Selasa, 17 Februari 2015

[Book Review] The Wedding Plan

Judul : The Wedding Plan
Penulis : Pia Devina
Penerbit : Grasindo
Tebal : 192 Halaman
Terbit : Februari 2015
“Wanita harus menikah sebelum usia dua puluh enam tahun agar kehidupan rumah tangganya bahagia.”

Bagi seorang Gayatri Windriya, menikah tidak menjadi prioritas dalam pilihan hidupnya. Permasalahan yang timbul mungkin tidak akan menjadi sangat keruh seandainya keluarga besar tidak menjodohkan dirinya dengan seseorang.

Mahesa Bhadrika, lelaki yang sangat dibencinya di masa lalu, ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Bagaimanapun, Giya bersikeras untuk membubarkan rencana pernikahannya sendiri bersama laki-laki itu. Dia bahkan meminta Reksa untuk pura-pura menjadi kekasihnya.

Lantas… haruskah rencana pernikahan itu benar-benar karam?

----------------------------

The Wedding Plan merupakan salah satu dari seri "Wedding" yang diterbitkan oleh Grasindo. Novel ini menceritakan kisah Gayatri "Giya" Windriya. Giya yang punya karir yang cemerlang, tapi sudah memasuki "krisis umur" untuk sebuah pernikahan, sedangkan pernikahan buat seorang Giya bukan prioritas utama dalam kehidupannya sekarang. Giya tenang-tenang saja dengan keadaannya sebagai wanita single yang menginjak usia hampir 30 tahun tetapi keluarga besarnya, terutama mama papanya berkebalikan dengannya. Apalagi mamanya begitu khawatir dengan nasib putri sulungnya ini yang belum juga menikah di usianya yang cukup matang itu.

Dimulailah usaha perjodohan Giya dengan Mahesa "Badi" Badhrika, seorang pria yang sudah begitu lekat dalam kehidupan Giya. Seorang pria yang pernah menyakitinya di masa lalu yang hingga hari ini belum juga bisa dia maafkan. Tapi mama, papa dan keluarga besarnya seakan tidak peduli bahkan mengultimatum Giya untuk segera bertunangan dan menikah dengan Badi dalam beberapa bulan saja. Apalagi kenyataan dikeluarga besarnya bahwa "wanita sudah harus menikah sebelum menginjak usia 26 tahun".

Badi pun seakan tak menolak perjodohannya dengan Giya, dan dimulailah usaha penolakan demi penolakan Giya tentang rencana itu. Hingga Giya pun menyewa Reksa sebagai kekasih bayaran untuk menggagalkan pertunangannya. Namun, Badi tetap tak peduli. Badi tetap mendekati Giya walau sikap Giya jelas-jelas tidak bersahabat dengannya. Giya seakan membuat benteng pertahanan di hatinya, Giya begitu memendam rasa kebencian yang sangat mendalam untuk Badi karena peristiwa di masa lalu yang begitu membekas. Akankah Badi mampu meluluhkan hati Giya? Sanggupkah Giya berdamai dengan masa lalu dan menerima cinta Badi?

Kisah ini simple dan standar romance yang sering kubaca, alurnya begitu mudah ditebak dan cukup mengalir. Kisah ini lebih menitikberatkan ke kisah Giya pra-wedding, bagaimana Giya menyikapi rencana perjodohannya dengan Badi?

Sayangnya, karena terlalu fokus ke penolakan Giya terhadap Badi, membuat novel ini begitu "biasa" cenderung monoton, tidak ada konflik yang begitu berarti. Endingnya pun sudah bisa ketebak dari awal, untungnya Pia punya gaya menulis yang mengalir sehingga membuatku cukup betah membaca kisahnya. Walau aku berharap Pia bisa menghadirkan kisah yang jauh lebih dieksplor lagi, tidak terkesan memanjang-manjangkan cerita.

Sosok Reksa yang juga berpura-pura sebagai kekasih bayaran pun hanya terkesan lewat saja, tidak ada yang terlalu "wow" dalam novel ini. Padahal sebenarnya sosok Reksa bisa menjadikan novel ini klimaks dan lebih mengena.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Design By Wulansari | Blogger Theme By Black Coffee Design