Rabu, 02 Desember 2015

[Book Review] Sayap-Sayap Kecil

Judul Buku : Sayap-Sayap Kecil
Penulis : Andry Setiawan
Penerbit : Inari
Tebal : 124 Halaman
Terbit : Oktober 2015

Pembaca.

Berikut fakta singkat tentang diriku:
1. Namaku Lana Wijaya
2. Ibuku suka memukul dan menyiksaku bahkan dengan kesalahan sekecil apa pun. Seperti ketika aku lupa membeli obat nyamuk.
3. Aku punya tetangga baru, cowok cakep yang tinggal di sebelah rumah.
4. Kehadiran cowok cakep tidak mengubah kenyataan bahwa aku sering pergi ke sekolah dengan bekas memar di sekujur tubuhku.
5. Doakan aku supaya bisa lulus SMA secepat mungkin dan pergi dari rumah sialan ini.

Buku ini adalah buku harianku. Aku tidak akan merahasiakannya dan membiarkan kalian untuk membaca kisah hidupku yang tidak terlalu sederhana ini. Mungkin sedikit aneh, tapi aku harap kalian bisa belajar dari aku.

-----------------------

“Memisahkan diri dari lingkar pertemanan adalah hal yang mudah, dibandingkan dengan mencari teman.” (Hal. 12)
Novel ke-2 penulis yang kubaca setelah Then I Hate You So. Novel yang cenderung tipis tetapi tema yang diangkat cukup berat. Novel ini mencoba memotret "Kekerasan terhadap anak". Isu yang memang sedang hangat akhir-akhir ini.


Membaca kisah Lana ini sungguh mengalir. Halaman yang cenderung sedikit dan gaya menulis berbentuk buku harian membuatku sebagai pembaca begitu larut terhadap kisah Lana. Lana, seorang gadis remaja yang hidup bersama dengan ibunya. Lana seharusnya menjadi seorang gadis yang bahagia, apalagi masa remaja adalah masa yang paling menyenangkan.

Sayangnya, Lana harus menerima kenyataan bahwa ibunya suka memukuli dirinya, dengan alasan yang kadang-kadang tidak jelas. Ibunya adalah seorang penari di sebuah klub, tekanan pekerjaan dan harus menghidupi dirinya dan Lana membuat ibunya sering mabuk-mabukan dan akhirnya malah melakukan pemukulan terhadap Lana, putri satu-satunya. Lana pun harus menerima sekujur tubuhnya dipenuhi lebam-lebam dan Lana tidak ingin siapa pun tahu.

Lana pun tak bisa berbuat apa-apa. Lana pun memilih mencurahkan seluruh perasaannya melalui sebuah buku harian. Lana berusaha menjaga jarak dengan teman-teman sekolahnya, karena tidak ingin teman-temannya tahu mengenai kondisinya. Apalagi sampai melaporkan perbuatan ibunya.

Bukannya Lana takut terhadap ibunya, tetapi Lana hanya mempunyai ibunya. Lana tidak ingin hidup sebatang kara. Lana bertekad untuk menyelesaikan sekolahnya dan akan meninggalkan ibunya ketika dia sudah bekerja nanti.

Hingga suatu hari, Surya hadir dalam kehidupan Lana. Surya adalah kakak kelas Lana sekaligus tetangga barunya. Surya yang misterius perlahan-lahan memasuki kehidupan Lana dan membuat Lana bisa berbagi perasaannya hingga rahasia terdalamnya tentang perbuatan ibunya. Surya pun akhirnya membuat Lana nyaman dan Lana pun menyukainya. 

Sampai kemudian ibunya melakukan pemukulan lagi terhadap Lana dan berakibat fatal. Lana pun harus memilih...Pilihan apa yang akan diambil oleh Lana? Bagaimana akhir kisahnya?

Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk membaca novel ini. Aku begitu larut dengan kisah Lana. Aku bisa merasakan apa yang dialami oleh Lana. Bagaimana pun tidak mudah menjadi Lana, apalagi Lana masih bergantung terhadap ibunya dan ibunya adalah satu-satunya orangtua yang Lana miliki. Tetapi tetap saja itu tidak membenarkan semua yang dilakukan ibunya. 

Penulis cukup sukses memotret isu kekerasan terhadap anak melalui kisah Lana. Pesan moral dalam novel ini cukup mengena dan tersampaikan dengan baik, bahwa kekerasan terhadap anak harus segera dilaporkan agar tidak ada Lana-Lana lainnya yang menjadi korban. 

Menjelang ending, aku cukup terkejut dengan twist yang dihadirkan oleh penulis. Jujur, aku tidak menyangka bahwa akan diakhiri seperti itu membuat novel ini menjadi "berbeda".

Bagi kamu yang ingin membaca novel pertama dari Penerbit Inari, aku rekomendasikan buku ini. Novel remaja yang ringan tetapi "berisi". Semoga jatuh cinta dan bisa mengambil hikmah dari kisah Lana.^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Design By Wulansari | Blogger Theme By Black Coffee Design