Kamis, 12 Maret 2015

[Book Review] Denting Lara

Judul Buku : Denting Lara
Penulis : K. Fischer
Penerbit : Bhuana Sastra (BIP)
Tebal : 334 Halaman
Terbit : Januari 2015
Esa tinggal hanya dengan ibu dan pengasuhnya dari kecil. Ibunya yang hanya memikirkan dirinya sendiri, membuat Esa tak merasakan kasih sayang. Terlebih, ayahnya menikah lagi dengan wanita yang tak menginginkan "boncengan" dari suami barunya.

Di sekolah, karena beberapa kali menolak untuk diajak clubbing, Esa kehilangan sahabatnya Ia bahkan dijauhi teman-teman satu sekolah.

Saat Esa merasa sendirian, sosok Erik datang menemani hari-hari Esa. Dengan Erik, Esa menemukan jati dirinya. Namun saat Esa mulai mencintai Erik, ibunya malah melakukan hal di luar dugaannya. Keadaan semakin parah ketika ayahnya tahu Esa menjalin hubungan dengan lelaki yang berusia nyaris dua kali umur anaknya.

---------------------------------

"Sa, kadang kala, perpisahan bukan untuk selamanya. Aku yakin, selama kita masih hidup, jika cinta kita benar murni, jalan hidup kita akan menyatukan kita lagi. Saat ini kita memang harus berpisah, tapi hanya untuk mempersiapkan diri, agar suatu hari kita dapat bertemu lagi, di situasi yang jauh lebih baik lagi."
Ini tentang kisah Esa, seorang remaja dengan segala problematika kehidupannya pasca orangtuanya bercerai. Ya, novel ini mencoba mengangkat tentang anak "broken home". Esa yang masih relatif muda harus menelan pahit bahwa papa dan mamanya tidak lagi bersama. Mamanya yang sibuk dengan dunianya sendiri, malah tidak peduli dengan kehadirannya, bahkan untuk uang belanja pun mamanya seakan tidak peduli. Di lain sisi, papa Esa pun memilih untuk meninggalkannya tanpa membawa dirinya, karena istri barunya tidak menghendaki dia.

Hidupnya tak sama lagi, kehilangan kasih sayang orangtua membuat Esa menjadi pribadi yang tangguh, Esa tidak terpuruk dengan kondisinya, Esa malah peduli dan memikirkan nasib Bi Titin, pengasuhnya sejak kecil. Walaupun papanya masih terus membiayai hidupnya, tetapi yang Esa butuhkan bukan hanya uang.

Hingga kehadiran Erik, sang penyewa paviliun didepan rumahnya mengubah hidupnya menjadi lebih berwarna. Perbedaan usia yang begitu terpaut jauh tidak menghalangi kuncup-kuncup cinta bermekaran dihati keduanya. Namun, sayangnya kebahagiaan tak terasa lama, mamanya ternyata tertarik dengan sosok Erik, bahkan ingin menjadikan Erik sebagai suaminya.

Esa dan Erik pun seakan tak terpisahkan, mereka saling melengkapi. Tetapi lama kelamaan papanya pun tahu kalau Esa berpacaran dengan Erik, pria yang usianya hampir 2x lipat usianya. Jelas-jelas papanya melarang dan tidak merestui.

"Bukan cinta kita yang salah, tapi waktunya. Yang kita miliki adalah cinta yang murni, tetapi pada waktu yang keliru."
Dimulailah pertengkaran demi pertengkaran dengan papanya dan puncaknya Esa memilih untuk kabur dari rumah, bahkan nekat untuk kawin lari dengan Erik. Esa yang masih labil langsung saja memilih Erik yang jelas-jelas sayang padanya, bukan papanya yang tidak pernah ada untuknya. Namun, lain lagi bagi Erik. Erik yang jauh lebih dewasa, malah memilih untuk menenangkan Esa dari kemelut keluarganya ini. Apalagi ujian akhir Esa sudah semakin dekat, Erik tidak ingin menghancurkan semuanya.
"Esa, aku ingin kita menikah karena kamu benar siap, bukan kawin lari, karena ribut dengan orangtua. Kamu akan menyesal kalau kamu menikah karena alasan yang salah. Aku pun benar-benar nggak dapat melihat diriku sendiri di depan cermin, kalau harga yang harus kamu bayar adalah kehilangan orangtuamu, kehilangan hakmu sebagai anak mereka. Bukan itu yang aku inginkan untukmu. Aku pun yakin, di hati kecilmu, itu juga bukan yang kamu mau."
Akhirnya Esa pun menerima keputusan Erik, tetapi setelah hari itu Erik benar-benar pindah dari paviliun yang disewanya bahkan menghilang sejauh-jauhnya dari radar Esa. Esa yang mencari Erik pun tidak pernah lagi menemukannya, seakan Erik begitu saja menghilang tanpa jejak.

Bagaimana akhir kisah Esa? Sanggupkah dia berdamai dan memaafkan orangtuanya? Bagaimana dengan cintanya kepada Erik?

Ah, membaca novel ini sangat mengalir. Aku bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Esa, bagaimana dia harus menerima kondisi keluarganya yang tidak utuh lagi, orang tua yang seharusnya mendukung, memberi perhatian dan kasih sayang malah tak ada. Jadi belajar banyak dari sosok Esa yang bisa "survive" dengan hidupnya.

Aku suka dengan gaya bercerita penulis, mengurai konflik satu demi satu hingga muncullah sosok Erik. Sayangnya aku sulit membayangkan seperti apa Erik, hingga membuat Esa bisa jatuh cinta. Mungkin karena penulis tidak terlalu mengeksplor ke deskripsi fisik, penulis lebih fokus ke cerita yang ada.

Diceritakan dengan alur flashback, kita diajak berkenalan dengan metamorfosis Esa dari remaja menjadi anak kuliahan, bagaimana dia menyikapi kehidupannya, perpisahan kedua orangtuanya hingga cinta pertamanya kepada Erik.

Endingnya pun sudah bisa kutebak sejak awal, walau memang setelah perpisahan dengan Erik di hari itu aku merasakan ceritanya menjadi agak "turun" ritmenya tetapi aku cukup bernafas lega dengan akhir cerita ini.

3,5 bintang kusematkan untuk kisah Esa dan Erik^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Design By Wulansari | Blogger Theme By Black Coffee Design