Selasa, 04 Agustus 2015

[Book Review] Segenggam Daun di Tepi La Seine

Judul Buku : Segenggam Daun di Tepi La Seine
Penulis : Wuwun Wiati
Penerbit : GPU
Tebal : 304 Halaman
Terbit : Juli 2015
Available @bukupedia
Hidup di Paris menjadi tak sama lagi sejak Ajeng menemukan sebentuk cincin di balik segenggam daun. Bahasa, makanan, dan budaya yang berbeda menjadi kesehariannya yang baru. Ajeng mulai menikmati semuanya di samping Yves tercinta.

Tapi, satu per satu masalah datang. Ajeng berkali-kali goyah akan kesiapannya menikah dengan Yves. Belum lagi godaan yang datang dari sosok flamboyan, si ganteng Alain. Sifat Alain yang antiterikat dan spontan terasa lebih sesuai bagi Ajeng. Di antara Menara Eiffel, Moulin Rouge, pantai nudis, sampai swinger club, bisakah Ajeng mengontrol dirinya dan tetap setia?

-----------------------
Paris dengan segala romantikanya selalu punya cerita sendiri. Novel ini mencoba mengupas kehidupan Ajeng yang baru pertama kali datang ke Paris. Ajeng yang memilih untuk mencoba mengenal lebih dekat kekasihnya, Yvez seorang pria Perancis. Hubungan mereka yang awalnya hanya hubungan jarak jauh, berusaha untuk didekatkan dengan keputusan Ajeng untuk sementara tinggal di Paris bersama Yvez.

Dimulailah kehidupan mereka, terutama bagi Ajeng yang belum lancar berbahasa Perancis, sesuatu yang sungguh disesali tidak diseriusinya sebelum memutuskan berangkat ke Paris. Ajeng pun akhirnya memutuskan untuk mengikuti kursus bahasa Perancis, agar bisa lebih beradaptasi dengan kehidupan barunya di Paris. Semua memang tentunya tidak mudah, apalagi kalau tinggal bersama dengan pria yang berbeda kepribadian dengannya. Perbedaan budaya, bahasa, makanan dan beberapa sifat yang saling bertolak belakang membuat hubungan mereka saling melengkapi.

Yvez yang serba teratur, penuh perhitungan, rapi harus berhadapan dengan Ajeng yang impulsif, ceroboh, tidak bisa memperhatikan detail dan selalu ingin tahu. Hubungan yang tentunya penuh warna, bagaimana mereka kompromi dan saling menyesuaikan diri. Apalagi Yvez sangat menghormati Ajeng, Yvez malah menawarkan sebuah pernikahan terhadap Ajeng, tetapi Ajeng masih ragu. Ternyata kehidupan pernikahan papa mamanya membuatnya terlalu takut untuk terikat pernikahan, Ajeng takut kejadian yang sama terulang kembali...

Ah, aku dibuat terpesona dengan ide lamaran Yvez, pria yang romantis sekali....

Ditemani dengan setting Paris dan segala hal yang tentunya baru kutemui di novel ini, membuatku cukup menikmati novel ini. Aku dibuat tercengang dengan hal-hal baru dimulai dari Moulin Rouge, pantai nudis hingga swinger club yang tentunya tabu sekali di Indonesia.


Hingga akhirnya Ajeng pun tergoda dengan kehadiran Alain, sahabat Yvez yang ternyata tertarik kepadanya. Segala rencana pernikahan yang telah disusunnya pun semakin dipertanyakan. Siapa yang akan dipilihnya? Yvez yang berbeda dengannya atau Alain yang membuatnya nyaman bercerita?

Sebagai novel debut, novel ini cukup mengalir untuk dinikmati, banyak pengetahuan baru tentang kehidupan di Paris. Kalau kamu penyuka kisah romance tentang kisah cinta berbeda bangsa dan budaya, kamu bisa mencicipi membaca novel ini.^^

Selamat Jatuh Cinta.....!!!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Design By Wulansari | Blogger Theme By Black Coffee Design