Senin, 21 Desember 2015

[Book Review] Rahasia Pelangi

Judul Buku : Rahasia Pelangi
Penulis : Riawany Elyta & Shabrina Ws
Penerbit : Gagas Media
Tebal : 336 Halaman
Terbit : Juni 2015

Katamu, ada pelangi setelah hujan
Kau hadir, mengulurkan tanganmu
Ajak aku melangkah, bersamamu.

Sepertimu, Anjani dan Rachel juga mencari cinta
Namun, mereka tak pernah menduga
Ternyata cinta segelap hutan di tengah malam.

Sementara bagi laki-laki itu,
Ia baru menyadari
Bahwa hidup ternyata seperti hutan.
Jika tak hati-hati, banyak ranting yang akan membuatmu luka.

Dalam gelap hutan,
Akankah pelangi terlihat sama indahnya? 

---------------------
Pertama kali melihat cover novel ini, aku sangat tertarik sekali, aku penasaran ada apa dengan gajah dan 2 orang di dalam cover novel ini. Dan jawabannya langsung bisa kudapatkan saat membaca novel ini.

Novel ini dituliskan secara duet, oleh Mba Riawany dan Shabrina. Karya yang indah dan berbeda dengan novel yang selama ini kubaca. Rasanya jarang sekali penulis memikirkan untuk memasukkan isu-isu seperti ini dalam sebuah karya fiksi, hal yang mungkin sering kita temui jika membaca buku nonfiksi.

Novel ini mencoba memotret isu lingkungan, dalam hal ini perlindungan gajah. Bagaimanapun gajah adalah salah 1 hewan yang dilindungi. Sayangnya manusia yang tamak, masih sering mencuri gading gajah, bahkan dengan teganya merampas hutan sebagai habitatnya. Alhasil, gajah pun mencari habitat baru bahkan sumber makanan mereka yang telah rusak, salah satunya dengan memasuki kampung dan rumah-rumah penduduk. Ini tentunya menimbulkan keresahan, manusia yang terganggu pasti tidak akan tinggal diam. Disinilah pentingnya sosialisasi dan pemahaman penanganan yang baik untuk mengatasi konflik gajah dan manusia ini.

Dalam novel ini, kita akan bertemu dengan 2 wanita hebat, yang sama-sama peduli dengan lingkungan. Ada Anjani, seorang mahout wanita yang mengabdikan dirinya mengurus gajah di sebuah Taman Nasional Tesso Nilo. Jujur, Tesso Nilo ini masih terasa asing di telingaku, aku lebih familiar dengan Way Kambas. Makanya aku antusias sekali karena melalui novel ini aku mendapatkan banyak informasi baru.

Selain Anjani, kita pun akan diajak berkenalan dengan Rachel, seorang aktivis lingkungan yang bekerja di Change World Organization, sebuah organisasi yang fokus dengan aksi penyelamatan lingkungan. Rachel bersama timnya diutus ke Tesso Nilo untuk meliput kegiatan perlindungan gajah.

Disinilah akhirnya Rachel dan Anjani bertemu, awalnya semua terasa baik-baik saja, namun kehadiran Rachel membuat perasaan Anjani tidak nyaman, apalagi sikap Rachel yang ramah dan friendly, mampu mencairkan Chay, salah satu mahout pria di Tesso Nilo. Tanpa diduga, Anjani merasa cemburu dengan kedekatan Chay-Rachel, apalagi Rachel dengan mudah bisa berbicara dan bahkan dekat dengan Chay.

Anjani pun akhirnya mengambil jarak terhadap Rachel, hal ini membuat Rachel bingung. Hingga suatu hari di salah satu operasi pengusiran gajah liar yang memasuki perkebunan sawit oleh Flying Squad (gajah jinak yang dilatih), Rachel terluka parah.

Rachel harus menerima kenyataan bahwa hidupnya tak sama lagi, Anjani yang merasa bahwa dia seharusnya bisa mencegah kejadian itu menjadi bersalah. Di lain sisi, konflik gajah pun makin melebar, perlu koordinasi semua pihak untuk menyelesaikan semuanya. 

Bagaimana akhir kisah Rachel dan Anjani?

Membaca novel ini sungguh menyenangkan, aku membaca novel ini selama seminggu, walau sebenarnya aku bisa menyelesaikannya hanya beberapa jam saja. Rasanya aku tidak ingin cepat-cepat menyelesaikan kisah ini, aku memilih untuk meresapi setiap bab pelan-pelan.

Begitu banyak informasi yang kudapatkan mengenai gajah dalam novel ini, dan juga profesi mahout/pawang gajah. Jujur aku sama sekali buta dengan mahout, mungkin sebagai orang awam kita akan berpikir seorang mahout hanya bertugas memberikan makan sekaligus memandikan gajah, ternyata banyak hal yang harus dilakukan oleh seorang mahout, dan butuh kesabaran ekstra untuk menghadapi gajah. 

Selain itu, sebagai pembaca aku juga mendapatkan informasi mengenai konflik gajah-manusia yang sudah menjadi isu global. Aku setuju dengan novel ini, bahwa konflik gajah-manusia ini tidak mungkin terjadi jika manusia sadar untuk tidak merusak lingkungan, bagaimana pun gajah butuh makan dan jika habitatnya dirusak otomatis dia harus mencari.

Disinilah diperlukan kesadaran dari setiap elemen untuk bisa sama-sama menjaga lingkungan, agar keseimbangan itu pun bisa terjaga dengan baik. Novel ini sukses memotret isu ini dengan sangat baik.

Novel ini juga tidak hanya menyoroti kisah tentang perlindungan gajah saja, kamu akan tetap disuguhi sebuah kisah percintaan yang manis. Tidak berlebihan dan mengena. Aku suka bagaimana cara penulis menutup kisah ini, manis sekali.

Overall, kalau kamu mencari kisah romansa yang "berbeda", berbalut isu lingkungan, aku rekomendasi buku ini untukmu.^^

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Design By Wulansari | Blogger Theme By Black Coffee Design