Selasa, 15 September 2015

[Book Review] Telaga Rindu

Judul Buku : Telaga Rindu
Penulis : Netty Virgiantini
Penerbit : Grasindo
Tebal : 162 Halaman
Terbit : April 2014
Setelah tiga bulan lamanya pergi tanpa kabar dan alasan yang jelas, Dipa tiba-tiba menghubungi Nala. Ia berjanji untuk datang menemui Nala di suatu tempat yang telah mengukir kenangan indah mereka berdua ketika menautkan hati.

Dalam suasana syahdu Telaga Sarangan, sepanjang hari Nala terbelenggu rasa resah dan gelisah. Menanti-nantikan saat ia dapat melihat kembali sosok yang selalu membayangi hari-harinya, dalam belitan rasa rindu yang selama ini coba diredamnya dalam diam.

Entah mengapa, tiba-tiba ada ragu yang terasa mengganggu. Menyelinap begitu saja bercampur keresahan dan kegundahan. Dalam luapan rasa suka yang sempat mencerahkan hati Nala, ada satu pertanyaan serupa firasat yang mengusik batinnya,

sampai waktu menjelang tengah malam tiba. Apakah Dipa akan menepati janjinya…?


--------------------------
"Ketika dua hati telah merasakan hal yang sama, memang tak perlu lagi dibutuhkan deretan kata-kata. Juga tak peduli lagi berapa banyak pulsa terbuang untuk sebuah komunikasi tanpa suara."
Ini memang bukan novel  pertama Mba Netty yang kubaca, tetapi jujur aku tidak ingin cepat-cepat menyelesaikan novel ini. Bukannya novel ini tidak bagus, bagus malah, tetapi sejak awal aku membaca novel ini, aku sudah membayangkan akhir yang akan kutemui, apalagi seiring proses membacaku mengarah kesana, sehingga aku rasanya tidak ingin menuju ending. Ya, aku masih berharap dugaanku salah, ternyata ah aku dibuat nyesek membaca novel ini. Endingnya....

Novel ini mengisahkan mengenai Nala dan Dipa, sepasang remaja yang memadu kasih dan akhirnya berpisah. Dipa tiba-tiba menghilang tanpa pesan, pertemuan terakhir mereka hanya saat ulangtahun ke-17 Nala yang seharusnya menjadi hari paling membahagiakan untuknya. Sweater hijau kado dari Dipa yang selalu menemani selama Dipa tidak ada.

Tiga bulan berlalu, tanpa kontak sama sekali. Dipa pergi meninggalkan sejuta pertanyaan di benak Nala, walau Nala tahu kepergian Nala akibat desas-desus keluarganya, tetapi kenapa Dipa tidak pernah cerita kepadanya. Hingga 3 bulan telah terlewati, Dipa kembali menghubunginya melalui Imron, tetangga sekaligus sahabat Dipa dan Nala. Melalui Imron juga, Nala tahu bahwa Dipa ingin bertemu dengannya.

Nala dan Dipa pun berjanji untuk bertemu di Telaga Sarangan, telaga yang merekam sejuta kenangan manis hubungan mereka. Bagaimana akhir kisah Nala dan Dipa?

Novel ini memang tidak tebal, hanya sekitar 160an halaman, tapi benar-benar menyita seluruh perhatianku. Aku dibuat hanyut dengan kisah Nala. Mba Netty mampu menggambarkan kerinduan yang mendalam Nala untuk bertemu dengan Dipa, kekasihnya. Setting Telaga Sarangan begitu memukauku, aku seakan hadir disana mengikuti jejak Nala untuk bertemu kembali dengan Dipa. Aku jadi benar-benar ingin sekali berkunjung ke Telaga Sarangan suatu hari nanti.

Bukan Mba Netty namanya jika novelnya tidak mendapatkan sentuhan khasnya. Kalau kamu sudah pernah membaca karyanya sebelumnya, kamu akan tahu sendiri. Mba Netty masih menyelipi kisah kocak persahabatan Nala dengan sahabat-sahabatnya, Bestari, Kinanti dan Palupi. Interaksi remaja ini sungguh berasa sekali, persahabatan yang indah. Aku dibuat tersenyum-senyum dengan tingkah dan gurauan-gurauan mereka. Jadi seakan bernostalgia dengan masa-masa remaja dulu.^^

Selain kisah romance dan persahabatan, kamu juga akan menemukan kehangatan sebuah keluarga. Aku bisa paham dengan kekhawatiran ibu dan bapak Nala melepas anak gadisnya walau hanya semalam saja, karena aku pun pernah berada di posisi yang sama. Bagaimana pun anak ya tetaplah seorang anak. 

Novel ini paket komplit, kisah romance yang mengharu biru, persahabatan yang kocak, suasana kekeluargaan yang hangat, juga sejumlah mitos dan kepercayaan yang hadir mewarnai kisah ini.

Overall, aku akan selalu menunggu karya-karyamu selanjutnya, Mba. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Design By Wulansari | Blogger Theme By Black Coffee Design