Sabtu, 07 Maret 2015

[Book Review] Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik Untuk Bunuh Diri

Judul Buku : Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik Untuk Bunuh Diri
Penulis : Bernard Batubara
Penerbit : Gagas Media
Tebal : 300 Halaman
Terbit : Desember 2014
“Aku tidak bersepakat dengan banyak hal, kau tahu. Kecuali, kalau kau bilang bahwa jatuh cinta adalah cara terbaik untuk bunuh diri.

Untuk hal itu, aku setuju.”

Kebanyakan orang lebih senang menceritakan sisi manis dari cinta.

Sedikit sekali yang mampu berterus terang mengakui

dan mengisahkan sisi gelap cintanya.

Padahal, meski tak diinginkan, selalu ada keresahan

yang tersembunyi dalam cinta.

Bukankah kisah cinta selalu begitu?

Di balik hangat pelukan dan panasnya rindu antara dua orang,

selalu tersimpan bagian muram dan tak nyaman.

Sementara, setiap orang menginginkan cinta yang tenang-tenang saja.

Cinta adalah manis. Cinta adalah terang. Cinta adalah putih.

Cinta adalah senyum. Cinta adalah tawa.

Sayangnya, cinta tak sekadar manis. Cinta tak sekadar terang.

Cinta tak melulu tentang senyum dan tawa. Ini kisah cinta yang sedikit berbeda.

Masih beranikah kau untuk jatuh cinta?

-----------------------------

"Ibuku bilang, jika kau belum gila karena cinta, kau masih memberi hatimu setengah-setengah. Dan, kau tak hanya akan gagal mendapatkan cinta, tapi hal-hal yang lain juga dalam hidupmu jika kau memberi hati setengah-setengah."
“Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik Untuk Bunuh Diri” merupakan kumpulan buku berisi 15 cerita pendek yang masih menceritakan tentang CINTA. Namun, 15 cerita terpilih yang ada dalam buku ini mencoba mengupas tentang cinta dari segi lain. Jika biasanya kita membaca cerita cinta yang manis, kali ini penulis mencoba memberi warna yang berbeda dari kumpulan ceritanya. Kita akan dibawa ke sisi gelap, pahit, bahkan cenderung suram dan mematikan dalam novel ini.

Dari penampilan covernya dengan warna “ungu” dan judulnya yang begitu “menggoda”, kamu akan disuguhkan pengalaman membaca kisah cinta yang berbeda dari buku-buku yang mungkin telah kamu baca sebelumnya. Nuansa lokal yang dibangun, kali ini penulis banyak mengambil setting lokasi di Kalimantan, juga sudah memberikan warna tersendiri.

Buku ini memuat 15 cerita pendek terpilih, antara lain:

1. Hamidah Tak Boleh Keluar Rumah
2. Nyanyian Kuntilanak
3. Seorang Perempuan di Loftus Road
4. Hujan Sudah Berhenti
5. Bayi di Tepi Sungai Kayu Are
6. Seribu Matahari Untuk Ariyani
7. Langkahan
8. Meriam Beranak
9. Lukisan Nyai Ontosoroh
10. Bayang-Bayang Masa Lalu
11. Orang Yang Paling Mencintaimu
12. Nyctophilia
13. Bulu Mata Seorang Perempuan
14. Menjelang Kematian Mustafa
15. Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik Untuk Bunuh Diri

Dibuka dengan cerpen “Hamidah Tak Boleh Keluar Rumah” dan diakhiri dengan “Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik Untuk Bunuh Diri”, aku dibuat larut dengan cerita yang disajikan oleh penulis, hingga tak terasa sudah sampai di halaman terakhir. Aku dibuat terkesima dengan “twist” yang disajikan di setiap akhir ceritanya, sesuatu yang sungguh diluar pikiranku. Walau memang buatku masih ada saja yang mengganjal dan terkesan anti-klimaks, tetapi aku cukup menikmati buku ini. Jika kamu ingin membaca cerita cinta dari sudut pandang yang berbeda, kamu bisa mencoba membaca buku ini dan rasakan sendiri sensasinya. Kamu akan dibawa ke dalam dunia cinta ala Bernard Batubara yang penuh aura mistis, nuansa lokal, gelap, kepedihan dan pada akhirnya mematikan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Design By Wulansari | Blogger Theme By Black Coffee Design