Rabu, 20 April 2016

[Book Review] My Love G

Judul Buku : My Love G
Penulis : Rainy Amanda
Tebal : 228 Halaman
Terbit : Februari 2016

"Sungguh, Yindi tidak ingin banyak menuntut. Kalau memang yang ada di hatinya benar adalah cinta, dia ingin mencintai Galih tanpa banyak syarat. Bagai buah simalakama, di sisi lain dia takut sakit hati, tapi dia juga tidak ingin kehilangan Galih. Hatinya benar-benar tak siap membiarkan lelaki itu pergi."

Yindi cuma ingin satu hal : kejelasan hubungannya dengan Galih. Mereka berdua sudah begitu dekat, tapi tetap saja status pacar belum juga didapat. Yindi mulai habis kesabaran untuk menunggu lebih lama, hatinya bertanya-tanya apa alasan yang membuat Galih tak kunjung meresmikan cinta mereka.

Seperti pelaut yang menebar sauh untuk berlabuh, Yindi tak menemukan alasan untuk berpaling dari Galih, namun ombak bernama takdir membawa gadis itu pada perkenalan baru, juga kenyataan yang tak pernah dia sangka.

-------------------------
Sejak membaca Amora Menolak Cinta, aku sudah menyukai tulisan Amanda, walau diterbitkan secara self-published Amanda punya gaya menulis yang renyah, ringan dan menarik. Seperti kali ini, Amanda mencoba menghadirkan sebuah kisah tentang Yindi, seorang gadis yang sedang terjebak dengan "Hubungan Tanpa Status" atau istilah kerennya "Teman Tapi Mesra". 

Dulunya Yindi hanya bisa memendam perasaan kepada Galih, sang kakak kelas. Hingga reuni akbar SMA mereka mempertemukan mereka kembali bertahun-tahun kemudian. Yindi tak menyangka bahwa kantor yang berdekatan membuat dirinya dan Galih semakin dekat. Mereka mulai dekat, memanggil dengan julukan mesra, bertengkar karena hal-hal sepele, dan hal-hal lainnya yang biasa dilakukan sepasang kekasih. Sayangnya, walau sudah dekat berbulan-bulan, Galih tak kunjung mengikrarkan cintanya dan membuat Yindi kebingungan ada apa sesungguhnya? Apakah Galih punya perasaan yang sama atau perasaannya bertepuk sebelah tangan?
"Kalau memang yang ada di hatinya benar adalah cinta, dia ingin mencintai Galih tanpa banyak syarat. Bagai buah simalakama, di sisi lain dia takut perasaannya sia-sia karena tak berbalas, tapi dia juga tidak ingin kehilangan Galih hanya karena tak mau bersabar menunggu laki-laki itu mengambil inisiatif."
Hingga suatu hari sebuah naskah yang diajukan ke Loverbirds Publishing, kantor Yindi membawanya bertemu dengan sosok Naren, tetangganya. Ternyata jendela kamar Yindi berseberangan dengan balkon kamar Naren, sehingga Yindi bisa melihat semua apa yang dilakukan oleh Naren begitupun sebaliknya. Termasuk saat Naren tidak sengaja berciuman dengan kekasihnya dan Yindi pun menganggap Naren "tukang pamer kemesraan".

Takdir pun berbicara, Naren dan Yindi pun semakin sering bertemu secara tak sengaja. Yindi pun akhirnya tahu rahasia Naren sesungguhnya, terkait jati diri Naren dan kekasihnya yang ternyata seorang GAY, dan sebuah kenyataan yang begitu menyakitkan dari sosok Galih. Apa yang terjadi????
"Selama kita masih bernafas, selalu ada kesempatan untuk menjadi lebih baik lagi. Selama jantung masih berdetak, selalu ada jalan untuk menemukan jawaban yang kita cari. Sakit hati bisa diobati. Kemarahan akan redam seiring waktu. Salah paham hanyalah ego yang saling terbelit kusut, menunggu untuk diluruskan kembali."
Jujur, aku tidak menyangka akan membaca kisah yang cukup kompleks ini. Awalnya aku berpikir ini hanyalah kisah romansa biasa, tentang seorang gadis yang menunggu kejelasan status sedangkan cowoknya masih suka tebar pesona dan tidak ingin terikat. Ternyata aku salah besar, Amanda dengan piawai menyembunyikan suatu rahasia tentang Galih. 

Memang sejak awal aku dibuat penasaran kenapa Galih yang jelas-jelas menunjukkan perhatian kepada Yindi belum juga menembaknya. Belum lagi, sosok Galih yang sering tiba-tiba menghilang begitu saja, menjadikan sebuah misteri yang tak terjawab. Kehadiran Naren dan Jujun juga menjadi warna tersendiri. Isu LGBT dalam novel ini diramu dengan sederhana dan tidak terkesan menggurui atau menyalahkan. Amanda sukses membuat dirinya berada di posisi yang netral.
"Kalau ini kanker atau tumor, jelas dimana penyakitnya. Solusinya juga nyata, kemoterapi, cangkok, angkat sel yang terinfeksi. Tapi....gimana cara aku menyembuhkan cacat yang gak kelihatan wujudnya?
Jujur, baca ini langsung ngena banget. Aku bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Naren, Jujun maupun orang-orang seperti mereka di luar sana. 

Karakter favoritku akhirnya jatuh pada Yindi. Yindi yang berbesar hati menerima kenyataan pahit tentang cintanya kepada Galih. Yindi yang mau menerima Naren dan Jujun sebagai sahabatnya dan keputusan Yindi di akhir cerita terasa realistis sekali untuk kasusnya sendiri.

Overall, kamu membutuhkan kisah romansa yang ringan dan bisa menghiburmu, novel ini cocok sekali buat menemani waktu luangmu.^^

Kamu penasaran dengan novel karya Rainy Amanda:

Sebagai info tentang karya-karya Rainy Amanda (sneak peek, link review, cara pembelian) bisa dilihat pada tulisanmanda.wordpress.com.

- Novel2 self-published Rainy Amanda dijual dalam format paperback (via Bukalapak) dan e-book (via Kobo)

1 komentar:

  1. Apa mungkin secraa nggak langsung Kak Amanda kontra LGBT?

    BalasHapus

Design By Wulansari | Blogger Theme By Black Coffee Design