Senin, 22 Juni 2015

[Blog Tour] Tuhan Untuk Jemima : Interview With Indah Hanaco


Hai, terima kasih sudah berkunjung di Ky's Book Journal...

Alhamdulilah, terima kasih sekali kuucapkan untuk Mba Indah Hanaco yang memberikanku kesempatan untuk pertama kali mengadakan Blog Tour untuk buku terbarunya "Tuhan Untuk Jemima". Walau memang sempat ada salah paham dikit, akhirnya Blog Tour ini bisa terlaksana juga^^ Semoga berkenan ya, Mba...

Sejak mengenal Mba Indah Hanaco pertama kali waktu membaca "Mendua", aku benar-benar dibuat jatuh cinta dengan tulisannya. Dan aku begitu bahagia sekali, karena aku bisa lumayan bisa mengenal dirinya.

Nah, buat kamu yang belum pernah membaca bukunya, ada pepatah "Tak Kenal Maka Tak Sayang, simak yuk sedikit profil singkat tentang Indah Hanaco:

Indah Hanaco penyuka novel-novel historical romance. Tergila-gila pada segala hal yang berbau tahun 90-an. Juga sederet serial kriminal dan film-film romance. Mendadak mellow hanya karena gerimis. Kolektor majalah dan buku-buku resep yang jarang dimanfaatkan.

Fans sejati Michael Schumacher yang memilih berhenti menonton balapana Formula Satu begitu sang idola pensiun. Tidak bisa lepas dari kopi meski sangat tidak menyukai kopi. 

Indah Hanaco pernah bekerja kantoran, tetapi benar-benar merasa menemukan "dunia" saat menjadi penulis. Cita-cita saat ini adalah pindah dan menetap di Yogyakarta, keliling Eropa serta menghabiskan sisa hidup untuk menulis.


Indah Hanaco telah menerbitkan 23 novel, beberapa buku anak dan parenting. Novel-novel yang telah terbit antara lain: Mendua (GagasMedia), Black Angel (Stiletto), Jungkir Balik Dunia Mel (Bentang Belia), Loves in Insa-Dong (Rumah Ide), Cinta Tanpa Jeda (Bukune), The Curse of Beauty (Rumah Kreasi), Love Letter (Caesar), Everything for You (Bentang Pustaka), Meragu (Bukune), Cinta 4 Sisi (Grasindo),The Vanilla Heart (Bentang Pustaka), Rainbow of You (Grasindo),
Beautiful Temptation (Bentang Pustaka), Run to You (GagasMedia), Les Masques (Grasindo), After Sunset (Elex Media), Crazy Little Thing Called Love (GPU), Stand by Me (Elex Media), Cinta Sehangat Pagi (GPU), My Better Half (Elex Media), A Scent of Love in London (Elex Media), Tuhan Untuk Jemima (GPU) dan Heartling (GPU).

Indah Hanaco bisa dihubungi melalui:
Facebook : Indah Hanaco

Twitter : @IndahHanaco

Mba Indah Hanaco termasuk salah satu penulis Indonesia yang cukup produktif, dalam waktu yang berdekatan mungkin kamu sering melihat karyanya yang terbit. Alhamdulilah, aku berkesempatan untuk mengajaknya berdiskusi tentang novel terbarunya ini via email (walau jujur kepengen banget pengen ketemu langsung).

Ini cuplikan wawancara singkatku dengan Indah Hanaco:

1.       Hai, Mba Indah. Lagi sibuk apa sekarang?
Halooo. Aku lagi membereskan naskah novel sekaligus mematangkan ide untuk buku anak.
2.     Boleh cerita sedikit bagaimana Mba Indah mendapatkan inspirasi menulis “Tuhan Untuk Jemima”? 
Idenya dari kondisi beberapa kerabat yang dibesarkan di keluarga dengan agama yang berbeda. Ada di antaranya yang “bingung” untuk memilih agama setelah dewasa. Diberi kebebasan penuh ternyata tidak cukup mampu membuat mereka memantapkan hati. Perjalanan spiritual berliku itu yang kemudian kurasa sangat cocok untuk ditulis. 
Cerita  ini dikombinasikan dengan ide yang sudah lama mengendap, tentang para aktivis Sea Shepherd yang berjuang menyelamatkan paus. Awalnya tidak sengaja menonton film dokumenter berjudul Whale Wars dan Viking Shores. Akhirnya malah jatuh cinta setengah mati. Buatku, perjuangan mereka sungguh luar biasa. Andai mungkin, aku sangat ingin bergabung dengan organisasi itu dan berkampanye dengan mereka.
3.     Apakah sejak awal novel ini sudah berjudul “Tuhan Untuk Jemima”? Ada kendala gak saat menulisnya?
Aku adalah penulis yang mengenaskan kalau untuk urusan judul. Nyaris tidak ada judul dariku yang disetujui editor. Tapi kali ini situasinya agak beda. “Tuhan untuk Jemima” memang sudah menjadi judul awal dan langsung di-ACC editorku tersayang. Aku bahkan lebih dulu menemukan judulnya belum mulai mencari ide cerita. 
Saat menulis, nyaris tidak ada kendala. Mungkin agak repot karena aku harus mengecek beberapa informasi dari novel “Cinta Sehangat Pagi”. Karena “Tuhan untuk Jemima” adalah sekuelnya, aku harus lebih hati-hati. Jangan sampai ada keterangan yang tidak sesuai dengan buku sebelumnya.
Juga harus bolak-balik membuka setumpuk buku travel karena sebagian novel ini mengambil seting di Selandia Baru, negeri impian yang ingin kukunjungi suatu saat nanti. Jadi sebelum penulisnya ke sana, biarlah Jemima mencicipi negeri berangin ini lebih dulu.
4.     “Tuhan Untuk Jemima” khan bukan karya pertama Mba Indah, dari semua novel yang pernah Mba Indah tulis mana sey yang punya cerita khusus saat menulisnya atau ada gak novel Mba Indah yang paling favorit? 
Semua ada cerita khusus. Tapi memang ada karya tertentu yang begitu dekat dengan hatiku dan punya keterikatan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. 
“Cinta Tanpa Jeda”, karena kisah pelecehan seksual yang dialami tokoh utamanya berdasarkan kisah nyata. 
“Black Angel”, karena pertama kalinya aku menulis jenis kehidupan yang mengejutkan hasil “kuliah” ratusan jam dari serial CSI. 
“Meragu”, ide awalnya sudah mengendap sepuluh tahun. Tokoh utamanya, Leon, kutulis berdasarkan kecintaanku pada Tao Ming She. 
“Cinta 4 Sisi”, karena novel ini bisa kuselesaikan dalam waktu 9 hari. Dan karena ide awalnya menyambar hanya setelah menonton adegan makan siang antara Sandra Bullock dan Hugh Grant di film “Two Weeks Notice”. 
“Beautiful Temptation”, karena mengambil seting penuh di kampung halamanku, Pematangsiantar. Aku juga cinta luar biasa pada nama dan tokoh utamanya, Tristan. 
“Run to You”, novel yang kutulis dengan penuh perasaan. Ini kali pertama aku menggunakan “soundtrack” saat menulis. Tiap kali mendengar lagu “Kau Ada di Mana” dari Atiek CB, aku langsung terlempar kembali pada saat menulis kisah Jenna dan Melvin ini. 
“Stand by Me”, karena aku sangat ingin mengalami kisah seperti Mya dan Ralph. Sayang, tidak kesampaian. 
“Cinta Sehangat Pagi”, karena ada penggalan kisahku di novel ini. Selma yang kadang “dilecehkan” karena pilihan busana atau warna rambut, dipetik dari pengalamanku. Karena wajahku yang dianggap “tidak islami”, aku berkali-kali menghadapi keheranan atau pertanyaan orang-orang saat mereka tahu agama yang kuanut. 
“My Better Half”, karena hatiku selalu hangat tiap kali mengingat cinta yang melibatkan Kendra dan Maxim. Ini novel pertama yang kutulis didasari kegilaan baru pada reality show. 
“A Scent of Love in London”, karena ini kali pertama aku serius menggarap naskah dengan seting luar negeri. Novel ini punya keterikatan emosi yang kental denganku. Saat menulisnya, aku benar-benar “tersedot” ke London, tempat kisah ini bergulir. Ada dua hari penuh di mana aku tidak sanggup meninggalkan laptop dan hanya menulis cerita Ivana dan Hugh. Novel ini menguras energiku dengan cara yang positif. Saat naskahnya selesai, aku butuh libur berhari-hati untuk mengembalikan energi. 
“Tuhan untuk Jemima”, karena aku akhirnya bisa menulis detail tentang kehidupan para aktivis paus di luar sana. Bagiku, ini kisah yang beda sekaligus istimewa. 
“Heartling”, karena novel ini mengangkat sisi kelam akibat dari perkosaan. Aku benci melihat banyak perempuan dieksploitasi dan direndahkan. Aku juga mau bilang, korban perkosaan tidak pernah menjalani hidup dengan mudah. Mereka dikelilingi trauma yang siap membinasakan kebahagiaan untuk selamanya. Perkosaan bukan tentang seks, melainkan tentang dominasi dan kekuasaan.
5.     Siapa inspirasi terbesar Mba Indah saat menulis novel?
Sidney Sheldon. Beliau yang bikin aku kepengin nulis lagi setelah 13 tahun hiatus. Sampai saat ini, belum menemukan penulis dengan plot luar biasa seperti Mr. Sheldon
6.     Mba Indah khan cukup produktif saat menulis novel, dalam 1 tahun bisa beberapa novel terbit. Boleh tahu gak, rahasianya bisa tetap menulis yang produktif?
Tidak ada rahasia atau mantra khusus. Aku cuma berusaha konsisten dan menulis tiap hari. Kadang naskahku ditolak atau harus dibongkar dan direvisi. Aku menghadapi semuanya dengan santai. Meski jujur, dulu aku menanggapi dua hal itu dengan panik. Sekarang, jika ditolak aku segera mengirimkan naskah itu ke penerbit lain. Jika harus merevisi, aku tidak pernah mengerjakannya lebih dari dua hari. Kecuali ada plot yang harus diubah atau karakter yang harus dibongkar. Mungkin butuh waktu lebih lama. 
Intinya, sekarang aku benar-benar menganggap kalau waktu sangat berharga. Aku pernah membuang waktuku selama 13 tahun begitu saja. Kini aku tidak mau mengulanginya. 
Sebenarnya aku tidak lebih produktif dari penulis lain. Mungkin aku cuma lebih mencintai dunia menulis dan terlalu keras kepala untuk menyerah. Detlen, kritik, atau penolakan tidak mampu membuatku kapok menulis. Ini duniaku, meski mungkin aku menemukannya terlambat. Sejak tiga tahun terakhir ini aku baru tahu kalau aku ternyata orang yang gigih dan pantang menyerah. Semua itu karena menulis.
7.     Bagaimana Mba Indah mempromosikan novel-novel Mba Indah yang kadang-kadang terbitnya berdekatan? Ada strategi khusus kah?
Aku tidak punya strategi khusus. Aku hanya berpromo di akun sosial media yang kupunya atau memasang stiker bergambar kover novelku di kaca belakang mobil. Ada teman yang dengan baik hati membuatkan book trailer. Dan baru kali ini aku menjajal blog tour. 
Ketika ada dua novel yang terbit dengan jarak berdekatan, disyukuri saja. Tidak semua penulis punya kesempatan seperti itu. Aku berusaha selalu melihat dengan kacamata positif.Aku juga tidak mau ribet karena urusan angka penjualan dan kekhawatiran lain yang di luar kuasaku. Bukan karena tidak peduli, tapi urusan seperti itu benar-benar hak prerogatifnya Tuhan.  Aku cuma harus berusaha maksimal di area yang memang mampu kulakukan. 
Fokus utamaku adalah menulis sebaik mungkin, sesuai kemampuanku. Tidak pernah punya ambisi tertentu. Tujuanku menulis adalah membahagiakan pembaca. Dan orang pertama yang wajib kubuat bahagia adalah diriku sendiri. Jika sebuah naskah tidak bisa membuatku nyaman dan hepi, maka pasti ada yang salah dengan naskah itu. Ketika seorang penulis bahagia dengan buah karyanya, maka pesannya akan sampai kepada pembaca. Mereka akan merasakan hal yang sama. Makanya, hal terpenting buatku adalah menulis dengan hati. Dengan ikhlas. Dengan cinta.
8.     Mba Indah pernah gak merasakan namanya “blank idea” buat menulis? Bagaimana caranya selama ini Mba Indah menemukan ide-ide tulisannya? 
Duluuuuuu aku pernah mengalami hal itu. Hingga aku mengikuti sebuah kursus menulis online bertahun silam. Oleh guru menulisku, aku diminta untuk memerah ide. Karena tidak selamanya ide berbaik hati menyapa dan menyodorkan dirinya di meja persembahan untuk penulis.  
Sejak itu, aku mulai rajin berburu ide. Karena terus diasah, ide bukan lagi menjadi hal keramat. Aku punya buku ide yang isinya belum terealisasi semua.
Sekarang ide bisa datang kapan saja. Saat membaca, aku kadang menemukan potongan dialog yang menjadi ide. Saat menonton film, aku sering terpesona hanya karena sepotong adegan. 
Sekadar contoh, aku lumayan suka dengan Boyzone. Personel favoritku bukan Ronan Keating, melainkan Keith Duffy. Aslinya, ada celah di gigi depan Keith. Kalau tidak salah, istilahnya diastema. Ini akhirnya jadi ide untuk novelku, tapi belum terbit. 
Intinya, hal-hal sederhana pun bisa dijadikan ide cerita. Tidak usah terjebak pada pemikiran bahwa ide novel itu harus “wah” dan “antimainstream”. Pada dasarnya, hidup ini memang mainstream, kok. Kecuali hidupnya Benjamin Button J
9.     Apa yang ingin Mba Indah sampaikan kepada pembaca saat menulis “Tuhan Untuk Jemima”?
Aku cuma mau bilang, pada akhirnya tiap manusia akan merindukan Tuhan sebagai tempatnya bersandar. Hati yang kosong tidak akan menemukan makna bahagia. 
Aku juga mau bilang, orang-orang yang berjuang untuk mempertahankan kelangsungan hidup salah satu makhluk ciptaan Tuhan, pantas mendapat respek dari kita. Mereka benar-benar mempertaruhkan nyawa secara harfiah.
Hidayah itu bisa datang dari mana saja. Ketika Tuhan memutuskan untuk meniupkan iman di dada seseorang, tidak ada yang bisa mencegahnya. Seperti Kenneth, si ateis, yang mendapatkan keteguhan hati saat melihat sahabatnya beribadah di antara keindahan pohon rimu. Atau Jemima yang mendapat tamu istimewa di saat sedang bertarung antara hidup dan mati. Hal-hal seperti itu bisa dan sering terjadi di sekitar kita. 
Satu lagi, kalam Tuhan dan sabda Rasul-Nya, tidak bertentangan dengan sains. Sains malah membenarkan apa yang sudah diberitahukan Tuhan kepada hamba-Nya. Ada beberapa bagian yang kutuliskan di sini, untuk  memenuhi sisi idealismeku.
10.  Pertanyaan terakhir, bocoran dikit dunk ada beberapa novel lagi yang akan terbit?
Ada beberapa, tapi aku belum tahu apakah semua akan terbit tahun ini atau malah tahun depan. Jadi, aku cuma bisa menunggu dengan hati berdebar. Tidak rewel bertanya kepada editor meski ada naskahku yang sudah berbilang tahun ada di tangan editor. 
Aku selalu percaya, waktu yang dipilih Tuhan adalah waktu yang terbaik.
Nah, sekian wawancara singkatku dengan Mba Indah Hanaco. Ah, aku ikut bangga banget dengan produktivitasnya. Terima kasih banyak, Mba Indah Hanaco untuk waktunya dan sukses terus menulisnya. Kutunggu selalu karya terbarumu...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Design By Wulansari | Blogger Theme By Black Coffee Design