Kamis, 28 Januari 2016

[Book Review] DAYLIGHT

Judul Buku : Daylight
Penulis : Robin Wijaya
Penerbit : Elex Media
Tebal : 296 Halaman
Terbit : Desember 2015

Bandung 

Sebuah wujud dari mimpi. Satu pesan masuk. Gabriel dinyatakan lolos pada audisi tahap awal sebuah kompetisi memasak yang selama ini merupakan impiannya. 

Batam 

Sebuah pemakaman. Satu panggilan telepon. Mantan istri Gabriel dikabarkan tewas dalam sebuah kecelakaan, dan meninggalkan si kecil Kate, anak hasil pernikahan mereka dulu. Seketika Gabriel harus memilih; mengejar mimpi atau mengambil kembali perannya sebagai ayah.

Jakarta 

Sebuah kompetisi. Kekacauan terjadi. Gabriel mengambil kesempatannya untuk mengejar mimpi dan meninggalkan Kate bersama Amanda, kekasihnya, selama mengikuti kompetisi di Jakarta. Hingga kekacauan itu terjadi dan dia menyesali keputusan yang telah diambilnya.

---------------------
Aku sudah lama menjadi pembaca setia karya Koh Robin, aku selalu suka bagaimana Koh Robin mengeksekusi ceritanya dan yang jelas gaya bahasanya puitis. Koh Robin pun kembali hadir dengan novel terbarunya, Daylight. Kalau kamu sudah membaca Nightfall sebelumnya, kamu pasti akan tahu bahwa Daylight ini merupakan spin-off dari Nightfall. 

Daylight ini mencoba mengangkat kisah Gabriel, kakak Nathalie tokoh utama di Nightfall ,sang pemilik The Cushy Cafe. Sejak membaca Nightfall, aku sudah berharap sekali Gabriel ini bisa punya bukunya sendiri, dan Koh Robin akhirnya mampu menghadirkan kisah Gabriel yang sudah kutunggu-kutunggu itu.

Gabriel awalnya hanya seorang pemilik The Cushy Cafe. Gabriel telah bercerai dengan Lily, mantan istrinya dan dikaruniai seorang putri kecil bernama Katarina, yang biasa dipanggil Kate. Kate tinggal bersama Lily, sedangkan Gabriel melanjutkan hidupnya sendiri bersama The Cushy Cafe.

Gabriel pun mulai membuka hatinya kepada sosok Amanda, seorang guru TK yang dulunya menjadi pelanggan The Cushy Cafe. Berkat dorongan Amanda dan Natalie, Gabriel pun memberanikan diri untuk keluar dari zona nyamannya. Gabriel pun memutuskan untuk mengikuti audisi sebuah kompetisi memasak, karena Gabriel sangat mencintai dunia memasak.

Akhirnya, Gabriel berhasil melaluinya. Sebuah pesan masuk mengabarkan bahwa Gabriel lolos tahap awal kompetesi memasak dan dipanggil untuk mengikuti tahap selanjutnya. Disaat yang sama, sebuah kabar yang cukup mengagetkan datang begitu saja dari Lily, mantan istrinya.

Lily, mantan istrinya dikabarkan tewas akibat kecelakaan, meninggalkan Kate seorang diri. Sebagai seorang ayah, tentunya Gabriel tidak tinggal diam, Gabriel pun mengambil alih tanggungjawab, bagaimana pun Kate adalah putri kandungnya, dan Gabriel ingin Kate berada disisinya sekarang setelah hari-hari dimana mereka harus terpisah karena perceraiannya dengan Lily.

Gabriel berada diantara 2 pilihan, meneruskan untuk mengikuti audisi dan meninggalkan Kate atau melepas mimpinya untuk menjadi seorang chef profesional? Bagaimana akhir kisah Gabriel?

Aku cukup menikmati membaca kisah Gabriel ini, bagaimana akhirnya Gabriel terjebak diantara 2 pilihan, Kate anaknya atau impiannya untuk menjadi seorang chef profesional melalui suatu ajang kontes memasak. Kegalauan itu mampu dieksekusi dengan cukup baik, bagaimana pun Gabriel pastinya serba salah, dua-duanya sama pentingnya.

Untungnya Gabriel memiliki kekasih seperti Amanda, yang akhirnya menawarkan sebuah pertolongan untuk menemani sementara Kate selama Gabriel mengikuti kontes memasak tersebut. Sayangnya ketika impian itu sudah semakin dekat dan di depan mata, Gabriel pun harus berada di persimpangan, Kate menghilang sedangkan dia sudah terikat dalam sebuah kompetisi, mana yang harus dipilihnya?

Jika memilih Kate, dia harus melepas mimpinya karena sudah ada aturan yang sangat ketat selama kompetisi tidak boleh keluar dari karantina, sedangkan jika tetap bertahan dalam kompetisi Kate sangat membutuhkannya. Disinilah Gabriel harus memilih dan apapun pilihannya itu pasti yang terbaik.

Membaca novel ini mengingatkanku akan sebuah acara kompetisi memasak yang dulunya sering kutonton di salah satu stasiun TV. Suasana yang dibangun sama mendebarkannya. Aku jadi bisa mengetahui bahwa bagaimana pun sebuah kompetisi tetaplah kompetisi, semua orang pasti punya misi untuk menang, bagaimana caranya itu tergantung pribadi masing-masing.

Aku jadi mengetahui banyak soal dunia memasak, Koh Robin sukses mengeksusi mengenai kompetisi memasak yang diikuti oleh Gabriel dengan sangat baik dan cukup detail. Aku dibuat cukup berdebar-debar dengan apa yang akan selanjutnya terjadi, siapa pemenang dari kompetisi itu. Aku merasakan interaksi Gabriel dengan teman-temannya sesama peserta juga cukup menarik, mengalir dan berasa sekali.

Aku juga suka dengan tema keluarga yang coba diangkat oleh Koh Robin dalam novel ini, bagaimana Kate yang sudah lama tidak pernah tinggal bersama Gabriel, akhirnya harus tinggal bersama satu-satunya orang tua yang dimilikinya. Bagaimana mereka saling menyesuaikan diri. Sosok Kate juga digambarkan cukup baik, putri kecil yang sungguh menyenangkan dan manis.

Sayangnya, aku tidak merasakan chemistry antara Gabriel dan Amanda. Hubungan mereka terasa datar dan kaku sekali, padahal mereka berdua adalah sepasang kekasih. Padahal Koh Robin biasanya cukup jago sekali mengeksekusi kisah cinta seperti ini dengan gaya bahasanya yang cukup puitis, yang membuatku jatuh cinta dengan karyanya. Aku yakin Koh Robin bisa lebih daripada ini. 

Tetapi dibalik semua itu, aku salut dengan Koh Robin mampu menghadirkan sebuah novel yang menghangatkan hati. Novel yang kembali mengingatkan kita akan arti keluarga dan cinta, membuatku sebagai pembaca menyadari bahwa setiap pilihan pasti menghadirkan risiko dan ada kalanya pengorbanan juga dibutuhkan. 

Selamat jatuh cinta dengan kisah Gabriel.^^

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Design By Wulansari | Blogger Theme By Black Coffee Design