Kamis, 13 Agustus 2015

[Book Review] Love Fate

Judul Buku : Love Fate
Penulis : Sari Agustia
Penerbit : Elex Media
Tebal : 240 Halaman
Terbit : April 2015
Kata orang, pernikahan yang kupunya ini sempurna. Karier kami sama-sama menanjak. Sejak dua tahun lalu, kami mulai tinggal di rumah sendiri. Tak hanya itu, kami pun membekali diri kami masing-masing sebuah mobil untuk bepergian setiap harinya.

Oh ya, kami juga punya dana untuk travelling keluar negeri—setidaknya sekali dalam setahun—dan berkunjung ke rumah Ambu di Bandung atau rumah Bapak serta Ibu Mertuaku di Malang. Hanya satu yang sebenarnya sering kali mengganggu: Keturunan. Lima tahun bahtera ini berjalan, belum juga hadir si buah hati. Kami tak pernah menunda. Tak pernah juga mempermasalahkannya. Dan … tak pernah juga membicarakannya.

Bagaimana ini…. Suamiku sebenarnya mau punya anak atau tidak? Yang ke dokter hanya aku. Yang mau adopsi hanya aku. Masa hanya aku saja yang berusaha?

-------------------------

Kehidupan pasangan Tessa dan Bhas awalnya baik-baik saja, pernikahan yang telah mereka jalin selama 5 tahun pun berjalan tanpa riak berarti. Ketidakhadiran buah hati pun tidak menjadi persoalan, baik Tessa dan Bhas tidak pernah membicarakannya secara serius. Hingga pernikahan Indah, adik Bhas membuka kembali pertanyaan demi pertanyaan mengenai buah hati.

Ya, inilah awal konflik keluarga Tessa dan Bhas. Pernikahan Indah, adik Bhas hingga kemudian Indah hamil, malah mendesak posisi Tessa. Tessa pun mulai memikirkan untuk mempunyai seorang anak untuk melengkapi kehidupan pernikahannya. Sayangnya, Bhas suaminya seakan tidak peduli dan respek terhadap niat Tessa. Tessa seakan yang berusaha sendiri, konsultasi ke dokter pun harus dijalaninya sendiri tanpa ditemani Bhas.

Hingga kemudian Tessa bertemu dengan Esme, teman seperjuangan yang juga punya masalah yang sama, belum dikaruniai buah hati. Tessa pun bertemu dengan sosok Kanti, OB dikantornya. Berawal dari Kanti pula, opsi untuk adopsi anak menjadi alternatif pilihan Tessa.

Namun, Bhas tetap tidak bergeming. Bhas tidak mau diajak konsultasi ke dokter bahkan tidak juga mengiyakan untuk adopsi. Tessa pun dibuat gregetan dengan sikapnya, akhirnya Bhas pun mengalah mau diajak berkonsultasi setelah desakan demi desakan Tessa.

Ketidakhadiran seorang anak pun menjadi pemicu masalah demi masalah yang terjadi diantara pasangan ini. Ternyata komunikasi yang kurang diantara mereka malah makin memperumit semuanya.

"Setiap orang punya masalah sendiri-sendiri. Punya cara masing-masing juga untuk menyelesaikannya. Tak perlu menghakimi karena kita tidak tahu mereka seperti apa."
Membaca novel ini sungguh mengalir. Premis yang diambil sudah familiar dan bahkan mungkin dekat sekali dengan kehidupan sehari-hari. Ketidakhadiran seorang anak memang menjadi momok bagi pasangan yang sudah menikah, tidak hanya dari keluarga tetapi juga lingkungan sekitarnya. Disinilah pentingnya komunikasi baik suami dan istri, mau terlibat untuk mencari solusi bersama.

Yang terpenting, tetap harus diingat bahwa keturunan itu takdir, kapan diberi itu rahasia Yang Di Atas, tidak ada yang tahu. Sebagai manusia, kita hanya bisa berusaha.

Diceritakan dari sudut pandang Tessa, aku bisa menyelami perasaannya. Penulis mampu merangkai kisahnya perlahan demi perlahan hingga aku bisa ikut merasakan apa yang terjadi. Namun, aku pun ingin sekali mengetahui dari sisi Bhas, sayangnya novel ini kurang mengeksplor bagian dari sisi Bhas. Aku benar-benar dibuat gregetan dengan sikap Bhas ini, dan cenderung menganggapnya pengecut dengan pilihan akhirnya. Kenapa setelah semua perjuangannya selama ini, malah akhirnya dia.... (ah gak mau spoiler).

Sebagai pembaca, tentunya aku berharap setelah masalah demi masalah yang hadir dalam kehidupan Bhas dan Tessa, mereka sanggup melewati badai. Sayangnya, lagi-lagi aku dibuat gigit jari dengan endingnya. Ah, jujur aku tidak rela sekali walau memang mungkin sekali-kali disuguhi ending yang sedikit berbeda juga bisa menjadi warna tersendiri.

Selamat Kak Tia buat novel debutmu, kutunggu buku baru lainnya.^^

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Design By Wulansari | Blogger Theme By Black Coffee Design