Rabu, 20 Juli 2016

[Book Review] Bowl of Happiness

Judul Buku : Bowl of Happiness
Penulis : Sophie Maya
Penerbit : GPU
Tebal : 280 Halaman
Terbit : Maret 2016
ISBN : 978-602-03-2565-1
Helen hidup dibayangi kenyataan bahwa Mama, Papa, dan ketiga kakaknya menjadi dokter sukses. Didikan Mama yang kaku menghalangi mimpinya menjadi penyanyi. Bahkan ia harus rela pindah ke Semarang dan bersekolah di SMA Sinar Bangsa selama setahun. Sampai ia bisa memperbaiki nilai dan pantas masuk ke Hannigan International School.

Impian Helen mulai muncul kembali ketika melihat Klub Mangkuk Kebahagiaan di SMA Sinar Bangsa. Apalagi melihat sosok pentolan klub, Lulu, yang nyentrik dan selalu berusaha menghibur semua orang dengan permainan gitar yang ceria dan meriah. Mama berkeras agar Helen menjauhi klub itu agar tidak menggangu waktu belajarnya. Apalagi dengan fakta bahwa Lulu sudah dua kali tidak naik kelas.

Namun daya tarik klub dan anggota-anggotanya terlalu kuat bagi Helen. Perlahan ia mengikuti satu demi satu kegiatan yang terasa menyenangkan. Saking larutnya mengikuti kegiatan, Helen lupa belajar dan nilai-nilainya turun.

Helen dilema. Apakah ia harus menyerah dan mengikuti obsesi Mama? Atau terus mengejar impiannya menjadi penyanyi?

----------------------------
“Kenapa kamu begitu terobsesi dengan nilai dan peringkat? Kita itu sekolah buat belajar, buat cari teman, dan buat menemukan jati diri kita sendiri. Kita sekolah bukan buat dapat nilai tinggi dan peringkat satu di kelas.” (hlm.142) 
Terlahir sebagai anak bungsu, dari orang tua yang sukses dalam karir di dunia kedokteran, membuat Helen mendapatkan tekanan yang sama untuk bisa sama bahkan melebihi apa yang telah dicapai kedua orang tuanya. Sejak kecil, Helen sudah dituntut untuk bersekolah bahkan kuliah di jurusan kedokteran seperti orang tua dan ketiga kakaknya. Helen pun harus membunuh impiannya untuk menjadi penyanyi, padahal menyanyi adalah salah satu kebahagiaan bagi Helen. 
“Nilai tidak menentukan hidup kamu hancur atau nggak. Roda hidup bakal terus berputar meski nilai pelajaran kita seperti jalan di tempat. Tapi aku yakin, kita akan baik-baik saja dengan semua itu. Sebab hidup kita memang nggak pernah diukur dari deretan angka-angka di rapor.”(hlm.143) 
Helen tumbuh besar dengan tuntutan untuk bisa mendapatkan nilai yang sempurna dan peringkat kelas tertinggi. Sayangnya, seberapa pun kerasnya Helen belajar, Helen tak bisa memenuhi ekspektasi mamanya. Hasil UN Helen tidak mencukupi untuk masuk ke SMA favorit yang diinginkan oleh mamanya, membuat mamanya marah dan mengirimkannya ke Semarang selama 1 tahun untuk bersekolah di SMA Sinar Bangsa. Mamanya berharap Helen bisa meraih peringkat kelas tertinggi di sekolahnya dan bisa masuk ke Hannigan Internation School di tahun kedua. 

Awalnya Helen hanya berusaha belajar sesuai dengan perintah mamanya demi nilai dan peringkat terbaik. Namun, semua berubah saat Helen bertemu dengan Lulu, ketua Klub Mangkuk Kebahagiaan. Klub yang hanya beranggotakan 4 orang saja, Lulu, Angkasa, Karina dan Anya ingin merekrutnya sebagai anggota baru. Lulu yang pernah tidak naik kelas 2 kali dan sosoknya yang agak nyentrik, membuat Helen penasaran. Apalagi Lulu seakan bahagia dengan hidupnya bahkan berusaha untuk membahagiakan semua orang di sekolahnya. Ternyata, tanpa orang lain tahu, Lulu pun punya rahasia besar yang disimpannya. 
“Mangkuk adalah semacam tempat untuk menampung sesuatu, dan nggak seperti piring yang datar, benda-benda yang ditaruh di mangkuk bisa lebih banyak dan nggak mudah jatuh. Mangkuk kebahagiaan adalah mangkuk untuk menampung kebahagiaan.” (hlm.145) 
Apa yang dirahasiakan oleh Lulu? Akankah Helen bergabung dengan Klub Mangkuk Kebahagiaan? Akankah Helen mengikuti obsesi mamanya untuk menjadi dokter atau mengejar impiannya sebagai penyanyi? 

Membaca novel ini sungguh menarik sekali, novel remaja yang sungguh mengharukan. Dari segi tema sederhana, tapi penulis mampu membuatku larut dengan kisah Helen, Lulu dan Klub Mangkuk Kebahagiaan. 

Novel ini mencoba memotret kondisi yang nyata di masyarakat. Kadang-kadang orang tua lupa terlalu memaksakan keinginan dan obsesinya sendiri dan membebani anak dengan segala tuntutan berlebihan. Seharusnya anak tumbuh menjadi pribadi yang bahagia, ini malah hidup dengan tekanan untuk selalu mendapatkan nilai baik dan peringkat di kelas. Melalui novel ini, kita coba diingatkan kembali untuk mendukung segala impian anak asal positif, bukannya memaksakan kehendak kita sebagai orang tua. Kebahagiaan anak yang utama, bukan sekedar nilai dan peringkat di kelas saja. 

Selain itu, ada kisah persahabatan yang sungguh mengharukan. Kisah yang membuatku kagum dengan sosok Lulu yang luar biasa. Bukannya menyerah dengan keadaan yang menimpanya, dia malah memilih untuk bangkit. Bahkan Lulu menjadi seorang remaja luar biasa yang memberikan semangat dan kebahagiaan untuk orang lain. 
“Aku memang mengidap penyakit tapi bukan berarti aku akan menyerah pada keadaan. Aku akan terus berjuang sekuat tenaga agar bisa bangun di pagi yang sama dengan kalian. Aku ingin kalian memperlakukanku seperti orang lain agar aku lupa dengan penyakitku, agar aku bisa tersenyum dan tertawa tanpa beban.” (hlm.261) 
“Kematian adalah sebuah rahasia yang bahkan tidak bisa diramalkan oleh Lulu atau siapa pun. Lulu yakin suatu saat baik dirinya, atau pun Helen, Angkasa, Anya dan Karina akan mati dan meninggalkan dunia. Namun, daripada kita hanya memikirkan kapan akan meninggalkan dunia, lebih baik memikirkan apa yang bisa kita lakukan selagi diberi kesempatan menari di atas dunia.”(Hlm.278) 
Novel ini tidak hanya cocok dibaca untuk remaja saja, agar selalu ingat untuk berjuang meraih impiannya. Juga cocok dibaca untuk orang tua, agar tidak memaksakan kehendak dan obsesinya terhadap anak.

Terima kasih untuk SCOOP, Gramedia Pustaka Utama dan Gramedia.com yang telah memberikan novel ini untuk saya baca dan review. Kalau kamu tertarik untuk membacanya, kamu bisa juga membacanya versi digital/e-book loh, dan harganya jauh lebih murah daripada buku cetak. Hanya modal gadgetmu saja, kamu sudah bisa membaca buku ini kapan pun dan dimana pun.

6 komentar:

  1. Mba kalau uda baca di scoop itu bisa di download apa cuman baca aza mba?truz kalau ga selsei bacanya masuk lagi gitu mba?belum paham :p

    BalasHapus
  2. Scoop itu toko buku online khusus jual ebook, harganya jauh lebih murah. Jadi pertama punya akun scoop dulu (daftar pakai email), nanti tinggal donlod aplikasinya di gadgetmu. Untuk pembelian, disarankan langsung di webnya getscoop.com karena harganya gak kena pajak. Kalau mau baca, tinggal donlod saja (bisa dibaca kapan saja) di gadget maupun online lewat webnya kalau mau baca via laptop/pc

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  5. Maaf sebelumnya saya mau tanya, sya ada tugas meresensi novel dan saya memilih novel bowl of happiness, setelah saya cek tentang profil penulis ko ga ada ya, tolong beritahu profile penulis novel tersebut, terimakasih :)

    BalasHapus

Design By Wulansari | Blogger Theme By Black Coffee Design