Senin, 18 April 2016

[Blog Tour] Sweet Disaster -------------- GIVEAWAY!!!!

Judul Buku : Sweet Disaster
Penulis : Mayya Adnan
Penerbit : Elex Media
Tebal : 296 Halaman
Terbit : Maret 2016


Dimas Arya Mahesa adalah paket lengkap sosok impian semua wanita. Atlet taekwondo, pintar dan sangat cool. Jangan lupakan pula statusnya sebagai putra tunggal pengusaha ternama di Indonesia. 

Puri Ardhyana Prameswari, si bungsu yang manja. Model iklan yang pamornya sedang naik daun. 

Perjodohan yang diatur oleh kedua orangtua mereka bagaikan bencana bagi Dimas dan menghasilkan kisah rumah tangga yang tak seindah dongeng. Satu kesalahan fatal yang dilakukan oleh Dimas melukai hati Puri, sehingga meninggalkan Dimas dan Zahra, putri mereka, menjadi pilihan terakhir untuk Puri. 

Dengan segala upaya Dimas mencoba untuk memperbaiki rumah tangganya. Bukan hanya demi Zahra, tapi juga karena ada rasa yang mulai tumbuh di dalam hatinya. Berhasilkah Dimas mengubah bencana ini menjadi akhir yang manis? 

---------------------------- 
Sama-sama punya wajah menarik, karir yang bagus dan dari keluarga yang kaya tidak membuat pernikahan Puri dan Dimas berjalan mulus. Pernikahan karena perjodohan antar keluarga membuat keduanya terikat pernikahan.

Dimas dan Puri sama-sama tidak menolak akan perjodohan keduanya. Awalnya Puri tak tahu menahu mengenai sosok Dimas, calon yang dijodohkan dengannya. Pertemuan keduanya pun tergolong bisa dihitung dengan jari, namun sejak melihat Dimas di kampusnya, Puri seakan tidak bisa berpaling, Puri terpesona dengan Dimas, calon suaminya.

Sayangnya, perasaan Puri tak berbalas. Dimas seakan membentengi dirinya dari pesona Puri. Dimas tidak ingin mengambil kesempatan menyentuh Puri walau statusnya sudah sebagai suami. Puri pun tidak hilang akal, Puri sengaja menggoda Dimas tetapi Dimas masih kuat bertahan.

Walau sudah menikah, Puri tetap menjalani kehidupan malamnya. Puri masih suka clubbing, pulang malam dan nongkrong bersama teman-temannya. Hal yang sungguh berbeda dengan kehidupan Dimas. Suatu malam, Puri pulang dalam keadaan mabuk berat dan sengaja menggoda Dimas. Dimas pun akhirnya menyerah dengan hasratnya dan akhirnya mereka pun menggenapi pernikahan mereka.

Namun, jangan berpikir setelah mereka berhubungan, hubungan mereka akan berjalan mulus. Puri akhirnya positif hamil dan tetap saja menjalani kehidupannya seperti remaja dulu. Dimas marah besar, namun menahannya karena tahu Puri sedang hamil. Namun saat Dimas menemukan Puri sedang berduaan dengan Ethan, cowok yang dekat dengannya membuat Dimas curiga, akan siapa sesungguhnya ayah kandung bayi yang dikandung Puri?

Puri yang kecewa akhirnya melahirkan bayinya dan kemudian malah memutuskan untuk pergi meninggalkan Dimas dan bayinya, Zahra. Puri tak pernah ada kabar berita hingga kemudian dia kembali lagi ke kehidupan Dimas dan Zahra setelah 5 tahun berpisah. Akankah ada kesempatan kedua untuk Dimas dan Puri merajut kisah mereka?
"A relationship is meant for two..two people to make it work and love each other..not for one person to give everything and end up hurts. It takes two to tango." 
Ini kesempatan keduaku membaca karya Mba Mayya, setelah sebelumnya aku cukup menikmati kisah Radisti di My Fiancee is A Secret Agent. Kali ini, Mba Mayya hadir dengan kisah kehidupan Dimas, sepupu Radisti.

Mengambil tema perjodohan kisah ini pun bergulir. Diceritakan dengan alur maju dipadukan dengan flashback membuatku sebagai pembaca mengerti apa yang sesungguhnya terjadi pada pasangan ini.

Dibuka dengan kembalinya Puri setelah 5 tahun menghilang dari kehidupan Dimas. Mereka tidak pernah bercerai walau mereka sudah pisah ranjang bertahun-tahun setelah Puri melahirkan dan memilih kabur ke London.

Kehadiran Puri kembali dan keinginan orangtua Puri agar Dimas dan Puri bersatu menjadi konflik dalam novel ini. Belum lagi hadirnya orang ketiga di tengah Dimas dan Puri menjadikan kisah ini menjadi semakin berwarna.

Novel ini benar-benar hanya berfokus mengenai hubungan Puri dan Dimas pasca Puri menghilang dipadukan dengan flashback kisah pernikahan mereka sebelum Puri pergi. Pasangan ini jujur membuatku sebagai pembaca gregetan sekali. Puri yang manja, egois dan masih labil dipertemukan dengan Dimas yang cuek. Yang satunya butuh diperhatikan, yang satunya lagi tidak pengertian.

Membaca novel ini membuatku mengerti bahwa keterbukaan dan komunikasi itu sangat penting. Banyak hal yang terjadi dalam novel ini karena keduanya terlalu egois dan sulit untuk berkomunikasi. Hal-hal yang sepertinya sepele, tapi karena didiamkan menjadi melebar kemana-mana.

Namun, Dimas tetaplah menjadi karakter favoritku dalam novel ini. Kehadiran Zahra, buah hatinya dengan Puri menjadikan Dimas lebih dewasa dan bijaksana. Cuma memang harus ekstra sabar menghadapi sosok suami seperti Dimas karena bukan tipe cowok yang romantis. Dia punya caranya sendiri buat mencintai pasangannya.

Overall, kamu membutuhkan kisah romansa yang ringan dan bisa menghiburmu, jangan lewatkan membaca novel ini.^^ Oiya, semoga Mba Mayya berkenan membuatkan kisah khusus tentang Pradiptha :D

--------------GIVEAWAY TIME--------------- 


Saatnya aku dan Mba Mayya Adnan mau berbagi 1 buku Sweet Disaster untuk kamu yang beruntung. Caranya gampang banget kok: 

1. Peserta harus berdomisili di wilayah Indonesia. 

2.Follow akun twitter @RizkyMirgawati dan @Mayya711 . Jangan lupa share GA ini dengan mention dan tagar #SweetDisaster ya 

3. Jawab pertanyaan di kolom komentar dengan format nama, akun twitter, domisili, link share dan jawabanmu:

"Apa reaksimu jika dijodohkan? menerima atau menolak, sertakan alasanmu ya!

4. Follow blog ini via GFC, Google+ atau email 

5. Giveaway ini dimulai hari ini sampai tanggal 24 April 2016. 

Semoga beruntung!!!!!!

46 komentar:

  1. Nama: Nur Annisa
    Twitter: @YoshikuniNhora
    Domisili: Samarinda
    Link share: https://twitter.com/YoshikuniNhora/status/722051020084252672
    "Apa reaksimu jika dijodohkan? menerima atau menolak, sertakan alasanmu ya!

    Bukan pilihan yang mudah memang. Aku tidak akan langsung menolak karena aku tau menolak suatu perjodohan itu bisa saja berakibat fatal untuk kedua keluarga. Tapi aku akan meminta waktu untuk saling mengenal satu sama lain dan menumbuhkan rasa saling cinta. Kalaupun perjodohan mendesak dan tak ada pilihan lain selain menerima, aku akan terima sekalipun tanpa rasa cinta. Aku akan berusaha mengenal dan menumbuhkan rasa cinta itu sembari membina rumah tangga. Dan aku masih percaya sih, orang tua tak akan memilihkan yang terbaik untuk anaknya, dalam hal jodoh sekalipun.

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Nama: Fitri
    Akun Twitter : @Arfidiahfitri
    Link Share: https://mobile.twitter.com/arfidiahfitri/status/722102382406963200?_e_pi_=7%2CPAGE_ID10%2C5058309583

    Reaksiku menerima , sedikit terkejut apabila aku tidak diberitahu lbh dulu dan akan sedikit tenang tp berdebar ketika aku sudah mengetahui lbh dulu.
    Dan aku akan Menerima perjodohannya , kenapa? Karna aku berusaha untuk berbakti kepada orang tua , aku berusaha meyakini apapun takdir hidupku kedepan sudah pasti itu telah tertulis sejak dulu aku dilahirkan kedunia, alasan klasik memang jika aku bilang apapun yang orang tua putuskan /pilihkan pasti adalah yg terbaik untuk anaknya. Susah dan senangnya sebuah rumah tangga itu wajar kembali kepada bagaimana kita menyikapinya dengan bijak. Bagaimana cara menyatukan dua pikiran yang berbeda untuk menjadi satu bersama orang yang belum kita pahami bagaimana sifat , sikap serta kelakuannya. Maka dari itulah gunanya komunikasi dua arah , mencoba untuk saling menghargai , mengerti dan percaya dengan tetap berkomunikasi. intinya komunikasi itu adalah cara pendekatan tarmudah baik komunikasi verbal maupun non verbal. Untuk urusan perasaan? aku percaya dan yakin bahwa kalimat "Cinta tumbuh karna terbiasa" itu benar adanya , bagaimana prosesnya kita yg menjalankannya serta jangan lupakan bahwa semua yang terjadi sampai detik kami disatukan adalah atas campur tangan Tuhan..
    itu aja , Sukses buat mbak Maya semoga diberkahi Allah SWT juga dimas dan puri akan selalu mudah dicintai oleh penggemarnya. amiiinn

    BalasHapus
  4. Nama: Diki Siswanto
    Twitter: @diki_twips
    Domisili: Masamba, Sul-sel
    Link: https://twitter.com/diki_twips/status/722215460976988160

    Tidak langsung menolak juga tidak langsung menerima. Aku harus memberi jeda sementara waktu untuk berpikir. Karena segala sesuatu yang tergesa gesa itu tidak baik. Aku akan mencoba mengenal lebih dulu, seperti apa sosok yang akan dijodohkan kepadaku. Bagaimana karakter dia dan juga agamanya. Karena dua hal ini yang paling utama menurutku. Yah meski aku tau orang tua tau yang terbaik untuk anaknya, tetapi setidaknya aku harus membuktikan sendiri, karena kedepannya aku sendiri yang akan menjalaninya--bukan orang tua.

    BalasHapus
  5. Nama=Nurlis
    Akun twitter=@talaonurlis1
    Domisili=Sumatera barat
    Link share=https://twitter.com/talaonurlis1/status/722268715782307844


    Aku akan menerima,karna sudah terlalu lelah menjalin hubungan atas keinginan sendiri yang selalu berakhir perpisahan,lagi pula saat orang menjodohkanku,tentu nya karna merasa orang yang dijodohkan dengan aku akan cocok bersamaku.

    BalasHapus
  6. Nama : Humaira
    Akun Twitter : @RaaChoco
    Domisili : Purwakarta
    Link Share : https://mobile.twitter.com/RaaChoco/status/722294676124934145?p=v


    "Apa reaksimu jika dijodohkan? menerima atau menolak, sertakan alasanmu ya!


    Aku tidak akan langsung menolak dan tidak akan langsung menerima. Orangtua tidak akan menjodohkan putrinya dengan asal, pasti banyak pertimbangan yang diambil sebelum akhirnya mereka mengatakannya padaku. Ini untuk kebahagiaan putrinya, mereka akan menyerahkan semua keputusan ada padaku dan tidak memaksanya. Aku akan memikirkannya matang-matang, sebagaimana kedua orang tuaku memikirkannya. Shalat istikharah yang pasti, meminta petunjuk Allah. Jika aku yakin, aku akan mengatakan kepada kedua orangtuaku jika aku siap. Tapi, balik lagi kepada calonnya. Jika ia pun merasa cocok dan mau dijodohkan denganku. Maka, insyaallah perjodohan tersebut dapat dilaksanakan. Namun, jika aku tidak yakin dan tidak mau. Maka perjodohan tersebut tidak akan terjadi. Mereka tidak akan memaksaku untuk menerimanya jika aku tidak ingin.

    BalasHapus
  7. Nama : Diah P
    Alamat : Bekasi
    Twitter : @She_ Spica
    Link share : https://twitter.com/She_Spica/status/722315225135878144

    Apakah kmu akan mnrima atau mnolak jk djodohkan?
    Saya akan menerima. Alasannya simpel. Karena saya gak laku2 dan karena saya percya siapapun yg ingin mnjodohkan saya pastinya sya dipilihkan dgn orng yg baik2 yg minimal sudh mreka ketahui bibit, bebet dan bobotnya. Trima kasih.

    BalasHapus
  8. Nama : Diah P
    Alamat : Bekasi
    Twitter : @She_ Spica
    Link share : https://twitter.com/She_Spica/status/722315225135878144

    Apakah kmu akan mnrima atau mnolak jk djodohkan?
    Saya akan menerima. Alasannya simpel. Karena saya gak laku2 dan karena saya percya siapapun yg ingin mnjodohkan saya pastinya sya dipilihkan dgn orng yg baik2 yg minimal sudh mreka ketahui bibit, bebet dan bobotnya. Trima kasih.

    BalasHapus
  9. Nama: Sylvia
    twitter: @sylnamira
    domisili: Depok
    Link: https://twitter.com/SylNamira/status/722316326190997504

    Jawab:

    Menerima untuk penjajakan. Kalau cocok lanjut, tidak ya sudah. Karena menolak perjodohan pernah membawa penyesalan dalam hidup saya. Saya yang menolak dijodohkan berkeras memilih pasangan sendiri, dan ternyata tidak bisa bertahan lama. Meninggalkan luka yang cukup dalam pada saya dan anak-anak. Demikian :) *kok jd curcol?*

    BalasHapus
  10. Nama: Sylvia
    twitter: @sylnamira
    domisili: Depok
    Link: https://twitter.com/SylNamira/status/722316326190997504

    Jawab:

    Menerima untuk penjajakan. Kalau cocok lanjut, tidak ya sudah. Karena menolak perjodohan pernah membawa penyesalan dalam hidup saya. Saya yang menolak dijodohkan berkeras memilih pasangan sendiri, dan ternyata tidak bisa bertahan lama. Meninggalkan luka yang cukup dalam pada saya dan anak-anak. Demikian :) *kok jd curcol?*

    BalasHapus
  11. Nama : Yanti
    Twitter : @NelyRyanti
    Domisili : Cimanggis
    Linkshare : https://twitter.com/NelyRyanti/status/722349045109264384

    Jawaban

    Ini pengalaman pribadi, saya pernah dijodohkan orangtua saya. Dan saya tidak langsung menolak atau menerima. Meskpun saya cenderung menerima, karena ini sebagai salah satu bakti anak terhadap orangtua, Dan untungnya orangtua saya,tidak terlalu memaksa, jadi dibiarkan saya mengenal pria yang dijodohkan. Dan setelah penjajakan bersama ternyata kita tidak saling cocok. Dan saya bilang baik-baik kepada orangtua saya, bahwa di antara kami tidak dapat meneruskan hubungan ini , Alhamdulillah orangtua mengerti.
    Jadi intinya, perjodohan tidak selalu hal yang negatif, yang kadang menyatakan seolah kita tidak bisa mencari pasangan sendiri. Tetapi terkadang, jalan jodoh kita memang dengan cara seperti itu. Jadi pertimbangkan baik-baik, sebelum menerima atau menolak perjodohan

    BalasHapus
  12. Nama: Farikhatun Nisa
    Twitter: @littlepaper93
    Domisili: Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan
    Link Share: https://mobile.twitter.com/Littlepaper93/status/722378480764252160?p=v

    "Apa reaksimu jika dijodohkan? menerima atau menolak, sertakan alasanmu ya!"

    Jawaban: Menolak. Karena aku tipe anak yang selalu ingin memilih apa yang dibutuhkan sesuai dengan keinginanku. Walaupun, maksud perjodohan itu adalah ingin memberikan yang terbaik untukku, tetap aku akan menolaknya. Tapi bukan berarti aku menutup jalan perjodohannya. Aku akan tetap ingin tahu dengan siapa aku dijodohkan. Aku tetap ingin tahu bagaimana sosoknya. Namun aku tetap tidak menyukai sebuah perjodohan. Apalagi dijodohkan.

    BalasHapus
  13. Nama : Hidayatun Ni'mah
    Twitter : @HidayatunNimah_
    Domisili : Tuban Jawa Timur
    Linkshare : https://twitter.com/HidayatunNimah_/status/722409581570166784
    "Apa reaksimu jika dijodohkan? menerima atau menolak, sertakan alasanmu ya!"

    Menolak. karena Saya lebih suka fakta ketimbang logika. Fakta dalam hati saya cuma ada si A. Saya sulit sekali menerima si B yg ada dlm logika orang tua saya bahwa saya akan hidup bahagia jika menikah dengan si B. Itu kan cuma logika namun fakta nya hati saya dalam hati saya sulit menghilangkan si A. Kekasih saya. Bagi saya pernikahan itu sangat sakral saya ingin nanti nya tidak akan terjadi sesuatu yg di sebutkan di atas,yaitu menyesal dan saling menyalahkan. Namun walau bagaimanapun jodoh adalah rahasia Allah manusia hanya bisa memilih Allah yg berkehendak.

    BalasHapus
  14. Nama : Ratih Mulyati
    Twitter : @Jju_naa
    Domisili : Palembang
    Link :https://twitter.com/Jju_naa/status/722421552566775810

    Menerima.
    Ini bukan karena depresi ga nemu2 jodoh ya :D
    Jadi gini, orang tua mana yang bakal nyerahin anaknya ke orang ya ga mereka tau seluk beluknya? orang tua mana yang rela anaknya hidup sama orang yang ga bener? ga ada. Ortu itu mau hal-hal yang baik buat anaknya.

    Jadi, kalau mereka sampai ngejodohin, itu berarti mereka sudah tau dan setuju sama si calon itu (Penilaian hal2 umum yang sering jadi sandungan itu sudah beres). Orang tua juga punya ukuran ( anaknya saya ini cocok/pantes atau enggak buat dia. ) karena ortu lebih mengenal karakter kita dibanding kita sendiri. Dan biasanya orang tua kedua belah pihak sudah setuju dan suka.
    Penilaian ortu itu tajem loh. Kata anaknya bagus, blm tentu kata si ortu ini bagus. Dan biasanya itu bener, belajar dari pengalaman *Kekuatan orang tua.

    Nah, bagian aku tinggal menikmati prosesnya. Semisal cocok lanjut, semisal enggak ya ngomong baik2. Dan semisal lanjut, yang penting saling jujur kalau hubungan itu bukan atas paksaan dari ortu semata, tapi masing-masing memang mau mencoba/belajar menjalani/membangun hubungan itu bersama2.
    Tapi aku termasuk tipe yang percaya 'cinta itu tumbuh karena kebersamaan':D . Seiring waktu, cinta akan tumbuh dengan sendirinya *Tsaa.

    *Kapten Yoo, sini bang :p

    BalasHapus
  15. Rini Cipta Rahayu
    @rinicipta
    Karangasem, Bali
    https://twitter.com/RiniCipta/status/722446611654189056

    Reaksi terhadap perjodohan? Selama itu dilakukan tanpa paksaan dan tekanan, aku akan menyikapi dengan sewajarnya. Prinsipku sih dicoba dulu, kali aja cocok kan? Tapi aku lebih percaya sama 'perkenalan' yang disarankan oleh keluarga utamanya orang tua dibandingkan 'comblangan' dari teman. Hmm, kalo teman sih emang mungkin niatnya baik, tapi yang lebih mengenal aku luar dalam kan keluarga karena kesehariannya bareng mereka terus.
    Terlibat dalam perjodohan bukan berarti mengalami kegagalan atau kesusahan sih. Meskipun reaksi awalnya mungkin malu-malu mau, tapi itu adalah reaksi yang wajar. Kita nggak pernah tau bagaimana cara Tuhan mempertemukan kita dengan seseorang yang akan menjadi pasangan kita. Perjodohan itu juga merupakan salah satu cara pertemuan yang mungkin disiapkan untuk kita kan? Seringnya kita sibuk nyari kesana kemari, eh tenyata dia nggak jauh-jauh dari kita. Perkenalan itu punya tujuan yang baik, jadi ditanggapi dengan baik juga. Masalah bakal lanjut atau nggak, ya go with the flow aja! Kalau cocok ya lanjut, tapi kalau nggak cocok pasti akan dipisahkan dengan cara-Nya sendiri.

    BalasHapus
  16. Nama : Yunita P. Utami
    twitter : @udonkuma
    Link Share : https://twitter.com/udonkuma/status/722453952130748416
    Domisili : Bogor

    ikutan lagi ya mbak Rizky :)

    Apa reaksimu jika dijodohkan? menerima atau menolak, sertakan alasanmu ya!

    Menolak. Alasannya, menikah itu kan bukan hanya untuk satu atau dua hari, meski pasti yang dijodohkan itu sudah dikenal sama keluarga atau orang tua, tetap saja rasanya berbeda kalau kenal sendiri, tahu bagaimana kelakuannya tanpa dia merasa segan karena kedua orang tua saling kenal. Rasanya lebih enak pilih sendiri. Soalnya kalau tiba-tiba gagal ditengah jalan kedua orang tua nggak musti jadi canggung juga.

    Karena saya orangnya keras kepala, pernah dijodohin juga langsung saya tolak. Bukannya bermaksud nggak menghargai, tapi ya itu, saya nggak mau seakan ada rasa 'nggak enak sama orang tua' jadi menuruti dan gondok sendiri. Lebih enak ditolak di awal daripada sudah jalan tapi malah bubar.

    Tapi, ya itu negatifnya sih hehehe. Tapi tetap aja, kalau sudah capek nyari tapi tetap gagal juga, baru mungkin akan menerima di jodohin. itu juga dengan catatan, jalan biasa dulu, saling kenalan tanpa ada embel-embel nggak enak sama orang tua.

    Tema ini pas banget, soalnya saya juga lagi gencar di buru persoalan ini.

    terima kasih sudah buat giveawanya mbak Rizky :)

    BalasHapus
  17. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  18. Nama : Ignasia Ruvina
    Akun Twitter : @ignasiaruvina
    Link Share : https://mobile.twitter.com/IgnasiaRuvina/status/722445187897626625
    Jawaban :
    Reaksi pertama saya terhadap perjodohan itu sendiri pasti kaget, mungkin sampai shock karna selama ini saya hanya percaya pada 1 kepercayaan mengenai jodoh yaitu : semua jodoh baik hanya data dari Tuhan sehingga hanya dapat bertemu apabila pertemuan itu tak sengaja atau secara kebetulan. Kesimpulannya : saya tak percaya akan jodoh baik yang datang dri perjodohan atau hal lainnya.
    Yang kedua, saya pasti akan marah, apalagi kalau perjodohan itu terjadi tanpa peran serta saya, sang pemeran jodoh atau apalah itu namanya didalamnya.
    Yang ketiga, saya akan memikirkan keputusan saya. Apakah saya akan menerima jodoh tersebut. Kalau jodoh itu sesuai kriteria saya yang ngomong" adalah : seiman dan tekun akan Tuhan, cukup mapan utk menghidupi diri sendiri dan keluarga, sayang dan perhatian terhadap org lain trutama saya calon istrinya hehe, dan jujur; maka tentu saja, tanpa pikir panjang lagi akan saya terima jodoh baik tersebut. Namun apabila salah sayu kriteria saya tak terpenuhi, maka jodoh yang mungkin baik itu... masih harus menunggu keputusan saya karna saya memerlukan keputusan yang amat sangat matang demi menikahinya.
    Sekian :)

    BalasHapus
  19. Nama: Frida Anggraeni
    Akun Twitter: @mynamesfrida
    Domisili: Sidoarjo
    Link Share: https://twitter.com/MyNamesFrida/status/722512016460554242
    Jawaban:

    Sebagai anak ya apa salahnya memikirkan dulu rencana orang tua kenapa orang tua mau menjodohkan saya dengan orang lain. Kalau dalam posisi dijodohkan saya single ya tidak ada salahnya menjalani perjodohan yang dirancang sama orang tua. Dari pihak saya dan cowok pribadi itu sendiri, perjodohannya dapat dipakai sebagai alat untuk belajar tentang pribadi masing - masing. siapa tahu, ternyata dari pihak cewek dan cowok mempunyai visi dan misi yang sama untuk masa depan. Lagipula, keinginan orang tua untuk menjodohkan saya dengan orang lain juga bukan untuk kepentingan mereka sendiri saja, bisa jadi orang tuaku tidak mau anak gadisnya itu disakiti oleh orang lain lagi, seperti waktu saya mempunyai pilihan sendiri.

    Namun, ketika dalam posisi perjodohan itu saya sudah mempunyai seseorang, ada baiknya bilang dengan orang tua bahwa saya sudah mempunyai pilihan sendiri dan menolak dengan halus permintaan perjodohan. Lalu, saya akan bilang kepada pacar saya bahwa saya akan dijodohkan namun, yang saya mau ya pacar saya sekarang. Dan saya akan meminta pacar saya untuk menemui orang tua saya dan mengatakan bahwa dia serius dengan hubungan kita. Namun, ketika dia menolak untuk bertemu dengan orang tuaku, berarti dia tidak serius dengan hubungan kita. Ya, mungkin ini adalah cara dari Tuhan untuk menunjukkan bahwa dia itu orang yang tidak baik untuk saya dan keluarga jika saya tetap terus bersama dia. Kalau sudah seperti itu ya menerima perjodohan dari orang tua, kembali ke opsi yang pertama.
    Sekian, terima kasih :)

    BalasHapus
  20. Nama : Mega Widyawati
    Akun twitter : @widy4_w Domisili : Nganjuk
    Link share : https://mobile.twitter.com/Widy4_W/status/722557458841927681?p=v

    "Apa reaksimu jika dijodohkan? menerima atau menolak, sertakan alasanmu ya!

    Reaksi Pertama.
    Siapa sih yang gak kaget, seumpama dibilangin mau dijodohkan?!

    Reaksi Kedua.
    Menampilkab ekspresi Bengong, 'serius aku mau dijodohkan ini ?!
    Ketiga.

    Enggak percaya. Gimana mau percaya, kalo sekarang sudah jaman serba modern serba komputer masih menggunakan cara lama yaitu "perjodohan" Sudah bukan jamannya siti nurbaya lagi. But, kalo calonnya sholeh,paham, berwajah lumayan dan yang terpenting usia beda lima tahunan diatasku sih gak apa-apa. Asal jangan datuk maringgih aja #eaa

    BalasHapus
  21. Nama :: Siti Elmanah
    Acc Twitter :: @Araharuu
    Link share :: https://mobile.twitter.com/AraHaruu/status/722739980716498944?p=v
    Jawaban ::
    Menerima, alasannya simple kalo kira-kira udah ga ada laggi ya mau (yang mungkin emang bener2 udah ga ada), kenapa nggak? Lagi pula, orang tua kan ga mungkin jodohin anaknya sama anak begajulan (?).

    BalasHapus
  22. Nama : Salwa Balfas
    Akun twitter : @Safaira01
    Link Share : Lihat Tweet @Safaira01: https://twitter.com/Safaira01/status/722802027231727616?s=09

    -Apa reaksimu jika dijodohkan? menerima atau menolak, sertakan alasanmu ya!

    Jawaban :

    Pertamanya mungkin saya kaget. Tapi jika orang tua yang menjodohkan, saya akan menerimanya, kenapa? karena saya tahu tidak ada orang tua yang tidak ingin melihat anaknya bahagia, karena sebagai orang tua juga mereka sudah mempertimbangkan secara matang-matang untuk menjodohkan saya dengan si fulan. Karena ini menyangkut masa depan dan kebahagiaan saya, Mereka juga pastinya sudah kenal luar maupun dalam si fulan itu bagaimana? (Seperti berasal dari keluarga yang baik-baik atau bukan?, menyangkut perilaku juga pekerjaannya si fulan) Dan setelah saya menerimanya, saya juga tidak ingin segera menikah, saya ingin taaruf-an dulu dengan dia, sebagai masa pengenalan sebelum menikah. (Masa pengenalan yang secara islami) :)

    Terima kasih GAnya kak! Semoga bukunya berjodoh dengan saya. :)

    BalasHapus
  23. Menolaklah. Setahu saya, semua orang yang tahu dirinya dijodohkan itu reaksinya langsung menolak. Entah, sepertinya itu sudah jadi self-defence kayaknya. Nanti setelah dipikir-pikir, ketemu si calon, kenal dan tahu seperti apa orangnya, baru deh keputusan (mungkin) bisa berubah.

    Nama: Dian Maya
    Twitter: @dianbookshelf
    Link share: https://twitter.com/dianbookshelf/status/722700490203623426

    BalasHapus
  24. Arie Pradianita | @APradianita | Sukabumi

    https://twitter.com/APradianita/status/723149236590628865

    Aku Dijodohkan dan Bahagia.. ^_^

    Tak selamanya loh yang dinamakan perjodohan atau di kenalkan itu jelek, mendapatkan pasangan apapun jalannya mungkin juga sudah merupakan bagian dari kehidupan seseorang yang sudah ditulis dalam kitabNya.Terkadang kita sebagai manusia (perempuan khususnya) ada perasaan gengsi atau malu menerima perjodohan itu , gengsi dan malu karena merasa tak berdaya dalam mendapatkan pasangan sendiri sehingga, kok harus melalui orang lain? kenapa kita gak bisa sendiri yang langsung mendapatkan pasangan ?

    Perasaan itulah yang aku rasakan walau dalam hal ini aku mungkin bukanlah orang yang sepenuhnya di jodohkan tapi memang itulah jalannya . Rasanya aku bukanlah orang yang sulit juga untuk mendapatkan jodoh karena aku belum terlalu tua dan juga pernah merasakan bagaimana rasanya berpacaran dengan cara yang aku dapatkan sendiri bertemu dan berkencan tapi, karena suatu pertimbangan yang mungkin juga aku harus ambil jadilah kuputuskan saja pacar pertamaku itu nah.. dalam kekosongan itu datanglah suatu tawaran dari kerabat yang baru saja datang untuk menikahkan cucunya di Sukabumi menawarkan ,maukah aku berkenalan dengan seorang lelaki ?, reaksiku pada saat itu sempat tidak menerima dan marah mungkin karena gengsi ya kenapa harus di kenalkan segala seperti orang tidak laku aja,pada saat itu orang tuakupun ikut membujuk karena itu untuk berkenalanpun aku malas dan tidak mau.

    Tapi ada suatu kejadian dimana saat itu salah seorang tanteku sakit maka, aku disuruh untuk datang melihatnya setelah aku datang ternyata, di sana di rumah tanteku sudah ada seorang laki -laki yang menunggu dan di saat itulah aku diberitahu bahwa itulah laki-laki yang waktu itu akan di kenalkan, orangnya sih lumayan ganteng tingginya sama dengan aku dan menurutku sikapnya sopan walaupun sepertinya dia agak kaku dalam pembicaraan.

    Mulai saat itu dia sering telpon dan mengajak bicara lama- lama akupun merasa cocok dan nyambung terhadapnya, jadilah kami menjalani masa pacaran selama setahun karena orang tuanya berada di Jakarta sempat juga ada perwakilan yang datang ke Sukabumi untuk melihat apakah aku ini seorang calon menantu yang cocok bagi keluarganya, oh ya ..secara kebetulan sebenarnya aku berasal dari satu daerahh yang sama dengan calonku ini tapi ,keluarga inti kami sudah banyak yang di Sukabumi dan di Jakarta hanya saudara yang agak jauh tapi sebenarnya keluarganya tahu asal usulku.

    Rasa penolakan itu lama- lama hilang seiring berjalannya waktu setelah kami mengenal lebih jauh karakter masing - masing , di sini banyak sekali perbedaan keadaan diantara kami seperti, aku adalah anak yang lahir dan besar di Sukabumi ,sementara dia adalah orang yang setelah tamat kuliah baru dia merantau ke Jakarta, aku berkarakter agak keras dan dominan mungkin karena pada saat itu aku sudah mempunyai pekerjaan yang mapan dan menyenangkan juga karena aku anak pertama dan perempuan satu satunya dalam keluarga,sedangkan dia berkarakter agak pendiam dan dia baru pula merintis karir sehingga melihat fakta yang ada temankupun mempertanyakan apakah aku bisa berjodoh dengan orang seperti dia?.

    Menjalani hubungan dengannya ternyata amatlah menyenangkan karena dia termasuk orang yang sangat sabar menghadapi aku yang kadang suka tidak sabaran dalam menghadapi suatu persoalan ,oh ya.. setelah kami berhubungan dia bercerita bahwa awalnya perjodohan ini ternyata dilatar belakangi oleh permintaan dia untuk di carikan jodoh walau secara bercanda di meminta kepada kerabatku yang datang dulu itu untuk memberikan salah seorang kerabatnya untuk jadi istrinya ...

    Saat ini kami berdua masih menjalankan hubungan pertunangan, kami berdua ingin sekali segera menikah.. Semoga lekas terwujud, Ameen.. ^_^

    BalasHapus
  25. Neneng lestari
    @ntarienovrizal
    aceh

    terima gak pake mikir. Zaman sekarang cari cowok yang bisa mempertanggung jawabkan segala perbuatannya itu susah. Nah kalau dijodohin, pasti kan kedua belah pihak bertanggung jawab tu misalnya sicewek/sicowok macem-macem. Minimal adalah dukungan dari orang-orang terdekat. Bukannya pesimis sih, cuma yah kita kan harus mikir jelek-jeleknya dulu, kalau mikir yang bagus-bagusnya dulu, eh pas gak sesuai kan kecewa berat.

    itu sih pendapat saya ^^

    BalasHapus
  26. Erin | @RiienJ | Bekasi | https://twitter.com/RiienJ/status/723023014166589440

    Aku emang belum pernah dijodohin. Kalau pun iya aku Bakalan NOLAK!
    Sebenernya gak buruk-buruk amat si dijodohin. Tapi, aku tipe cewek yang gak mau diatur soal urusan hati.Seperti, aku dijodohin sama si A orangnya baik, udah kerja,PNS,anak orang kaya, blablabla.. Aduh bakalan pusing dengernya juga. Mungkin orangnya baik, tapi arti baik itu terlalu luas. Toh aku bisa cari sendiri lelaki yang bersedia menjadi imamku kelak. Aku percaya sama Tuhan jodoh itu gak pernah jauh, jadi gak harus dijodoh-jodohin juga.

    BalasHapus
  27. Nama : Ana Bahtera
    Twitter : @anabahtera
    Link : https://twitter.com/anabahtera/status/723353503037415426

    Di jodohkan???
    Menerima karena banyak keuntungan dalam sebuah perjodohan:
    1. Kalau orang tua kita yang menjodohkan, pastinya mereka sudah memilih yang benar-benar baik tuk anaknya, benar-benar orang yang bertanggung jawab yang mereka percayai untuk bisa menjaga anaknya kelak.
    2. Setidaknnya dengan perjodohan kita sudah mendapat restu akan sebuah hubungan, gak perlu lagi main sembunyi-sembunyi ketika pacaran, jadi dijodohkan itu membuat semua jalan menuju ke pelaminan kian lancar.

    BalasHapus
  28. Esty
    @estiyuliastri
    Mjokerto
    https://twitter.com/estiyuliastri/status/723336481817808899

    Menerima, tapi dgn syarat. Yaitu harus melalui proses penjajakan/pendekatan terlebih dahulu.
    Aku akan menjelaskan kepada pihak yg menjodohkan, bahwa aku perlu waktu dalam membuat keputusan besar ini, harus tenang (woless 😁), dgn kepala dingin serta tidak terburu-buru seperti dikejar deadline 😂. Tujuannya agar tidak merugikan kedua belah pihak, yaitu keluargaku maupun keluarga pihak pria. Apalagi sampai menyesali perjodohan ini di kemudian hari, jangan sampe deh 😊
    Langkah pertama, aku akan membuat kesepakatan bersama dgn pria yg dijodohkan tersebut, bahwa dalam masa penjajakan ini kuncinya adalah harus saling terbuka & jujur. Kalo aku & dia merasa saling cocok, perjodohan bisa dilanjutkan. Sebaliknya, jika salah satu dari kita merasa kurang sreg, haruslah jujur satu sama lain. Karna yg akan menjalani kehidupan pernikahan ini adalah kita berdua, bukan orangtua kami.
    Kemudian langkah selanjutnya barulah melibatkan pendapat keluarga besar, langkah apa yg selanjutnya diambil untuk kebaikan bersama. Keputusan ini harus diputuskan bersama-sama, Agar tidak merugikan & melukai hati siapapun 😉
    Semoga pria yg dijodohkan tersebut bisa bersikap kooperatif 😆

    BalasHapus
  29. Nama : Sasikarani
    Twitter : @sasikarani16
    alamat : Jakarta Barat
    link : https://twitter.com/sasikarani16/status/723385645314396161

    jawaban :

    "Reaksi saat dijodohkan mungkin awalnya akan kaget dan satu pikiran yg akan terlintas udah 2016 ko masih aja ada yg namanya perjodohan emang kita gak bisa cari jodoh kita sendiri. tapi balik lagi mungkin orang tua kita ngeliat kita selama ini anak2nya yg udah pnya cukup umur yg matang tp belum saja menikah karna orang tua pasti ingin yang terbaik bagi setiap anaknya sebelum ajal menjemput mereka, insya Allah akan menerima karena selama ini selalu percaya sama apa yg dipilihkan sm orang tua terutama sm ibu misal kalau beli baju dan dipilihin sama ibu aja cocok banget dan udah pasti kalau memilih jodoh yang dipilihin sama orang tua pasti akan cocok, dan orang tua jg udah mengerti mana yg bkin anaknya bahagia. yg kita lakukan hanyalah melakukan semuanya dengan sabar dan ikhlas semua sudah ada takdirnya masing2 n terus memperbaiki diri untuk jadi manusia yg lebih baik pastinya.

    BalasHapus
  30. Nama: Kiki Amaliah
    Twitter: @kyoungsaeng
    Domisili:Indramayu
    Link:
    https://t.co/lXDW0a28pT


    Hmmm saya dilema jawabnya hehe
    Kalau seseorang yang saya suka tidak berani melamar ya saya terima perjodohan itu. Semoga menjadi jalan baik ke depannya. Amiiin

    BalasHapus
  31. Nama:Arien Prakasari
    Akun:@Arrinn_Kka
    Domisili:Mojokerto
    Linkshare:https://twitter.com/Arrinn_Kka/status/723465508675166208

    Perjodohan, siapa sih yang nggak syok saat tiba" ortu bialang mau dijodohin? Pastilah semua syok nggak mungkin nggak 😁. Reaksi pertama pasti tanya alasannya kenapa?, pastilah gak mudah buat mutusin dengan cepat mau terima ato nolak, tapi kalo dipikir-pikir lagi ditambah dengan alasan ortu apa salahnya sih menerima, toh gak mungkin juga ortu kita jodohin sama orang yang gak baik. Urusan suka gak suka, cinta gak cinta seiring berjalannya waktu pasti balakan tau sendiri, so jangan takut buat nerima 😉

    BalasHapus
  32. Nama: Dian Maharani
    Akun Twitter: @realdianmrani93
    Domisili: Bengkulu
    Link Share: https://twitter.com/realdianmrani93/status/722974089824985088

    "Apa reaksimu jika dijodohkan? menerima atau menolak, sertakan alasanmu ya!"

    Nerima nggak nerimalah ya *Nahloh*
    Kalau posisi aku sekarang yang kebetulan sedang tidak menjomblo, mungkin aku akan langsung menolaknya. Kebetulan, prinsip orang tua-ku adalah tidak akan 'menganggu' hubungan anaknya selama teman anaknya itu baik dan punya nilai plus. Dan Alhamdulillah dia punya nilai-nilai plus itu.
    Tapi, kalau aku berada di posisi kakakku yang kebetulan sedang menjomblo, mungkin aku akan menerimanya pelan-pelan. Toh, kalau dijodohkan bukan berarti hari ini ketemu besok langsung nikah, kan? Semuanya pasti ada proses. Kenalan lewat orang tua, kenalan langsung, jalan bareng dan mulai mendalami sifat masing-masing. Kalo cocok, ya pasti cuss deh ^^v Kalo nggak cocok, bisa dibicarakan baik-baik. Mending pahit di awal, tapi manis di akhir. Ibarat minum obat, pahitnya cuma dilidah, dilambung nggak bakal kerasa. Tapi, dibanding kata-kata dijodohkan, aku lebih suka kata-kata dikenalkan :^) "Kok masih sendiri aja? Mau nggak dikenalin sama si itu tuh" *eakkkk bahasanya >.<

    BalasHapus
  33. Tri
    @tewtri
    https://mobile.twitter.com/tewtri/status/723854366080266240
    Ciamis

    Dijodohkan? Syukur alhamdulillah. Andaikan orang tua atau keluarga saya memutuskan untuk menjodohkan saya, hati ini bakalan senang bangetlah. Menurut saya, dijodohkan sendiri bukan berarti dirampas hak-haknya dalam memilih yah. Pasangan umumnya, seseorang ingin yang sekali langgeng hingga maut memisahkan. Dan orang tua atau keluarga tentu tidak diragukan lagi kecintaannya terhadap saya, mereka ingin yang terbaik buat saya. Maka, pilihan itu pun jelas sudah melewati berbagai tahapan dan saringan. Tidak ada satu orang pun keluarga yang rela anggota keluarganya tersakiti, maka pasangan yang sudah dipilihkan diharap mampu memberikan kebahagiaan untuk saya kedepannya. Bahkan dibanding diri sendiri, keluarga lebih baik dalam mengenali saya. Jadi, saya sih oke-oke saja jika memang harus dijodohkan. Kadang-kadang yang dicarikan orang itu lebih indah loh :D

    BalasHapus
  34. nama: famia kamilia
    twitter: @amifamia
    link share: https://mobile.twitter.com/amifamia/status/723861787129483264?_e_pi_=7%2CPAGE_ID10%2C7167855160

    jawaban:
    dijodohin? hhmm... kalo nolak ntar takut nyakitin hati emmak, kalo nerima takut orangnya gak sesuai sama keinginan.
    kalo menurutku sih jangan langsung nolak maupun langsung nerima, tapi sholat istikhoroh dulu biar nantinya gak nyesel kalo udah memilih kaputusan.

    BalasHapus
  35. Nama: Cahya
    Twitter: @chynrm
    Domisili: Palembang
    Link tweet: https://twitter.com/chynrm/status/723905222205042688

    Kasih pengertian dulu ke pihak yang menjodohkan. Dari orangtua atau keluarga sanak dulur nih biasanya.

    Aku nggak masalah dijodohkan, tapi bukan berarti aku harus langsung 'nerimo wae' dengan pilihan mereka. Aku harus tahu dulu siapa orangnya, aku butuh waktu untuk mengenal calonku bagaimana, dan aku butuh petunjuk dari Allah melalui istikharah apakah orang yang dijodohkan padaku ini memang pilihan yang tepat untuk hidup bersama dalam rumah tangga.

    Bilang juga ke 'mak comblang' dan pihak seberang, jangan marah jika akhirnya nanti aku menolak. Yang langsung mengkhitbah saja masih bisa ditolak, apalagi kalau baru menjodohkan. Karena tetap saja perjodohan ini adalah untukku, untuk masa depanku. Aku yang akan menjalani sehingga hal itu juga harus berdasarkan kerelaan hatiku sendiri, bukan sekedar berkata "iya" hanya untuk memenuhi hasrat mereka yang ingin melihat aku akhirnya menikah dan punya pasangan.

    Jadi kesimpulannya adalah:
    1. Reaksi pertamaku yaitu kasih pengertian seperti itu dulu ke pihak bersangkutan.
    2. Aku tidak mau langsung menerima, pun langsung menolak karena semuanya butuh waktu. Time is the wisest counselor of all. It will solve everything.
    3. Selagi saling mengenal, sambilan menunggu jawaban dari istikharahku. Kalau semua berjalan lancar, insya Allah berarti Allah memberi ridho.

    BalasHapus
  36. Ten | @ten_alten | Yogyakarta
    https://twitter.com/ten_alten/status/723928888816988165

    "Apa reaksimu jika dijodohkan? menerima atau menolak, sertakan alasanmu ya!"

    >> yang pasti sih aku bakalan kaget.. tapi kalo dijodohin sama orang tua, aku yakin orang tua nggak akan menjerumuskan anaknya, mereka pasti menjodohkan dengan orang yang baik. aku nggak akan langsung menolak ataupun mengiyakan. aku akan meminta untuk saling mengenal selama beberapa waktu, baru kemudian aku akan memutuskan untuk menerima atau menolak. yang pasti, kalau aku merasa 'klik', aku bakalan bilang iya.. :D

    BalasHapus
  37. Nama: Asep Nanang
    Twitter: @asepnanang59
    Domisili: Sumedang
    Link tweet: https://twitter.com/asepnanang59/status/724019166370353152?lang=id

    Reaksi jika kamu dijodohkan?
    Saya akan terkaget-kaget jika orang tua saya menjodohkan saya dengan perempuan pilihan mereka. Saya merasa kaget karena selama ini orang tua saya memberikan kebebasan penuh bagi saya untuk menulis sendiri kisah hidup saya. Bagi mereka unsur paksaan tidaklah baik bagi saya dan bakal membuat saya sulit untuk berkembang. Melihat orang tua yang biasanya membiarkan saya memilih sendiri jalan dan pilihan yang akan saya hadapi kelak, tentu menjadi sesuatu yang janggal jika tiba-tiba akan menjodohkan saya dengan wanita pilihan mereka. Terlepas dari hal tersebut saya cukup gembira dengan rencana perjodohan dari orang tua saya. Ada banyak alasan kenapa saya berbahagia dengan perjodohan ini. Pertama, perjodohan adalah salahsatu cara bertemu jodoh. Seandainya saya cari sendiri, perlu banyak waktu untuk ngelakuinnya, belum lagi saya harus berperang dengan rasa malu ketika harus berkenalan dengan gadis yang saya taksir. Nah dengan adanya perjodohan semua kerepotan dalam mencari jodoh akan sirna. Kedua, ini membuktikan bahwa orang tua saya begitu peduli dengan kebahagiaan saya. Mereka tidak mau saya tersiksa karena salah memilih pasangan hidup. Ketiga, ada kemungkinan saya sudah kenal dekat dengan calon mertua saya, jadi gak canggung lagi. Saya sangat terbuka dengan perjodohan. Bagi saya perjodohan bukan hal yang buruk. Seandainya gadis yang mau dijodohin sama saya itu cantik, solehah, dan gak mbosenin dengan penuh keyakinan saya akan terima perjodohan itu. Namun, kalau sang gadis tidak sesuai dengan kriteria saya, misalnya tidak solehah, maka saya akan menolak perjodohan itu dengan halus dan berbicara baik-baik dengan orang tua saya.

    BalasHapus
  38. Putri Prama A.
    @putripramaa
    Probolinggo
    https://twitter.com/PutriPramaa/status/724170455020507137
    Kaget.
    Tergantung. Kalau orang yang dijodohkan denganku adalah orang yang mau mencintaiku apa adanya, dia mau untuk menjalani susah senang bersamaku, dan dia mau berusaha agar aku tidak kerepotan kedepannya maka aku akan menerima. Jika dia adalah orang yang cuma mau 'kawin' saja, maka tentu aku akan menolaknya. (Bagiku menikah dan kawin itu beda, ya. Menikah itu dalem banget maknanya, sedangkan kawin itu cuma bertujuan untuk melanjutkan keturunan saja.)
    Jadi, jika dijodohkan nanti, aku masih belum tahu harus ngapain karena itu semua tergantung pasanganku juga.

    BalasHapus
  39. Nama : Agatha Vonilia M.
    Akun twitter : @Agatha_AVM
    Domisili : Jember
    Link share : https://twitter.com/Agatha_AVM/status/724179021781602304

    Aku menolak dengan garis keras. Pasangan hidupku, akulah yang menentukan karena dia yang akan menemaniku hingga akhir hayat. Bukan dijodohin dengan pemaksaan daripada nantinya aku membenci dia seumur hidup. Memang cinta bisa tumbuh saat hidup bersama. Tapi, apa menjamin aku akan bahagia dengannya? Orang tua masih mempunyai andil dalam menentukan pasangan hidup, tapi hanya sebatas teman curhat dan berbagi. Aku memperkenalkan pacarku kepada orang tua dengan segala latar belakangnya, baru nanti orangtuaku memberikan lampu kuning selama aku menjalani masa pacaran. Jika pacarku mulai menunjukkan sifat aslinya, baru orang tua memberikan lampu merah padaku. Bukan mencarikan jodoh untukku. Aku percaya jodoh Tuhan yang menentukan dan aku akan berusaha mencari pasangan yang tidak hanya membahagiakan diriku saja tetapi juga sayang kepada kedua orangtuaku khususnya mama. Semoga kelak yang menjadi pasangan hidupku dapat memahami diriku yang selalu menjaga mama dan selalu ada di sisinya.

    BalasHapus
  40. Nama : Muhimahtul Mardiyah
    Akun twitter : @Muhimahtulm3
    Domisili : Cirebon
    Link share : https://mobile.twitter.com/Muhimahtulm3/status/724205483200933888?p=v

    "Apa reaksimu jika dijodohkan? menerima atau menolak, sertakan alasanmu ya!

    Menolak, dalam arti menolak ini dengan penuturan yang sopan dan santun ya:). karena menurut aku dijodohkan seperti halnya berlawanan arah. Dan aku akan menjelaskan sisi positif dan negatif dari perjodohan anaknya. Tanda kutip bukan berarti keegoisan atau bahkan bukan berarti untuk melawan kehendak atau keinginan dari orang tua yang menginginkan jodoh terbaik untuk pasangan hidup anaknya. Tapi??? Ada hal dimana mereka (orang tua) juga harus tahu tidak selamanya perjodohan yang diinginkan mereka akan berujung baik pada kehidupan pernikahan yang atas dasar dijodohkan itu. Ya meski terkadang mungkin bukan terkadang lagi melainkan pasti ada sisi baik dari perjodohan yang akan berujung dengan cinta yang membutuhkan waktu begitu lama untuk menyatukan. Tetapi ada alasan mengapa aku harus menolak untuk dijodohkan? Yaitu 'cinta'. Ini bukan perkara cinta itu buta atau semacam halnya tapi terkadang cinta yang membuat kita nyaman, cinta yang memberi ketulusan, cinta yang mampu mengisi kekurangan hidupku dan cinta yang mampu mebuatku berjalan pada jalan benar kenapa tidak untuk diperjuangkan. Apalagi dengan menolaknya secara sopan.
    Sekian, maafkan jika jawabannya blibet. Terimakasih ^_^

    BalasHapus
  41. Nama : Sagita Nur Amalia.
    Akun twitter : @Sagita_N_A
    Domisili : Purwokerto, Jawa Tengah.
    Link share : https://mobile.twitter.com/Sagita_N_A/status/724181732413427712?p=v

    Jawaban :


    "Apa reaksimu jika dijodohkan? menerima atau menolak, sertakan alasanmu ya!"

    Reaksi ku kalau dijodohkan, pasti kaget tapi aku akan menerima. Karena pilihan orang tua pasti yang terbaik untuk anaknya, orang tua juga pasti ingin yang terbaik untuk anaknya dan sudah mempertimbangkan semuanya. Dan aku harus menghargai orangtua ku, menghormatinya dan membuatnya bahagia dengan cara menerima perjodohan ini. Kebahagianku itu apabila orang tua ku bahagia. Walaupun berat karena pastinya aku belum kenal dan deket sama yang mau dijodohkan sama aku dan pastinya belum ada rasa cinta, tapi nantinya cinta akan datang dengan sendirinya setelah terjalinnya kebersamaan untuk saling menyayangi.

    BalasHapus
  42. nama : Mukhammad Maimun Ridlo
    akun twitter : @MukhammadMaimun
    domisili : sleman
    link share : https://twitter.com/MukhammadMaimun/status/724227699925872641

    "Apa reaksimu jika dijodohkan? menerima atau menolak, sertakan alasanmu ya!

    Sepertinya akan menerima. Karena pasti orang tua memilihkan jodoh untuk kita sudah dipikir masak-masak bibit, bobot dan bebetnya. Dan kadangkala orang yang kita pilih itu hanya berdasar emosi kita saja.
    Sementara orang tua sudah melihat ke depan dan belakang. Dan mereka seharusnya lebih tahu apa yang kita butuhkan

    BalasHapus
  43. Nama: Leny
    Akun twitter: @Lenny1785
    Domisili: Rantau Kalimantan Selatan
    Link Share: http://twitter.com/Lenny1785/status/724171265531994112
    Jawaban: tidak langsung menerima namun juga tidak langsung menolak, tapi aku akan berpikir sejenak dulu. Aku ingin mengenal lebih dekat dulu,dia orangnya seperti apa, karakternya bagaimana?cocok nggak sama aku? Jadi kalau aku merasa cocok sama dia, kenapa enggak? Aku pasti menerima kalau itu baik.

    BalasHapus
  44. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  45. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  46. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus

Design By Wulansari | Blogger Theme By Black Coffee Design