Kamis, 09 Juli 2015

[Book Review] Take Off My Red Shoes

Judul Buku : Take Off My Red Shoes
Penulis : Nay Sharaya
Penerbit : Grasindo
Tebal : 240 Halaman
Terbit : Juni 2015
Atha
Aku hanyalah seorang gadis yang terlalu lama memendam kesunyian. Hanya dua hal yang paling kuinginkan dalam hidupku. Mendapat tempat yang sama seperti Alia, saudara kembarku. Dan mendapat perhatian dari Ares, kakakku yang sempurna. Aku tak pernah ingin menyingkirkan siapa pun.

Alia
Aku memiliki semuanya. Memiliki semua yang tak dimiliki Atha. Mama dan Ares menyayangiku lebih dari segalanya. Tapi, ada seseorang. Dia satu-satunya orang yang selalu berada di samping Atha. Apakah salah jika aku ingin memilikinya juga?

Ares
Aku menyayangi kedua adikku dengan caraku sendiri. Dengan cara yang salah. Saat aku menyadarinya, semuanya sudah terlambat. Salah satu dari mereka menempuh jalannya sendiri dan akhirnya tersesat.

Kegan
Ada seseorang yang mengacaukan pikiranku. Seorang gadis bersepatu merah yang aneh. Kau tak akan pernah tahu apa yang ada dalam pikirannya. Tapi yang kutahu, sejak awal mengenalnya, matanya tak pernah berhenti menatap Ares, kakak lelakinya yang sekaligus adalah sahabatku sendiri.

---------------------

"Karena merah selalu terlihat menarik. Selalu menonjol di manapun dia berada dan kamu nggak perlu kesulitan nemuin dia walaupun berada di tengah-tengah orang asing."
Awalnya aku tertarik membaca novel ini karena covernya yang "eye-catching" sekali, apalagi sepatu merahnya. Pas tahu novel ini terinspirasi dongeng, aku pun makin penasaran. Apalagi ini pertama kalinya, aku membaca karya penulis, sehingga aku tidak terlalu berekspektasi tinggi.

Melihat sinopsisnya, awalnya aku mikir bahwa ini hanya tentang seorang gadis yang sangat menyukai sepatu merah dan akan ada insiden cinta segitiga atau empat kah, ternyata aku salah, novel ini berhasil mengecohku, konflik utamanya malah tidak terlalu kelihatan dari segi sinopsis...

"Take Off My Red Shoes" merupakan novel yang terinspirasi dari dongeng "Sepatu Merah" karya Hans Christian Andersen. Jujur aku belum pernah mendengar dongeng tersebut, tetapi setelah membaca penggalan kisah dongeng tersebut dalam buku ini, aku bisa menyimpulkan bahwa dongeng itu punya akhir yang tidak membahagiakan bahkan menyedihkan. Untungnya hal itu berbeda dalam novel ini^^

Novel ini mengisahkan mengenai kehidupan sepasang saudari kembar, Atha dan Alia. Sejak kecil, mereka sudah hidup di panti asuhan. Mereka tumbuh bersama dan saling menyayangi, tetapi anehnya mendapatkan perlakuan yang berbeda. Hingga mereka pun berkesempatan untuk diadopsi oleh sepasang keluarga baru yang baru saja kehilangan anak gadisnya. Awalnya hanya Alia saja yang ingin diadopsi, tetapi akhirnya Atha pun ikut bersama dengan Alia mempunyai keluarga baru.

Atha sejak kecil sudah terobsesi dengan sepatu merah, karena punya pengalaman tersendiri yang membekas dihatinya. Pengalaman yang menjadikan titik awal dari semua yang terjadi dalam hidupnya. Seiring berjalannya waktu, Alia dan Atha pun tumbuh menjadi gadis remaja, anehnya perlakuan mereka tetaplah berbeda, terutama dari keluarga barunya, mama papa dan Ares, kakak angkatnya.

Alia senantiasa menjadi anak emas dan kesayangan keluarga, sedangkan Atha seakan ada dan tidak ada. Atha pun berusaha semampunya untuk membuat dia lebih terlihat, tetapi tetap saja usahanya tidak membuahkan hasil yang memuaskan. Aku dibuat larut dengan Atha, penulis sukses membuat Atha menjadi pribadi yang tak dianggap sama sekali. Aku bisa merasakan kekecewaannya dan semua perasaan yang berkecamuk dihati dan pikirannya. Sampai-sampai aku malah jengkel dengan sikap mama mereka bahkan Ares yang selalu menutup mata.

Kegan, sahabat Ares pun merasakan perbedaan perlakuan terhadap Alia dan Atha. Dan Kegan malah dibuat jatuh hati terhadap sosok Atha. Kegan benar-benar dibuat bingung dengan semuanya, apa yang sesungguhnya terjadi?

Penulis benar-benar membuat kepingan demi kepingan rahasia perlahan-lahan terkuak. Ternyata memang benar ada alasan dibalik semua sikap mama dan Ares, dan aku cukup terkejut dengannya. Penulis menjalin kisahnya dengan rapi, walau memang ada kesalahan ketik di beberapa halaman dan kadang-kadang aku harus mengulang kembali untuk mengerti mengenai siapa yang sedang bercerita, aku dibuat hanyut dengan kisah ini.

Novel ini pun mengajarkanku bahwa tidak baik mempunyai obsesi yang terlalu berlebihan, karena kadangkala sesuatu yang berlebihan itu bisa menjadi bumerang untuk kita. Seperti Atha, dengan semua obsesi akan sepatu merah dan keinginannya untuk "dianggap" oleh keluarganya, yang sulit dikendalikan yang berujung membahayakan orang lain.

Menjelang ending, aku rasa penulis terlalu cepat mengakhiri ceritanya. Sebenarnya sebagai pembaca, aku ingin tahu lebih banyak mengenai Atha yang berhasil "move on" tetapi untungnya semua berakhir bahagia tidak sama dengan akhir dongeng "Sepatu Merah"....

Overall, kalau kamu ingin membaca novel yang kompleks, tidak hanya kisah romansa biasa, kamu bisa mencoba membaca novel ini. Novel yang cukup kaya, dipadukan dengan unsur psikologi tokohnya dan dongeng masa kecil, kamu akan dibuat larut dengan kisahnya. Novel ini menjadi perkenalan yang manis untukku dan aku tidak akan ragu untuk membaca karya lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Design By Wulansari | Blogger Theme By Black Coffee Design