Senin, 27 April 2015

[Book Review] Not A Perfect Wedding

Raina Winatama:
Di hari pernikahanku, aku kehilangan mempelaiku. Bukan karena dia melarikan diri. Tapi dia pergi untuk selamanya.

Prakarsa Dwi Rahardi :
Di hari pernikahanku, aku kehilangan mempelaiku. Bukan karena dia melarikan diri. Tapi aku harus pergi untuk selamanya.

Pramudya Eka Rahardi :
Di hari pernikahan adikku, aku harus menjadi mempelai laki-laki. Menjalankan sebuah pernikahan yang harusnya dilakukan oleh adikku, Prakarsa Dwi Rahardi.

---------------

Bagaimana perasaanmu jika ternyata orang yang menikahimu bukanlah pria yang kamu cintai? Bahkan sekalipun dia adalah kakak dari pria yang kamu cintai tetapi dia hanyalah orang asing bagimu. Itulah yang menjadi premis dalam kisah ini.
Raina begitu kaget saat hari pernikahannya ternyata pria yang berhadapan dengan papanya dan mengucapkan ikrar ijab kabul bukanlah Raka, kekasihnya. Dimana sesungguhnya Raka? Apa yang sesungguhnya terjadi? Mengapa malah Pram yang sekarang resmi menjadi suaminya? Mengapa dia harus mengalami semua ini?

Itu semua yang sedang bermain di pikiran Raina. Raina begitu kaget karena ternyata pria yang dinikahinya bukanlah Raka melainkan Pram. Padahal hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu olehnya. Hari dimana dia dan Raka telah berjanji untuk mengikrarkan diri dalam ikatan sebuah pernikahan.

Ternyata takdir berkata lain. Kecelakaan yang menimpa Raka sehari sebelum hari pernikahan mereka membuat Raka harus pergi selama-lamanya. Hal yang baru diketahui oleh Raina setelah ijab kabulnya dengan Pram, kakak lelaki Raka.

Ini sungguh mengejutkan dan Raina berharap ini semua hanyalah mimpi buruk. Rasanya baru kemarin dia mengobrol bersama Raka ternyata Raka sudah pergi selamanya meninggalkannya. Meninggalkan dirinya untuk menerima kenyataan bahwa dia telah terikat pernikahan dengan Pram.

Awalnya Raina ingin menolak pernikahannya dengan Pram. Raina pun menjadi amat sangat marah kepada keluarganya karena membiarkan semua ini terjadi. Tetapi Pram begitu teguh dengan keyakinan dan janjinya kepada Raka. Pram telah berjanji untuk menjaga Raina.

Dimulailah kehidupan pernikahan Raina dan Pram yang bukan karena cinta. Hanya berawal dari sebuah janji terhadap Raka. Janji untuk selalu menjaga Raina. Tetapi perlahan-lahan hubungan mereka pun semakin mencair. Mereka mulai saling bisa menerima satu sama lain. Pram ternyata sosok pria dewasa yang begitu sabar menghadapi Raina yang manja dan kadang-kadang egois. Perlahan-lahan CINTA pun hadir diantara keduanya. Namun, tetap saja mereka terlalu gengsi untuk mengakui.

Kemudian datang sosok masa lalu Pram, Sashi wanita yang pernah sangat dicintai oleh Pram yang membuatnya begitu patah hati. Sashi yang mengharapkan bisa kembali kepada Pram. Pram pun mulai terusik dengan kehadiran Sashi. Dan mulai berbohong kepada Raina. Raina pun tidak yakin dengan perasaan Pram terhadapnya. Malah meminta untuk bercerai. Bagaimana akhir kisah mereka? Sanggupkah mereka bertahan dalam pernikahan mereka?

Premis cerita ini menarik, tentang calon suami pengganti. Sebagai debut, penulis cukup mampu membuat ceritanya mengalir. Aku bisa merasakan perlahan-lahan chemistry diantara Raina dan Pram terbangun. Raina dan Pram bagaikan 2 kutub yang saling berbeda tetapi bisa saling melengkapi. Kadang-kadang aku dibuat gregetan dengan sikap Raina yang egois dan manja.

Melalui kisah Raina dan Pram, sebagai pembaca aku jadi tahu bahwa tidak ada pernikahan yang sempurna. Masing-masing pasangan harus mampu bertahan dan saling mendukung dalam membangun fondasi pernikahan, tidak cukup 1 pihak saja. Tidak hanya butuh cinta, tetapi juga kesabaran, pengertian dan kesetiaan akan janji pernikahan itu sendiri.

Walau memang masih kutemukan typo dan penempatan tanda baca yang tidak sesuai, aku masih tetap menikmati kisah ini. Semua elemen dalam novel ini begitu saling terkait. Kehadiran tokoh-tokoh pendukung, seperti Arman dan Pasha kakak lelaki Raina pun menjadikan novel ini jauh lebih menarik. Interaksi mereka begitu dalam sehingga aku pun membayangkan begitu beruntungnya Raina memiliki kakak yang sangat mencintainya.

Endingnya tentunya sesuatu yang sudah kuduga sejak awal. Tidak dipaksakan dan memang itulah takdir...Sampai di akhir cerita, aku malah berharap penulis bisa membuat cerita lainnya khusus untuk Arman, Pasha dan Dilla.^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Design By Wulansari | Blogger Theme By Black Coffee Design