Kamis, 28 Juli 2016

[Book Review] Sang Penakluk Kutukan

Judul Buku : Sang Penakluk Kutukan
Penulis : Arul Chandrana
Penerbit : Republika
Tebal : 292 Halaman
Terbit : Februari 2016


Sosok itu memiliki rambut yang tumbuh jarang-jarang. Salah satu telinganya memiliki ukuran yang jauh lebih kecil karena mengerut. Dan wajahnya… wajah itu rusak seluruhnya. Tidak ada alis atau bulu mata di sana. Hidungnya berpilin, bibirnya bengkak dan keriput, serta mulutnya serupa seringai seperti gambar patung Batara Kala di buku pelajaran. Di pipi yang berkerut kasar, terdapat banyak cekungan. Kemudian, sebuah pikiran menyergap benak Ranti, “Inikah Akdong? Makhluk terkutuk yang diusir dari desa sepuluh tahun lalu?”

*** 
Ranti tidak pernah berharap bahwa dia akan bertemu dengan Akdong yang ditakuti penduduk desa, dibenci, dihindari, dan diyakini sebagai sumber dari segala malapetaka. Akdong adalah makhluk kutukan yang telah diusir satu dekade lalu dari desa, dan pertemuan Ranti hari itu akan menjadi awal tragedi berikutnya bagi penduduk Desa Kumalasa. 

Sang Penakluk Kutukan bercerita tentang kebencian yang diwariskan, desas-desus yang meracuni, raja jin dan kekuasaannya, persahabatan dan pengkhianatan, keluarga dan permusuhan, serta tentu saja kutukan dan perlawanan. Semua itu bermula dari perjalanan seorang gadis kecil menuju salah satu pantai terbaik di dunia, Pantai Labbhuan. 

------------------------

Novel ini memang bukanlah novel romansa percintaan seperti yang biasanya yang kubaca, tetapi sejak membuka halaman awal novel ini, aku sudah jatuh cinta dengan ceritanya. Cerita yang terasa sederhana, tetapi ternyata sarat makna. Novel yang dikemas dengan cukup mengalir, walau memang untuk kamu yang tidak terlalu suka dengan banyaknya narasi, akan terasa membosankan di awal kisah. Namun, percayalah teruskanlah membaca dan kau akan menemukan banyak hikmah saat membaca novel ini. 

Novel ini mengisahkan tentang seorang gadis kecil, bernama Ranti yang hidup nyaman bersama kedua orang tuanya di sebuah desa di Pulau Bawean. Ada sebuah mitos yang menakutkan yang sudah turun-temurun ada di dalam desanya tentang keberadaan sesosok makhluk kutukan. Sosok yang wujudnya seperti manusia, tetapi penampilannya sungguh menyeramkan. Sosok itu adalah Akdong, seseorang yang pernah terusir dari desa beberapa tahun yang lalu. Semua orang takut kepadanya, karena menganggap dia adalah makhluk kutukan dan siapa pun yang dekat bahkan bertemu dengannya akan mendapatkan kutukan darinya. 

Hingga suatu hari, Ranti pun bertemu dengan sosok Akdong dan Aknang, anaknya. Namun, tidak terjadi sesuatu yang ditakutkan oleh Ranti. Ternyata itu bukanlah pertemuan pertama sekaligus terakhir bagi mereka, akan ada pertemuan-pertemuan lainnya yang mengubah hidup Ranti dan keluarganya. Pertemuan yang melahirkan persahabatan bagi Ranti dan Aknang, yang seharusnya membawa kebahagiaan tapi berujung fitnah bagi keluarganya.
“Kebanyakan orang tidak menyadari awal dari setiap peristiwa besar. Bahkan tidak oleh mereka yang mengalaminya sendiri. Barulah beberapa tahun kemudian, ketika segala sesuatunya sudah telanjur terjadi dan orang-orang mulai bertanya dari mana semua ini bermula, mereka akan mengingat kembali kapan semua itu dimulai.” (hlm.29) 
Membaca novel ini sungguh menyenangkan sekali, Kak Arul mampu mengangkat isu lokalitas yang sangat kental sekali di masyarakat. Hal yang terasa dekat sekali dengan kehidupan sehari-hari. Bagaimana masyarakat sudah terlalu terbiasa hidup dengan mitos-mitos bahkan kepercayaan yang sulit dibuktikan kebenarannya. 
“Kebohongan yang diulang-ulang pada akhirnya akan terdengar seperti kebenaran. Apalagi jika yang menceritakannya orang yang dihormati, seperti orang-orang yang dituakan, maka cerita bohong sekalipun akan tampak seperti kenyataan.” (hlm.42)
Pemilihan setting tempat di Pulau Bawean juga menjadi sebuah nilai tambah yang menarik, yang mendukung kisah Ranti ini menjadi semakin menarik. Salut buat Kak Arul yang berani mengambil setting tempat yang berbeda dari yang biasanya dilirik oleh penulis lainnya. Alih-alih mengambil setting tempat yang sudah dikenal, bahkan setting perkotaan yang biasanya lebih banyak digunakan, Kak Arul mengambil setting sebuah pulau yang terasa cukup asing di telinga. Setting tempat yang membuatku penasaran dan cukup antusias saat membacanya, karena nuansa lokalitas yang sungguh terasa sekali.

Pemilihan tokoh seorang gadis kecil seperti Ranti juga menarik. Ranti yang pada akhirnya berperan banyak mengubah semua pandangan masyarakat tentang si makhluk kutukan. Namun, Kak Arul berhasil mempertahankan peran Ranti layaknya gadis kecil seusianya, tetap konsisten tidak berubah menjadi layaknya orang dewasa.

Aku suka bagaimana Kak Arul dengan narasinya secara perlahan-lahan mengenalkan sosok Ranti dan masyarakat desanya. Bagaimana kepercayaan turun-temurun tentang makhluk kutukan bernama Akdong yang sudah menjadi isu yang begitu hangat dalam kehidupan Ranti dan masyarakat setempat. Namun, kepercayaan dan mitos mengenai makhluk kutukan itu sendiri belum dapat dibuktikan kebenarannya. Bagaimana mitos, kepercayaan maupun desas-desus yang ada akhirnya semakin terkendali dari mulut ke mulut, benar-benar menggambarkan masyarakat saat ini, yang lebih memilih percaya dengan hal-hal seperti ini daripada memikirkan kebenarannya.
"Terkadang kebenaran terlalu membingungkan sehingga kebohongan tampak lebih nyata dan bisa diterima." (hlm.75)
Novel ini tidak hanya menyoroti tentang mitos-mitos yang ada di desa Ranti saja tentang makhluk kutukan, tetapi ada kebencian dan iri hati yang membuat Ranti harus merasakan perlakuan buruk di sekolahnya. Perlakuan buruk yang membuat Ranti kadang-kadang sedih bahkan tidak ingin lagi bersekolah. Untuknya, Ranti punya orang tua yang bijak dan mampu mengarahkan anaknya ke arah yang lebih baik.
"Kau tidak bisa melawan orang yang menghinamu dengan menghina mereka, Sayang. Kau hanya bisa melawan mereka dengan menunjukkan prestasi yang hebat." (hlm.12)
“Jika kau menghina balik orang yang menghinamu, Nak, apakah itu membuatmu menjadi lebih baik? Apakah dengan menghina mereka tiba-tiba kamu menjadi lebih pintar dan mereka berkurang ilmunya satu halaman? Tidak. Justru yang kau dapatkan hanya pertengkaran yang semakin panas. Tapi jika kau menunjukkan prestasi yang hebat sebagai jawaban atas penghinaan mereka, kau akan membuat mereka kalah dan diam selamanya.” (hlm.12)
Aku sangat menikmati membaca kisah Sang Penakluk Kutukan ini, tema yang terasa familiar sekali dikemas dengan bahasa dan gaya menulis yang cukup mengalir. Aku bisa merasakan apa yang ada di dalam pikiran dan perasaan Ranti terkait semua hal yang terjadi dalam hidupnya, apalagi sejak pertemuannya dengan Akdong yang mengubah hidupnya sedemikian rupa. 

Membaca novel ini menimbulkan sejumlah perasaan yang berbeda, berkumpul menjadi satu. Novel yang sungguh menyentuh, banyak pemahaman tentang kehidupan, persahabatan, nilai-nilai kebaikan, hingga kepercayaan turun-temurun yang diulas dengan sangat baik dalam buku ini. Sebuah kisah sederhana dengan latar Pulau Bawean yang indah, jadi ingin berkunjung kesana setelah membaca buku ini.
“Kupikir, setiap bocah yang lahir ke dunia akan mewarisi kemarahan orang tuanya, mewarisi kebencian masyarakatnya, mewarisi ketakutan budayanya. Apa pun hal-hal yang dibenci maupun yang ditakuti, tidak dimiliki anak-anak sejak lahir, tapi orang tua, lingkungan dan budaya lah yang mewariskan semua itu pada mereka. Maka setiap bocah lahir memikul tanggung jawab untuk menghapus tiga kutukan tersebut. Mereka harus bangun di atas kakinya sendiri, melepaskan dirinya dari warisan yang buruk, dan berusaha sedapatnya untuk menyudahinya. Dan jadilah mereka para penakluk kutukan berikutnya.” (hlm.285)
Terima kasih Kak Arul telah berbagi kisah yang sungguh inspiratif sekali.
“Kabar buruk menyebar lebih cepat dari hantaman badai, dan cerita bohong membesar lebih cepat dari serbuan banjir. Butuh lebih dari setengah abad untuk mengajak semua orang memercayai kebaikan dan hidup dalam kebenaran, dan hanya butuh kurang dari satu hari untuk membuat orang percaya kabar buruk dan hidup dalam kebohongan.” (hlm.239)

1 komentar:

  1. Sepertinya cerita yang menarik sekali ini Ky, jarang-jarang ada yang mengangkat unsur mistis dalam kisah percintaan

    BalasHapus

Design By Wulansari | Blogger Theme By Black Coffee Design