Selasa, 19 Januari 2016

[Book Review] Eksistensi Rasa

Judul Buku : Eksistensi Rasa
Penulis : Farah Hidayati
Penerbit : GPU
Tebal : 248 Halaman
Terbit : November 2015
Awal semester baru ini, ada yang berubah pada konstelasi pertemanan Rindu di kampus. Sahabat Rindu, Devin Jelaga Osman alias Djo, sepertinya menyimpan rahasia. Djo bahkan sempat menghilang selama empat hari tanpa memberitahukan alasannya kepada siapa pun, termasuk kepada Rindu. Dan belakangan ini, Djo sering berkeliaran di lantai tiga kampus. Ada yang membuat jantungnya berdebar di sana. Seseorang yang tidak benar-benar ia kenal. Tapi satu hal yang belum Djo ketahui, orang itu memiliki kunci dari pertanyaan penting dalam hidupnya: Siapa sebenarnya gue?


-----------------------

Setelah membaca Konstelasi Rindu, aku jatuh cinta dengan tulisan Kak Farah. Eksistensi Rasa ini akan memuaskan kerinduan pembaca yang kangen dengan kisah Rindu dan teman-temannya. Jika di Konstelasi Rindu, kita akan berkenalan dengan sosok Rindu, kehidupan barunya sebagai mahasiswi arsitektur yang tidak mudah, hubungannya dengan Langit serta persahabatan Rindu-Bening-Djo.

Di Eksistensi Rasa, sebagai pembaca kita akan diajak berkenalan dengan sosok Djo, sahabat Rindu yang sedang bingung dengan eksistensi dirinya, banyak pertanyaan dalam diri Djo yang sedang mencari jawabannya, mengenai asal usulnya serta orang tua biologis yang tak pernah dikenalnya.

Selama ini, Djo hanya tahu bahwa dia adalah anak angkat dari keluarga Osman. Seharusnya Djo bahagia karena dia sangat disayangi oleh keluarga Osman, tidak ada perbedaan walau Djo bukanlah anak kandung keluarga Osman, semua kebutuhannya selalu terpenuhi. Namun, tetap saja masih ada yang mengganjal dalam diri Djo. Djo tahu bahwa ibunya telah meninggal, tetapi dia tidak pernah tahu mengenai ayah kandungnya.
Hari ini Djo menyadari, sejarah biologis tidak begitu penting kalau kau tidak memiliki ikatan emosional dengannya. 
Hingga akhirnya takdir mengantarkan Djo menemukan jawaban dari semua pertanyaannya selama ini. Dan ternyata ini semua berkat ide Djo yang menawarkan Rindu untuk menjadi asisten Pak Musa, seorang dosen. Walaupun Pak Musa sudah mempunyai Ezra, tetapi Pak Musa tetap butuh asisten lainnya karena ternyata Ezra punya rencana lainnya...

Rindu yang butuh pekerjaan sampingan pun akhirnya melamar sebagai asisten Pak Musa, tetapi Rindu tak serta merta langsung diterima, Ezra punya standar khusus untuk menyeleksi asisten Pak Musa. Untungnya Rindu berhasil mendapatkan kesempatan itu. 

Ezra sendiri ternyata bukan orang lain dalam kehidupan Djo. Ternyata Ezra lah pria yang membuat debaran di hati Djo kian kencang, apalagi Djo dan Ezra sama-sama bertugas sebagai asisten dosen. Sejak awal Djo sudah menyadari bahwa dia berbeda, perasaan yang dirasakannya terhadap Ezra nyata, dan itu tidak bisa dirasakannya terhadap wanita mana pun, termasuk Rindu. 

Walau Eksistensi Rasa ini akan lebih banyak berisi mengenai kisah Djo, tetapi Rindu tetap punya peranan penting, karena semua proses Djo menemukan pertanyaan-pertanyaan itu selalu ada Rindu. Aku bisa merasakan persahabatan yang indah sekali antara Djo dan Rindu. Persahabatan yang saling mendukung, hingga ketika akhirnya Djo pun memutuskan untuk transfer kuliah ke Cornell University dan meninggalkan Rindu.

Aku bisa mengerti kenapa Rindu kecewa sekali. Bagaimana pun tidak mudah kehilangan orang-orang yang sangat disayangi, dimulai dari ibunya yang meninggal dunia, Langit kekasihnya yang memilih kuliah di luar negeri dan akhirnya menjalin hubungan jarak jauh dengan Rindu hingga Bening, sahabat Rindu lainnya yang akhirnya memilih untuk pindah kuliah. Tinggal Djo, satu-satunya sahabat yang dipercaya Rindu. Dan ternyata Djo pun akan pergi, tentunya sakit sekali. 

Djo pun akhirnya memilih untuk merahasiakan rencana kepindahannya itu dan memutuskan untuk mencari waktu yang tepat. Sayangnya, sebelum waktu tepat itu datang, Rindu akhirnya tahu...
"Maaf nggak datang tadi, Djo. Aku kadang memang kekanak-kanakan ya? Kamu tahu... it's just hard to be the one who's always left behind." 
"Never sorry for being you. Itu yang gue suka dari lo, Rindu Vanilla. Dan maafin gue juga ya. Lo tahu gue nggak pergi karena pengin ninggalin lo. Gue pergi karena ini sesuatu yang harus gue jalani. I need to go. For the better of me."
Djo pada akhirnya akan menemukan jawaban demi jawaban dari semua pertanyaan dalam hidupnya. Namun, sebagai pembaca masih akan ada beberapa pertanyaan yang "menggantung" yang belum terjawab dalam novel ini, seperti hubungan baru Rindu setelah putus dari Langit dan Djo pergi dan kehidupan Djo yang baru. Apalagi setelah mengintip sedikit sneak peak di belakang novel ini, malah makin membuat penasaran sekali.

Novel ini sukses diramu penulis dengan baik, YA yang menarik sekali untuk dibaca. Walau novel ini juga mengangkat isu LGBT, penulis cukup sukses mengeksekusi ceritanya hingga membuatku lebih memahami orang-orang seperti mereka.^^ Semoga tidak harus menunggu lama lagi buku ke-3nya ya, Kak Farah :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Design By Wulansari | Blogger Theme By Black Coffee Design