Selasa, 17 Maret 2015

[Book Review] Februari: Ecstasy

Judul Buku : Februari : Ecstasy
Penulis : Devania Annesya, Ari Keling, Ayu Welirang
Penerbit : Grasindo
Tebal : 212 Halaman
Terbit : Februari 2015
Mayang:

Napasku memburu. Bayangan Nugie mati di tanganku mulai berputar. Bagaimana aku bisa membunuh dia? Aku tumbuh besar bersamanya. Aku mencintainya.

Nugie:

Joya terus menatapku. Kutatap dia jauh lebih dalam, bila perlu sampai menembus hatinya. Biar aku bisa menetap di sana. Ya, aku harus bisa menguasai Joya.

Joya:

Kubakar ujung lintingan yang lebih besar, kuisap dalam-dalam asap organik itu. Sejenak aku lupa akan Nugie dan Mayang. Kalau aku boleh meminta, aku ingin melupa semuanya.

***
Mayang, Nugie dan Joya dicurigai sebagai pembunuh Sukoco, Sang Pemimpin Geng dan juga merupakan ayah Nugie. Si kembar Mayang dan Joya dibesarkan Sukoco setelah pria itu membunuh kedua orang tua mereka 12 tahun lalu. Tapi semua orang juga tahu, Nugie sangat membenci ayahnya sendiri. Hanya ada satu pemimpin yang boleh menguasai seluruh rusun. Mereka bertiga hanya punya dua pilihan, membunuh atau terbunuh.

-----------------------------

"Aku cuma baru sadar, dalam hidup, yang abadi itu cinta...dan luka."-Nugie
Februari selalu identik dengan bulan yang penuh cinta. Namun, tidak bagi si kembar Mayang dan Joya. Februari punya warna yang berbeda dan ceritanya sendiri, karena Februari selalu mengingatkan akan peristiwa pembunuhan orangtua mereka oleh Sukoco, geng pengedar narkoba. Namun, Sukoco tidak ikut membunuh Mayang maupun Joya, malah memutuskan untuk membesarkan keduanya.

Mayang pun menjadi anak kesayangan Sukoco, bagi Mayang Sukoco layaknya ayah yang dia inginkan, karena selama ini orangtuanya lebih memerhatikan Joya daripadanya. Inilah yang membuat Mayang sungguh membenci Joya, apalagi seiring bertambah usia mereka, Mayang pun jatuh cinta kepada Nugie, putra kandung Sukoco. Tetapi sayangnya, Mayang harus bertepuk sebelah tangan, lagi dan lagi Nugie lebih memilih Joya.

Hubungan Mayang, Joya dan Nugie bagaikan mengurai benang kusut. Saling cinta dan saling memendam kebencian. Hingga hari itu, di Bulan Februari kesekian, Sukoco dikabarkan meninggal dunia. Kematian Sukoco bagaikan bom waktu yang siap meledak. Apalagi kematian Sukoco diduga karena dibunuh, dan tersangkanya adalah salah satu dari mereka. Karena Mayang, Nugie maupun Joya sama-sama dicurigai punya motif tersendiri.

Kematian Sukoco membuka peluang bagi siapa yang berhak menjadi penguasa selanjutnya.Mereka tidak bisa menolak takdir, mereka harus bisa mempertahankan diri, memilih untuk membunuh atau dibunuh?

Diceritakan dari 3 sudut pandang, baik Mayang, Joya maupun Nugie kita akan diajak berkenalan dan menyelami apa yang sesungguhnya terjadi. 3 orang yang sebenarnya menjadi korban dari semuanya...

Membaca novel ini cukup membuat adrenalin sedikit meninggi, aku bisa membayangkan adegan demi adegan yang terjadi begitu cepat, layaknya menonton film action, bagaimana mereka berusaha saling mempertahankan diri sebelum dibunuh oleh satu sama lain.

Alur yang digunakan pun cukup cepat, tak terasa aku sudah mau sampai dipenghujung cerita saja. Dan ini mungkin seleraku pribadi, aku menginginkan akhir yang berbeda dari kisah ini, sayangnya....
Kalau kamu penyuka kisah thriller-romance, bisa mencoba membaca novel ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Design By Wulansari | Blogger Theme By Black Coffee Design