Minggu, 20 Desember 2015

[RESENSI] PULANG - TERE LIYE



Judul Buku : Pulang
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Republika
Tebal : x + 400 hal
Terbit : Cetakan I (September 2015)











"Aku tahu sekarang, lebih banyak luka di hati bapakku dibanding di tubuhnya. Juga mamakku, lebih banyak tangis di hati Mamak dibanding di matanya."

Sebuah kisah tentang perjalanan pulang, melalui pertarungan demi pertarungan, untuk memeluk erat semua kebencian dan rasa sakit."

------------------------------

Siapa yang tak kenal dengan Tere Liye? Penulis yang cukup produktif dalam menulis dan menerbitkan buku. Bahkan karya-karyanya selalu menjadi best seller dan dicetak ulang berkali-kali. Novel yang kubaca ini memang adalah cetakan pertama, tetapi menurut info saat ini novel ini sudah mencapai cetakan kesepuluh. LUAR BIASA.

Novel ini mengisahkan kehidupan BUJANG, seorang remaja 15 tahun yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Bujang hidup bersama bapak dan mamaknya di sebuah desa, di pedalaman Sumatera, yang biasa dipanggil talang. Suatu hari kedatangan para pemburu babi hutan ke kampungnya mengubah hidupnya. Para pemburu itu datang untuk memburu babi hutan yang telah meresahkan masyarakat.

Salah satu pemburu babi hutan, sekaligus sahabat lama bapaknya, Tauke Muda pun akhirnya meminta kepada orangtua Bujang untuk membawanya ke kota, untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Mamak bujang tentunya menolak, apalagi bujang adalah anak satu-satunya, tetapi Bapak Bujang harus menepati janjinya bertahun-tahun lalu dan akhirnya dengan berat hati Mamak Bujang pun melepas kepergian Bujang dengan sejumlah nasehat yang harus dipegang teguh Bujang:
“Kau boleh melupakan Mamak, kau boleh melupakan seluruh kampung ini. Melupakan seluruh didikan yang Mamak berikan. Melupakan agama yang Mamak ajarkan diam-diam jika bapak kau tidak ada di rumah. Mamak tahu kau akan jadi apa pun di kota sana. Mamak tahu, tapi apa pun yang akan kau lakukan di sana, berjanjilah Bujang, kau tidak akan makan daging babi atau daging anjing. Kau akan menjaga perutmu dari makanan haram dan kotor. Kau juga tidak akan menyentuh tuak dan segala minuman haram.”
“Berjanjilah kau akan menjaga perutmu dari semua itu, Bujang. Agar besok lusa, jika hitam seluruh hidupmu, hitam seluruh hatimu, kau tetap punya satu titik putih, dan semoga itu berguna.” (hlm. 24)
Tauke Muda ternyata bukanlah pemburu babi hutan biasa, hari itu juga Bujang resmi menjadi bagian dari keluarga Tong. Awalnya Bujang pikir dia akan menjadi salah satu tukang pukul Keluarga Tong, ternyata tidak sama sekali. Tauke Muda yang membawanya punya rencana lain yang jauh lebih besar. Dia malah menginginkan Bujang belajar dan meraih pendidikan setinggi-tingginya, untuk itu dia memanggil Frans untuk mengajari Bujang.

20 tahun kemudian Bujang telah bermetamorfosis menjadi Si Babi Hutan, tukang jagal nomor 1 sekaligus yang akan menyelesaikan konflik yang tidak terselesaikan dalam Keluarga Tong. Tak ada yang menyangka, Bujang yang dulu bukan siapa-siapa bisa berubah menjadi seseorang yang paling ditakuti, cukup dengan menyebut namanya saja, semua orang pasti akan ketakutan.

Bagaimana akhir kisah Bujang? Akankah dia PULANG?

Membaca novel "Pulang" ini memberikan sensasi membaca yang seru dan menegangkan. Awalnya aku pikir aku akan disuguhkan dengan sebuah kisah perjalanan si tokoh utama yang akan pulang kembali ke rumah/kampung halamannya tetapi ternyata makna pulang itu lebih luas dan bermakna.

Ini beberapa hal yang membuat novel ini menjadi menarik:

COVER
Melihat cover novel ini saja sudah menggugah rasa penasaranku, warna hijau yang sederhana tetapi ada semacam robekan yang berisi "matahari terbit", ternyata "matahari terbit" disini punya makna sendiri dan baru akan kamu ketahui jika membaca sendiri novel ini.

TEMA

Dari segi tema, Tere Liye kembali membuktikan dirinya sebagai penulis serba bisa. Tere Liye membuktikan bahwa dirinya bisa menulis serangkaian cerita dengan berbagai genre. Melalui Pulang, kita akan disuguhkan kisah perjalanan kehidupan seorang tokoh utama yang berbalut unsur ekonomi-politik. Mungkin bagi pembaca yang sudah pernah membaca Negeri Para Bedebah dan Negeri di Ujung Tanduk, akan merasakan nuansa yang sama saat membaca novel ini.

Dalam novel ini kita akan dikenalkan dengan istilah Shadow Economy, untuk orang awam sepertiku istilah ini terasa asing sekali. Tetapi jangan khawatir, Tere Liye mampu memasukkan isu Shadow Economy ini dengan sangat baik, sehingga pembaca tidak akan merasa bingung, malah pengetahuan pembaca bertambah dan mungkin akan bertanya-tanya apakah Shadow Economy ini representasi kehidupan nyata atau sekedar fiksi saja?

PENOKOHAN/KARAKTER

Novel ini cukup tebal dan terdiri dari 25 bab, cukup banyak tokoh yang ada dalam novel ini. Tidak hanya Bujang, bapak, mamak, Tauke Muda yang telah menjadi Tauke Besar, ada tokoh-tokoh lain yang mengiringi perjalanan kehidupan Bujang. Ada guru-guru terbaik Bujang yang mengajari Bujang berbagai hal, yaitu Frans, Salonga dan Guru Bushi. Ada juga anggota keluarga Tong lainnya seperti Kopong, Basyir dan Parwez serta tim terbaik atau orang kepercayaan Bujang, si kembar Yuki dan Kiko serta White. Uniknya, walaupun novel ini banyak sekali tokoh yang akan kita jumpai, tokoh-tokoh ini hadir bukan sekedar tempelan saja. Tokoh ini punya peranannya masing-masing yang sangat mempengaruhi jalannya cerita. Tere Liye sukses membuat novel ini menjadi sebuah karya yang layak untuk dinikmati.

Dari sekian banyak tokoh dalam novel ini, tokoh favoritku adalah BUJANG atau SI BABI HUTAN. Walau mungkin ada sebagian pembaca yang menganggap bahwa Bujang adalah sosok yang terlalu sempurna dan rasanya sulit ada di dunia nyata, tetapi membaca novel ini, aku malah merasa Bujang tidak sempurna. Bujang memang genius, bisa meraih 2 master sekaligus hanya dalam waktu relatif singkat, punya ide-ide out of the box, menguasai beladiri, menembak sekaligus kepandaian samurai, serta bisa mengalahkan atlet olimpiade lari. Tapi semua itu didapatkannya bukan serta merta, perlu usaha, kerja keras dan latihan berulang kali. Hal ini membuktikan kalau bakat tetap harus diasah, jika tidak diasah bakat itu tidak akan berarti apa-apa. 

BAHASA
Dalam novel ini kita akan disuguhkan bahasa yang mudah dimengerti. Tere Liye membuktikan bahwa tidak perlu bahasa yang rumit atau puitis untuk membuat suatu novel layak untuk dinikmati. Memang akan ditemui beberapa istilah baru dan terasa asing, tapi jangan khawatir sama sekali tidak akan mengganggumu.

SUDUT PANDANG
Novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama, Bujang. Kelebihan penggunaan sudut pandang ini, sebagai pembaca kita akan jauh lebih mengenal sosok Bujang dan interaksinya dengan orang di sekitarnya. Sayangnya, dalam novel ini ada beberapa adegan yang memang tidak memungkinkan jika diceritakan dengan sudut pandang orang pertama, salah satunya seperti saat adegan penyerbuan Bujang, Togar dan White ke perusahaan yang sedang dikuasai oleh sang pengkhianat. Rasanya tidak memungkinkan jika Bujang bisa menceritakan adegan yang terjadi padanya sekaligus yang dialami Togar maupun White.

ALUR

Novel ini menggunakan alur maju dan mundur, baik masa lalu dan masa kini. Kita tidak akan kebingungan sama sekali, malah akan semakin penasaran dengan kisah ini. Masa lalu dan masa kini saling terjalin rapi dan saling terkait, membuatku sebagai pembaca bisa menyusun keping demi keping puzzle kehidupan Bujang, dan akan selalu ada twist-twist tak terduga yang membuat kisah ini semakin menarik.

Seperti adegan pengkhianatan, aku sama sekali tidak terkejut dengan sang pengkhianat sesungguhnya. Aku malah tertarik mengetahui alasan kenapa dia bisa berkhianat.

PESAN MORAL
Yang selalu kusuka dari novel Tere Liye adalah tulisannya selalu inspiratif dan menyelipkan pesan-pesan sederhana tentang kehidupan, tidak terkesan menggurui tapi mengena di hati. Dalam novel ini kita akan belajar banyak hal, mengenai kesetiaan, cinta sejati, berdamai dengan diri sendiri, hingga makna Pulang itu sendiri.

Rasanya memang resensi ini tidak akan terlalu detail mengungkapkan semuanya, karena terlalu banyak hal menarik dalam novel ini. Namun, alangkah lebih baiknya jika kamu membaca sendiri novel ini karena sensasi membacanya tentulah berbeda satu dengan yang lain.

Overall, novel ini bisa dibaca siapa saja, baik remaja hingga dewasa, semoga bisa mengambil hikmah dari kisah ini. Novel ini kurekomendasikan untuk kamu yang masih ragu dan menyimpan banyak pertanyaan tentang kehidupan, siapa tahu bisa menemukan jawabannya dalam novel ini.

5 bintang kusematkan untuk Si Babi Hutan...
"Jangan dilawan semua hari-hari menyakitkan. Jangan pernah kau lawan. Karena kau pasti kalah. Mau semuak apa pun kau dengan hari-hari itu, matahari akan tetap terbit indah seperti yang kita lihat sekarang. Mau sejijik apa pun kau dengan hari-hari itu, matahari akan tetap memenuhi janjinya, terbit dan terbit lagi tanpa peduli apa perasaanmu. Kau keliru sekali jika berusaha melawannya, membencinya, itu tidak pernah menyelesaikan masalah."

1 komentar:

  1. jangan lupa mampir ke website aku yaaa :)
    Disana ada tips dan trick untuk para pengguna smartphone hehe


    Zapplerepair Apple dan Smarphone specialist
    telp: 087788855868
    website: http://indonesia.zapplerepair.com/

    TIPS DAN TRICK UNTUK PENGGUNA SMARTPHONE

    BalasHapus

Design By Wulansari | Blogger Theme By Black Coffee Design