Kamis, 03 Desember 2015

[Book Review] What If



Judul Buku : What If
Penulis : Morra Quatro
Penerbit : Gagas Media
Tebal : 280 Halaman
Terbit : September 2015

Kamila. 

Si Anal. Pengagum Sigmund Freud. Asisten dosen ilmu sosial yang sangat detail, yang selalu menjawab tiap pertanyaan di kelas. Menurut Kamila, orang-orang, terutama pada usia muda mereka, sesungguhnya punya kehausan alami akan ilmu. Baginya, hubungannya dengan Jupiter kemarin terasa seperti mimpi, sisanya tak benar-benar nyata. 

Jupiter.

Mahasiswa tingkat dua. Penyuka basket, pemain gitar, perayu ulung. Ia telah menghadirkan Kamila di dalam hatinya sejak kali pertama pertemuan mereka di bawah langit siang. Baginya, ada sekelumit cerita yang harus ia ungkap. Tentang gadis yang ingin selalu ia antar pulang; tentang kisah yang datang bersamanya. Namun, ketika mereka tak lagi berjarak, ia menyadari ada sesuatu yang membuat segala hal di bawah langit siang itu terasa tak sama. 

WHAT IF, tentang harapan yang terhalang. Tentang kenyataan yang tak mungkin dimungkiri. Tentang hidup yang tak selalu berpihak—hingga memaksa Jupiter dan Kamila menjadi lebih kuat daripada yang mereka sadari

---------------------------

"Sejak awal, mereka perlu berbeda. Mereka memang seharusnya berbeda. Sebab ada kalanya itulah yang dibutuhkan manusia untuk menyadari seluas apa hati mereka. Itulah yang mereka butuhkan untuk tahu; sebesar apa hati sanggup mencintai."

Dibuka dengan sebuah prolog di sebuah rumah sakit yang cukup menyesakkan cerita ini bermula. Kak Morra kembali hadir dengan karya terbarunya yang kembali membuatku penasaran sejak awal. Sejak membaca Forgiven, aku sudah tahu bahwa Kak Morra sungguh piawai mengolah kata dan merangkai sebuah kisah dengan elemen "berbeda" tetapi tetap bisa dinikmati oleh pembaca. 

Seperti dalam What If, Kak Morra menghadirkan kisah Kamila dan Jupiter, dua orang yang "berbeda" yang kemudian akhirnya jatuh cinta dan memutuskan untuk bersama. Perbedaan yang ada tidak main-main, bahkan cukup sensitif sekali dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi, bukankah perbedaan itu yang menjadikan kehidupan menjadi lebih berwarna?

Kamila, seorang asisten dosen, yang terkenal dengan Si Anal. Bukan dalam arti konotasi seksual, tetapi seseorang yang sungguh detail, bertubuh mungil dan seorang muslim. Jupiter, mahasiswa tingkat 2, playboy, penyuka basket, tidak pernah serius dalam kuliah dan seorang nasrani.

Semuanya berbeda sejak mereka bertemu. Jupiter sungguh penasaran dengan sosok Kamila, dan berusaha untuk mengenal Kamila lebih dekat. Tetapi sejak awal, Kamila sudah membentengi dirinya dari pesona Jupiter, keisengan Jupiter yang meminta nomor teleponnya dijadikan sebuah tantangan bagi Kamila. Jupiter merasa tertantang mendekati Kamila, hanya untuk mendapatkan sebuah nomor telepon, Jupiter rela menghabiskan waktunya untuk menyusun sebuah essai yang ternyata menjadi salah satu konflik dalam novel ini.

Ketika akhirnya baik Kamila maupun Jupiter tak kuasa menolak rasa yang hadir diantara mereka, mereka harus menyadari bahwa semua tidak akan mudah. Perbedaan agama diantara mereka pastinya akan menjadi batu sandungan sendiri, baik dari keluarga, dan lingkungan di sekitar mereka, tidak terkecuali dari diri mereka sendiri. Bagaimana akhir kisah Kamila dan Jupiter?
"Yang paling menyakitkan dari semua perbedaan ini: bila sesuatu terjadi, misalnya pertengkaran, pembelaan itu selalu muncul; ah, nanti juga nggak bisa sama-sama, ngapain capek-capek sekarang, ini juga nggak pasti. Padahal, pikiran itulah yang sebenarnya menghentikan kita untuk berkorban banyak ke orang yang kita sayang karena kita takut terlalu sakit nanti. Karena kita pikir, kita nggak akan bisa sama-sama juga. Padahal, tentang itu, siapa yang tahu? Lalu, kita memilih orang lain dengan alasan-alasan cemen karena nggak berbeda sehingga bisa saling mengerti. Cinta macam apa itu? Cemen. Cuma karena kita nggak mau rugi. Kalau cinta ya cinta saja, kenapa nggak ambil risiko perasaan sakit yang datang bersamanya? Kenapa orang-orang begitu takut berbeda?"
Membaca karya terbaru Kak Morra ini aku sungguh larut dengan kisahnya, aku dibuat penasaran dengan perjalanan kisah Kamila dan Jupiter. Kak Morra mencoba mengangkat isu perbedaan agama ini dengan sangat baik. Ini memang bukan pertama kalinya aku membaca novel yang mengangkat tema ini, tetapi di tangan Kak Morra isu ini terasa "cantik" karena dipadukan dengan unsur politik kampus. 

Gaya menulis Kak Morra pun terasa lebih berkembang dari novel-novel sebelumnya, lebih rapi dan mengalir. Aku suka dengan pemilihan nama karakter dan bagaimana kisah ini dimulai, dari konflik kemudian kita diajak berkenalan dengan sosok para tokohnya. 

Isu perbedaan agama yang diangkat dalam novel ini juga tidak terkesan menggurui, bahkan tidak berat sebelah. Kak Morra menulis dengan seimbang, tidak terasa memihak dari kisah Kamila dan Jupiter. Kak Morra menunjukkan kepada pembaca bagaimana pun perbedaan agama akan selalu menjadi permasalahan yang sulit untuk mencari solusi terbaik, kembali kepada pilihan masing-masing pihak. Bagaimana pun setiap pilihan punya konsekuensinya masing-masing. Pertentangan dari keluarga Jupiter maupun Kamila juga terasa manusiawi, bagaimana pun orang tua tentunya ingin punya keyakinan yang sama dengan anaknya.

Aku bisa merasakan pergolakan batin Kamila yang ragu dengan hubungannya dengan Jupiter, sedangkan sungguh berbeda dengan Jupiter yang masih optimis mereka bisa melalui semua perbedaan yang ada. Disinilah Kak Morra mengakhiri kisah mereka dengan realistis. Walaupun seperti novel-novel sebelumnya, aku mungkin sama dengan pembaca lainnya banyak yang kurang menyukai ending yang dipilih. Tetapi entah kenapa, hal yang berbeda kurasakan pada What If. Aku malah menyukai kisah Kamila dan Jupiter ditutup seperti ini, memang masih akan ada pertanyaan-pertanyaan lainnya yang hadir tetapi endingnya terasa realistis dengan kisah yang mengangkat isu seperti ini. 
"Bagaimana orang bisa melawan nature? Bagaimana bisa menghindari perasaan jatuh cinta ketika mereka, kaum-kaum yang saling berbeda ini, harus berbaur dan saling mengenal?"
Cerita ini memang mengalir dengan cepat, rasanya aku masih ingin menggali lebih dalam kebersamaan Kamila dan Jupiter, persahabatan Jupiter dengan sahabatnya Fin dan Steven, keluarga Kamila dan Jupiter yang menjadi elemen yang tak kalah penting dalam novel ini. 

Bagian favoritku dalam novel ini adalah saat pertemuan pertama Kamila dan Jupiter, adegannya sungguh memorable banget, bagaimana sebuah celetukan Kamila "Oh, God" malah dilanjutkan dengan Jupiter menjadi sebuah lagu. Percakapan yang akhirnya tercipta hingga Jupiter iseng meminta nomor telepon Kamila yang sama sekali tidak dianggapnya itu. 

Overall, Kak Morra cukup sukses mengeksekusi kisah mengenai perbedaan agama ini dengan cukup baik, dipadukan dengan unsur politik kampus cerita ini menjadi lebih berwarna. Kak Morra berhasil menyelipkan kekhasan tulisannya di setiap novelnya yang tidak dimiliki oleh penulis lainnya. 

Novel ini mengajarkan bahwa bagaimana pun dalam kehidupan, kita akan sering bersinggungan dengan perbedaan, tidak terkecuali dalam menjalin hubungan dengan seseorang. Novel yang indah dan menghangatkan hati. Tidak hanya tentang cinta, tetapi juga persahabatan, keluarga dan pilihan.
"Hidup sudah menghantarkan mereka ke titik ini. Kaum-kaum yang berbeda ini, yang seperti sepasang rel kereta dalam satu rentang perjalanan, mereka akan saling berdampingan. Bersama, beriringan, tetapi sampai kapan pun tak akan pernah bersatu. Bila pun pernah, persilangan itu mungkin akan membawa perjalanan mereka ke titik yang saling menjauh."
Kalau kamu mencari sebuah kisah romance tentang cinta terlarang, aku rekomendasikan novel ini untukmu. Semoga jatuh cinta dengan kisah Kamila-Jupiter :)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Design By Wulansari | Blogger Theme By Black Coffee Design