sayangnya hingga akhir, aku amat sangat tidak puas dengan endingnya. Rasanya terlalu anti-klimaks, masih ada yang seakan "menggantung" dalam kisah Fe ini. Yang baru kuketahui memang sengaja disimpan oleh penulis dan dibiarkan berakhir seperti ini...

Plotnya mengalir lancar, sayangnya bagian konflik batin terkait Christie dan pasca perpisahan Fe dan Raish itu kurang dieksplor lebih jauh. Novel ini malah lebih menekankan kisah flashback kehidupan Fe saat kerusuhan Mei 1998.

Masih sering ditemui typo dan sedikit kejanggalan saat Fe dan Raish mencari alamat opa dan omanya, seharusnya itu alamat baru yang didapatkan, bukan alamat yang dikasih oleh Koh Asen, ayahnya Fe.

Overall, 3 bintang kusematkan untuk kisah hidup Fe...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Design By Wulansari | Blogger Theme By Black Coffee Design