Senin, 20 April 2015

[Book Review] Sylvia's Letters

Judul Buku : Sylvia's Letters
Penulis : Miranda Malonka
Penerbit : GPU
Tebal : 200 Halaman
Terbit : April 2015
Ada surat-surat yang takkan pernah dikirim. Ada surat-surat yang telah dikirim dan mungkin tak pernah dibaca penerimanya.

Hidup mengajari Sylvia tentang obsesi. Persahabatan mengajarinya tentang masalah. Dan Sylvia yakin semua orang bisa diselamatkan dari masalah hidup mereka.

Hingga ia bertemu dengan Anggara, yang mengajarinya tentang cinta yang melepaskan ikatan. Dan untuk pertama kalinya Sylvia menyadari bahwa ia tidak bisa menjadi penyelamat semua orang.

Terkadang peraturan keselamatan tidak lagi berlaku ketika berkaitan dengan obsesi dan cinta.

--------------------------

"Mungkin, orang paling masokistik di dunia adalah orang yang masih berani mencintai walaupun hatinya tergores-gores dalam."
Wow, aku suka banget YA lokal ini. Rasanya ini salah satu novel YA Lokal terbaik dari lini penerbit ini yang aku benar-benar dibuat larut dengan kisahnya. 200an halaman hanya cukup beberapa jam saja sudah selesai kubaca.

Ini tentang kisah Sylvia, gadis remaja yang suka menulis surat-surat untuk seseorang, tepatnya untuk seorang cowok bernama Anggara, yang biasa dipanggilnya Gara. Surat-surat yang tak pernah berani dikirimnya. Dalam surat-suratnya itulah Sylvia mencurahkan semua perasaannya, semua hal tentang kehidupannya, semua mimpi dan juga tentang orang-orang terdekatnya.

Sylvia mulai menulis surat-surat itu sejak dia jatuh cinta pada pandangan pertama pada Gara saat pementasan kelas. Entah kenapa sosok Gara dengan aktingnya begitu sangat melekat dihatinya, membuat Sylvia menjadi terobsesi terhadap Gara. Sylvia pun menjadi seorang stalker, selalu mengamati semua aktivitas Gara. Hanya melalui surat-suratnya lah Sylvia mampu bercerita.

Sylvia pun sangat menyukai melukis, namun lukisannya lebih ke abstrak. Tiap dia merasakan sesuatu Sylvia akan melukis dengan warna-warna yang dia tentukan sendiri untuk menggambarkan perasaannya. Warna yang tentunya berbeda dengan arti warna pada umumnya.

Melalui surat-surat Sylvia, kita diajak menyelami kehidupan Sylvia sebagai seorang remaja yang berbeda dengan remaja seusianya. Sylvia seakan berusaha lebih keras untuk memikirkan nasib teman-temannya, sayangnya hal ini tidak berlaku bagi diri Sylvia sendiri. Sylvia yang selalu bisa diandalkan teman-temannya harus takluk dengan obsesi terpendamnya untuk menjadi "kurus". Sesuatu yang perlahan-lahan malah berubah menjadi menakutkan bahkan membahayakan dirinya sendiri.

Tetapi apakah Sylvia berhenti? TIDAK, Sylvia bisa menahan lapar bahkan tidak makan berhari-hari hanya untuk melihat timbangan yang sesuai dengan yang dia harapkan. Namun, keinginan ini sempat pupus saat Sylvia bisa mulai dekat dengan Gara, tidak hanya sekedar pemuja rahasia melalui surat-surat saja. Kebersamaan bersama Gara yang disebutnya "Teman Tapi Saling Suka" membuatnya mau kembali makan. Tapi ini tidak bertahan lama, kebahagiaannya terenggut kembali. Gara tiba-tiba pindah ke luar negeri dan membuat Sylvia patah hati.

Sylvia pun mulai kembali menyiksa dirinya untuk diet ketat bahkan memutuskan untuk tidak makan berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Ketika semuanya terasa  benar bagi Sylvia, hal yang selama ini dia takutkan pun kembali datang menyergap? Bagaimana akhir kisah Sylvia???

Membaca novel ini sungguh menarik, format bercerita yang tidak biasa, menggunakan surat-surat dan email, membuatku larut dengan perasaan Sylvia. Kita diajak menyelami kehidupannya juga teman-teman terdekat Sylvia. Aku dibuat gregetan dengan sosok Gara yang selama ini hanya kukenal melalui surat-surat Sylvia. Hingga akhir cerita, aku tak mampu berkata-kata lagi, hanya bisa  prihatin...

Kalau kamu butuh cerita remaja yang tidak ringan dan ada "isi"nya, terutama buat kamu yang terobsesi dengan kata "kurus", kamu wajib baca buku ini^^

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Design By Wulansari | Blogger Theme By Black Coffee Design