Rabu, 18 Februari 2015

[Book Review] Tiga Cara Mencinta

Judul Buku : Tiga Cara Mencinta
Penulis : Irene Dyah Respati
Penerbit : GPU
Tebal : 196 Halaman
Terbit : Juni 2014
Aliyah : Gue hamil, Jeng... dan kayaknya bukan anak Takuma.

Ajeng : Menurut gue Takuma enggak akan nyadar itu bukan anaknya.

Miyu : Kecuali kalau golongan darahnya berbeda denganmu atau Takuma-san.

Ajeng : Atau suatu saat perlu uji DNA.

Miyu : Atau... bayimu lahir berambut pirang...

Aliyah merasakan beratnya perjuangan berumah tangga dengan mualaf. Takuma suaminya bukan saja melupakan janji untuk belajar agama, tapi juga makin tak acuh dan lebih memilih menyibukkan diri dalam pekerjaan. Kala hati dan pikiran keduanya makin jarang bertemu, Aliyah pun bermain-main dengan cinta lain...untuk kemudian mendapati dirinya hamil.

Bersama dua sahabat yang baru dikenalnya, Ajeng gadis metropolis yang alergi terhadap kata “nikah” dan Miyu gadis Jepang yang lebih mirip putri Solo, Aliyah berusaha mengurai benang kusutnya. Akankah jalinan kisah di Jepang-Thailand-Indonesia ini semakin jauh memisahkan Aliyah dan Takuma, ataukah justru membukakan hati keduanya?

-----------------------------

3 orang 3 cerita, 3 kehidupan yang bertemu di persimpangan. Entah karena kesamaan keadaaan yang membuat mereka menjadi semakin dekat dan bisa bersahabat.

"Kekuatan apa yang tersimpan dalam cincin nikah? Cincin hanyalah benda bulat berlubang di tengahnya. Seperti donat. Tengahnya kosong. Kosong seperti hati. Kosong seperti otak laki-laki. Semua berlubang. Menyisakan celah untuk dimasuki.”
Aliyah, Ajeng dan Miyu, 3 orang yang bertemu tak sengaja di Festival Loy Krathong di Bangkok, Thailand. Pertemuan tak sengaja karena pertolongan Ajeng saat Aliyah hampir terpeleset saat melepaskan Krathong miliknya. Awalnya mereka hanya menertawakan peristiwa itu dan mengobrol dari hal-hal yang ringan tapi perlahan-lahan hubungan mereka mencair bahkan saling percaya untuk bercerita mengenai rahasia kehidupan mereka.

Aliyah, wanita Indonesia yang hidupnya layaknya "cinderella" berawal dari seorang pembantu yang dinikahi oleh Takuma, seorang pria Jepang yang mualaf. Bagaimana Aliyah berusaha menjembatani "cultural shock" diantara keduanya. Kesibukan Takuma yang membuat dia seakan jauh dari Aliyah membuat Aliyah sedikit tergoda dan bahkan menjalin affair dengan Je yang malah membuat dia hamil. Dan itu jelas-jelas bukan anak Takuma, suaminya.

Ajeng, wanita asal Solo yang memilih tinggal di Jakarta, dan kemudian karir membawanya untuk tinggal di Thailand. Seorang wanita yang anti-pernikahan namun akhirnya malah terjebak juga hubungan dengan Bara, dokter yang telah beristri.

Miyu, wanita Jepang yang memilih tinggal di Solo karena kecintaannya akan budaya Indonesia. Malah Miyu bisa lebih disebut wanita Solo daripada Ajeng yang asli Solo. Miyu yang juga punya perasaan khusus kepada Scott, sahabat Aliyah dan lagi-lagi telah beristri.

Kebersamaan Aliyah, Ajeng dan Miyu bak sahabat sejati, saling mendukung baik suka maupun duka. Apalagi saat Aliyah harus menelan kenyataan pahit, dia mengandung anak Je. Bersama Ajeng dan Miyu, Aliyah memikirkan cara untuk menghadapi kemelut keluarganya bersama Takuma?

Bagaimana akhir kisah mereka bertiga?

Membaca novel ini cukup menarik, diceritakan secara bergantian baik Aliyah, Ajeng dan Miyu. Sebagai pembaca, aku diajak berkenalan dengan mereka dan kehidupan percintaan mereka yang "tidak biasa-biasa saja".

Kenapa yang dilarang selalu justru membuat kita ingin melakukannya? Kenapa aku justru tidak bisa membenci orang ini, yang merayu bertubi-tubu sementara kutahu telah beristri? Kenapa benang pengikat hatiku harus datang dari dia yang tak boleh kusentuh?”
Namun, entah kenapa aku merasakan porsi yang lebih besar dari sosok Aliyah. Penulis seakan mencoba menceritakan kehidupan pernikahan Aliyah dengan Takuma, sang mualaf. Bagaimana Aliyah berusaha menjembatani perbedaan budaya diantara mereka? Kegelisahan, kekhawatiran Aliyah bahkan ketika Aliyah mulai tergoda dengan pria lain sampai dia harus menerima kenyataan mengandung bayi yang bukan anak suaminya. Disinilah konflik bergulir. Cukup mengalir.

Tapi keterbatasan halaman, membuatku merasakan banyak hal yang kurang dieksplor dengan baik, seakan sambil lewat saja. Sosok Takuma pun kurang terlalu menonjol, hanya melalui sudut pandang Aliyah saja. Tapi aku cukup senang dengan endingnya, dan banyak pelajaran tentang hidup dan pernikahan yang kupelajari. Walau memang penulis sengaja membuat kisah Ajeng dan Miyu agak "menggantung", ternyata baru kuketahui akan ada lagi lanjutannya. Semoga kisah Ajeng maupun Miyu bisa lebih dieksplor dengan baik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Design By Wulansari | Blogger Theme By Black Coffee Design