Rabu, 01 April 2015

[Book Review] Honey

Judul Buku : Honey
Penulis : Mi Rae
Penerbit : GPU
Tebal : 208 Halaman
Terbit : Maret 2015
Lulus dari University of Bologna Italia, Dorotea memutuskan pulang untuk menemani ayahnya dan meneruskan usaha madu yang dikelola sang ayah. Dorotea pun menjadi pewaris peternakan lebah Piccolina Honey di Lembang. Hidup Dorotea yang tenang mendadak terguncang, ketika seorang pria tidak dikenal tewas jadi korban tabrak lari tidak jauh dari tokonya.

Kasus tabrak lari itu membawa Dorotea berkenalan dengan Ken, polisi yang menyamar. Ken mencurigai ada sindikat narkoba yang menggunakan Piccolina Honey sebagai samaran operasi terselubung mereka. Tidak terima usaha yang diwarisinya dituduh sebagai antek sindikat narkoba, Dorotea pun terpaksa bekerja sama dengan Ken untuk mengungkapkan kebenaran.

Upaya mereka ternyata membawa Dorotea semakin dekat dengan Ken, yang awalnya ia anggap cuma polisi bermodal wajah tampan dan bertubuh besar. Namun, ketika marabahaya menyeret Dorotea dalam bahaya, gadis itu tahu cintanya pada Ken tidak bertepuk sebelah tangan.

------------------

Ini bukan pertama kalinya aku membaca karya Mi Rae, dan setelah menamatkan Honey aku mendapatkan kesimpulan yang sama bahwa Mi Rae selalu menjadikan polisi sebagai salah satu tokoh dalam novelnya.

Kali ini, Mi Rae mencoba mengambil setting di Lembang, di sebuah peternakan madu "Piccolina Honey". Aku begitu dimanjakan imajinasinya dengan setting tempat ini, jadi ingin sekali ikut mencicipi madu yang di Piccolina bisa diolah dengan berbagai macam bentuk.

Sayangnya, aku kebingungan dengan ide cerita yang ditawarkan oleh Mi Rae. Mi Rae seakan tidak fokus mau kemana kisah ini dibawa, seakan ceritanya semua serba nanggung, tidak ada kejelasan lebih lanjut.

Padahal sejak awal aku cukup tertarik membaca sinopsisnya dan membayangkan akan ada konflik yang benar-benar klimaks, karena melibatkan sindikat narkoba dan intel.

Honey bercerita mengenai Dorotea, anak dari pemilik Peternakan "Piccolina Honey". Awalnya semua terasa baik-baik saja, usahanya berkembang pesat. Hingga hari itu tiba-tiba ada kecelakaan tabrak lari didepan peternakannya. Kejadian yang membuatnya kaget sekaligus bertanya-tanya ada apa sesungguhnya. Apalagi ternyata tidak berhenti disitu, kemudian muncul seseorang bernama Ken, yang mengaku sebagai intel kepolisian dan mengungkap fakta bahwa selama ini Peternakannya menjadi sarang sindikat narkoba terbesar di Lembang.

Hal ini membuat Dorotea kaget dan tidak percaya, apalagi selama ini dia cukup mengenal pegawainya. Dorotea dan Ken pun akhirnya bertaruh bahwa semua yang dikatakan Ken itu hanyalah kabar burung saja, bukan hal yang sesungguhnya. Sayangnya perlahan-lahan Dorotea pun mulai percaya bahwa memang telah terjadi sesuatu di peternakannya, apalagi kejadian-kejadian selanjutnya malah ternyata cukup membahayakan dirinya, apalagi tiba-tiba datang ancaman untuknya. Apa yang sesungguhnya terjadi?

Ah, sampai disini aku membayangkan akan ada adegan-adegan action saat mengungkap siapa yang terlibat dengan kasus sindikat narkoba. Terutama saat adegan Ken dan Dorotea di villa kerja Ken, saat mereka akhirnya tahu siapa yang berkhianat, ternyata hanya berakhir begitu saja. Novel ini menjadi kurang nendang, terkesan terburu-buru mengakhiri cerita. Hanya begitu saja, tidak ada titik klimaksnya sama sekali.

Tiba-tiba langsung saja beralih ke hubungan Dorotea dan Ken yang ternyata saling jatuh cinta, tetapi entah kenapa aku tidak begitu merasakan chemistrynya, semua terasa cepat jadi berasa serba nanggung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Design By Wulansari | Blogger Theme By Black Coffee Design