Senin, 09 Februari 2015

[Book Review] Picture Perfect

Judul Buku : Picture Perfect
Penulis : Pradnya Paramitha
Penerbit : Plotpoint
Tebal : 284 Halaman
Terbit : Juli 2013
Available @bukupedia
Pelukis satu itu tak seperti umumnya pelukis yang pernah dikenal Sadina. Tubuhnya kurus tapi tak kerempeng. Kulitnya bersih. Rambut ikalnya sedikit panjang namun tak berantakan. Penampilannya segar dan sedap dipandang. Tapi tak hanya itu yang membuat sosok Andi Samandjaya begitu berbeda bagi Sadina. Andi juga mantan aktivis antikoruptor garis keras.

Saat ini hidup Sadina seolah sedang dijungkirbalikkan oleh fakta bahwa ayahnya masuk penjara karena korupsi. Untuk meringankan beban tanggung jawab ibunya, Sadina bekerja sebagai reporter freelance di sebuah majalah. Salah satu tugasnya adalah mewawancarai Andi Samandjaya, pelukis muda yang sedang menanjak kariernya. Perjumpaan itu membuat Sadina mengubah pandangannya tentang dunia seni yang selama ini asing baginya.

Namun ketika cinta mulai hadir, apakah Sadina siap mengungkapkan bahwa dirinya adalah anak koruptor? Sebab, kesungguhan perasaan Andi terhadap Sadina justru menciptakan kerumitan baru dalam hidup Sadina, yang sedang berjuang dengan segala tantangan tanpa kemewahan dan kemudahan yang dulu dimiliki olehnya.

--------------------------

Novel ini sederhana dari segi cerita tapi begitu sarat makna tentang kehidupan. Bahwa apa yang kita jalanin bisa saja berubah sedetik kemudian tergantung skenario yang diatas.

Ini tentang kisah Sadina Andjani Harries. Hidupnya awalnya sempurna, kaya, cantik, menarik dan bisa mendapatkan apa saja yang diinginkan dalam hidup. Kemudian musibah itu datang mengubah hidupnya 180 derajat.

Papa Sadina, Effendi Harries yang divonis bersalah karena korupsi harus menjalani hukumannya dan itu berdampak kepada seluruh aset kekayaannya disita oleh negara. Sadina dan mamanya harus menelan kenyataan pahit, semua harta yang mereka miliki sudah bukan lagi menjadi miliknya. Rumah, mobil dan semuanya menjadi kekuasaan negara. Yang tersisa hanyalah rumah tipe 21 yang sudah lama sekali tidak dihuni.

Awalnya Sadina tidak bisa menerima kehidupan barunya, Sadina menolak untuk bertemu dengan papanya hingga tidak mau melanjutkan kuliahnya lagi. Tapi melihat kegigihan mamanya yang sudah tidak muda lagi, akhirnya Sadina pun harus berpikir ulang untuk mencari pekerjaan.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Sadina bisa mendapatkan pekerjaan di sebuah majalah berkat bantuan sepupunya, Virga. Dan berawal dari pekerjaannya itulah dia bertemu dengan sosok Andi Samandjaya yang mengubah hidupnya.

Awalnya Sadina dan Andi berhubungan secara profesional. Malah awalnya Andi sangat terganggu dengan Sadina yang memberikan kesan awal kurang menyenangkan baginya, telat hampir 40menit disaat ingin mewawancarainya. Dan itu berefek ke pertemuan-pertemuan berikutnya.

Namun, perlahan-lahan hubungan mereka mencair. Walau tak terkatakan, mereka saling nyaman satu sama lain. Tapi Sadina belajar banyak hal, Sadina terlalu takut mengakui perasaannya terhadap Andi. Begitupun Andi, tidak pernah mengatakannya langsung.

Hidup Andi sebagai seniman pun benar-benar bukan seperti seniman pada umumnya. Walau Andi masih juga digambarkan sebagai seseorang yang "bebas" dan "tidak ingin terikat". Hingga dia bertemu dengan Sadina, dan mengubah pandangannya itu.

Bagaimana akhir kisah hidup Sadina? 


Membaca cerita ini mengalir lancar, ringan dan mudah ketebak. Gaya menulis yang mengalir lancar walau memang masih ada typo disana sini sepanjang proses membacanya, sama sekali tidak mengganggu dan aku masih tetap bisa menikmati kisah ini. Tak ada yang berlebihan,dan aku cukup salut dengan sosok Sadina yang bisa survive dan berusaha untuk kerja keras. Nice story =)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Design By Wulansari | Blogger Theme By Black Coffee Design