Rabu, 11 Mei 2016

[Book Review] Maneken

Judul Buku : SJ Munkian
Penulis : SJ Munkian
Penerbit : Republika
Tebal : 181 Halaman
Terbit : September 2015
Dalam sejarah kehidupan di dunia, benda mati hampir selalu tidak dihiraukan. Tidak ada yang mau repot-repot memikirkan perasaan benda mati, apalagi memerhatikan kebutuhannya. Kau bahkan tak pernah tahu kan, bahwa maneken bernama Claudy--yang bekerja keras di etalase terdepan toko busana Medilon Shakespeare--mempunyai perasaan.

Mimpi-mimpinya dilambungkan untuk kemudian dihempaskan lagi hingga hanya bisa bergantung pada nasib dan keajaiban. Ya, keajaiban.

Novel ini akan membuka mata hatimu dengan menempatkanmu pada posisi benda mati yang tak dihiraukan, meski sedang berjuang mati-matian untuk mencapai mimpi-mimpi. Kau akan melihat dari sudut pandang yang berbeda, dan semoga itu akan membuatnu semakin mengerti, betapa kami, aku dan Claudy iri kepada kalian.

----------------

Pernahkah kamu bayangkan jika suatu benda mati tiba-tiba bisa berbicara bahkan mempunyai emosi layaknya manusia? Inilah yang terjadi pada maneken  di Toko Medilon Shakespeare. Maneken ini bukan maneken biasa. Maneken ini sungguh cantik dan diberi nama Claudia. Claudia dipajang di etalase utama, etalase paling depan sehingga bisa menjadi *bintang* dari toko ini seperti yang dirancang oleh Sophie, sang pemilik toko.

Sayangnya, Claudia harus menerima kenyataan bahwa dia tidaklah seorang diri menempati etalase utama, dia harus berbagi etalase dengan maneken pria bernama Fereli. Maneken yang tampan dan pintar berbahasa Perancis. Fereli dan Claudia sengaja dipasangkan oleh Sophie untuk menjadi pasangan maneken yang akan menjadi ikon dari toko Medilon Shakespeare.

Ternyata Fereli dan Claudia sengaja dibuat khusus, benar-benar menyerupai Sophie dan kekasihnya, Bailey Fereli. Sepasang maneken ini seperti replika Sophie dan kekasihnya. Ternyata ide Sophie memasang Claudia-Fereli merupakan ide yang sangat menarik, didukung dengan tema dan dekorasi yang sesuai menjadikan tokonya begitu ramai dan menarik perhatian banyak pembeli. Tentunya Sophie sangat bahagia sekali.

Setiap orang yang melihat Claudia-Fereli pasti setuju bahwa mereka sepasang manaken yang *hidup* yang aura emosinya terasa sekali ternyata tanpa diketahui manusia mereka memang bisa berinteraksi layaknya manusia.

Padahal awalnya Claudia sungguh terganggu dengan kehadiran Fereli, karena harus berbagi etalase utama. Namun, perlahan-lahan interaksi keduanya mencair dan ternyata oh ternyata saling jatuh cinta...

Berbeda halnya dengan Claudia-Fereli, hubungan Sophie dan Bailey tidak berjalan mulus, Bailey memutuskan Sophie mendekati hari pernikahan mereka. Sophie marah besar dan patah hati, tidak bisa menahan diri dan akhirnya malah berbuat sesuatu terhadap Fereli juga Claudia.

Bagaimana akhir kisah Sophie, Claudia dan Fereli? Ada apa sesungguhnya?

Membaca novel ini sungguh menarik sekali. Salut dengan penulis yang berani mengambil ide yang unik yang anti-mainstream seperti ini. Walau mengambil tema cinta, tetapi punya warna yang berbeda.

Bayangkan alih-alih mengambil sudut pandang manusia, penulis berani mengambil sudut pandang maneken yang jelas-jelas benda mati. Penulis seakan membuat maneken ini hidup layaknya manusia, bisa merasakan emosi dan juga punya perasaan.

Penulis mampu meramu kisah sepasang maneken yang awalnya tidak saling cocok, akhirnya malah jatuh cinta secara perlahan-lahan. Jatuh cinta layaknya manusia. Interaksi Claudia-Fereli ini benar-benar menyentuh sekali, seakan nyata dan bisa kubayangkan. Hubungan mereka yang harus terganggu karena obsesi Sophie terhadap kekasihnya, Bailey dan segala kerumitan kehidupan Sophie. Sungguh menarik sekali.

Aku benar-benar dibuat larut dengan kisah ini. Rasanya begitu penasaran apa sesungguhnya yang terjadi, karena semakin membaca aku semakin dikejutkan dengan twist-twist yang tak terduga. Penulis pandai sekali meramu kisah romance berbalut fantasi ini hingga aku terus membaca hingga akhir.

Pemilihan judul setiap bab juga unik, menggunakan kata pasif dan benar-benar menggambarkan isi bab. Membaca novel ini seperti membaca sebuah karya terjemahan, mengalir dan sama sekali tidak kaku.

Membaca novel ini menyadarkan kita sebagai pembaca bahwa benda mati sekalipun juga punya perasaan, jadi perlakukan mereka dengan sebaik-baiknya. Tidak baik untuk memendam obsesi berlebihan akan sesuatu karena akan berdampak buruk ke depannya.

Overall, kamu ingin mencicipi sebuah novel fantasy-romance karya penulis Indonesia, kamu bisa mencoba membaca novel ini. Dijamin jatuh cinta dengan kisah Claudia-Fereli ini :)
"Aku bahkan yakin, meski bukan karena obsesi Sophie, meski kita tak diberi tahu bahwa kita berpasangan, meski kita saling benci, meski kita adalah musuh bebuyutan yang sejak awal dikutuk untuk senantiasa berseteru, dan meski kita adalah bumi yang membara dan langit yang membeku, kurasa kita akan berakhir bersama. Satu. Kita akan tetap saling menyukai, saling mencintai. Kita akan tetap jadi pasangan. Sebab, sejak pertama kali aku diletakkan di etalase ini dan bertemu denganmu, saat sorot mata kita bertemu untuk pertama kalinya, aku langsung menyadari bahwa aku mencintaimu. Kau diciptakan untukku, begitu pun aku diciptakan untukmu, bukan untuk Sophie atau siapapun!"
Resensi ini diikutsertakan dalam Gebyar Resensi Maneken yang diadakan oleh Penerbit Republika.

15 komentar:

  1. Sadar nggak sadar, mreka hidup dg cara mereka ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya baca novel ini jadi ngebayangin loh jiah, seandainya maneken itu beneran *hidup* gimana ya :)

      Hapus
  2. Sebenernya saya juga sependapat dengan penulis, karena kadang saya melihat 'kehidupan' pada benda mati. Pasti Claudia ini cantik banget ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ipeh, baca novel ini jadi lebih ingatin buat gak sembarangan perlakukan benda mati. Iya claudia disini dibikin khusus menyerupai sophie loh karena dulunya niatnya sebagai replikanya :)

      Hapus
  3. Belum kesampean miliki novel ini. Padahal aku suka ide ceritanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Erin, setuju aku suka banget ide ceritanya. Karena itu tertarik banget buat bacanya,alhamdulilah berjodoh sama bukunya :)

      Hapus
  4. Sophie pasti menganggap boneka Fereli sebagai pelampiasan. kadang manusia emang gitu, ketika ada masalah pasti selalu mencari sasaran untuk menyalahkan. semoga di buku ini ada pesan tentang menghargai benda mati dan tentang mengendalikan emosi negatif. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya adin, kalau sempat baca juga buku ini ya, gak terlalu tebal sey tapi idenya menarik dan pesannya juga bagus banget dey :)

      Hapus
  5. Ga nyangka. Aku kira fantasy itu ya fantasy pada umumnya. Hal yang ga ada tapi seperti memang ada. Tapi ini, tokoh utamanya ada tapi sering dianggap ga ada. Seolah-olah cerita ini "menghidupkan yang mati"

    Yang mau ditanya, ko penulis kepikiran ya buat cerita seperti ini? Konteksnya ga jauh-jauh dari kehidupan sehari-hari

    Salut :) :)

    BalasHapus
  6. Suka dengan ide penulis yang mengingatkan kembali, bahwa sejatinya setiap benda mungkin mmeiliki ruh sendiri. Jadi meski benda mati kita harus selalu memperlakukan dengan baik. Tapi kok resensi ini berasa sedikit banget Mbak ^_^ Semoga sukses Mbak

    BalasHapus
  7. keren review nya, *jempol
    jadi inspirasi aku utk review" novel nih,, hahaha..
    sip !

    BalasHapus
  8. Makasih, semangat review novel ya :) Sama-sama belajar kita

    BalasHapus
  9. emosi saya diaduk2 baca novel ini :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo Kak Nathalia, makasih sudah mampir ya :) Iya tulisannya menarik ya, semoga akan ada novel baru lainnya yang tidak kalah unik ceritanya ya

      Hapus

Design By Wulansari | Blogger Theme By Black Coffee Design