Jumat, 27 Maret 2015

[Book Review] Pre Wedding in Chaos

Judul Buku : Pre Wedding in Chaos
Penulis : Elsa Puspita
Penerbit : Bentang Pustaka
Tebal : 286 Halaman
Terbit : Januari 2015
"Ayo kita menikah."

What? Apa sih yang barusan kuucapkan? Mengajak Raga menikah? Padahal menikah bukan prioritasku. Tapi, rasanya jahat sekali kalau aku menarik ucapanku. Jelas-jelas aku melihat binar bahagia dari wajahnya, setelah beribu kali kutolak lamarannya.

Damn! But life must go on, Aria. Ketimbang kuping panas mendengar sindiran Mami dan ocehan Citra yang sudah kebelet nikah, tapi tidak dibolehkan Mami karena kakak perempuannya ini belum menikah. Mari, akhiri saja drama-desakan-menikah itu dengan menuruti keinginan mereka.

Namun, kekacauan itu terjadilah. Konsep acara, undangan, pakaian, catering. Ditambah perbedaan prinsip antara aku dan Raga. OMG, ke mana saja aku selama ini? Sudah pacaran sembilan tahun tapi belum mengenalnya luar dalam.

Belum menikah saja sudah begini, bagaimana besok setelah tinggal serumah dan seumur hidup?

------------------
“Nyatuin dua kepala itu nggak pernah gampang, makanya kompromi harus selalu di barisan terdepan dalam hal apapun.”

Novel ini mengisahkan tentang Aria dan Raga, sepasang kekasih yang telah menjalin hubungan selama 9 tahun. Kisah hubungan mereka yang telah lama terjalin itu tidak membuat mereka langsung berniat untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih serius, terutama Aria. Menikah bagi Aria bukanlah prioritas utama dalam hidupnya, hingga ketika orang-orang terdekatnya mulai terus mendesaknya untuk menikah, Aria tidak punya pilihan lain. Apalagi adiknya, Citra yang ingin menikah tidak diperbolehkan untuk melangkahi Aria.

Aria pun secara impulsif memutuskan untuk mengakhiri segala sindiran dan desakan dari keluarganya, dengan mengiyakan untuk menikah dengan Raga. Seharusnya semua berakhir baik-baik saja, apalagi mereka telah saling mengenal cukup lama dan menjalin kisah hubungan yang tidak singkat.  Sosok Raga pun merupakan sosok calon suami dan menantu idaman, yang sulit untuk ditolak.

Dan dimulailah segala persiapan pernikahan Aria dan Raga yang tidak mudah. Konsep acara, undangan, catering hingga prinsip tentang pernikahan yang ternyata berbeda membuat semua menjadi semakin kacau. Aria yang termasuk wanita yang cukup keras kepala dengan segala prinsip-prinsip yang tidak masuk akal malah membuat rencana pernikahan mereka di ujung tanduk. Apalagi keinginan Aria untuk menikah tanpa kehadiran buah hati, yang tentunya sangat berbeda dengan keinginan Raga.
“Bagaimana mungkin bisa membangun rumah tangga kalau pandangan ke depan saja tidak sama?”
Akhirnya, baik Aria dan Raga harus kembali merenung apakah ingin melanjutkan segala rencana pernikahan ini atau harus mengakhiri semuanya? 
Ah, aku benar-benar dibuat larut dengan kisah pasangan Aria dan Raga ini. Aku dibuat terkejut dengan ending yang ditawarkan. Emosiku dibuat naik turun selama membaca novel ini, dan aku berharap akan menemukan ending seperti yang kubayangkan, ternyata.....

Membaca novel ini membuatku sadar bahwa lamanya hubungan tidak membuat kita bisa langsung saling mengerti satu sama lain, apalagi untuk berkomitmen menikah. Karena menikah itu mencakup 2 kepala dan ada kompromi di dalamnya.

Akhirnya, aku merekomendasikan buku ini bagi kamu yang menyukai kisah romance, khususnya bagi pasangan yang sedang berencana untuk menikah, semoga terhibur dan bisa mengambil hikmah dari kisah Aria dan Raga.
“Saat sebuah hubungan berakhir, saat itulah kita dibuat ingat bagaimana semua itu bermula”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Design By Wulansari | Blogger Theme By Black Coffee Design