Jumat, 18 November 2016

[Book Review] Fated Love

Judul Buku : Fated Love
Penulis : Yulia Ang
Penerbit : Ellunar Publisher
Tebal : 353 Halaman
Terbit : Agustus 2016
Apa yang terjadi jika kamu mencintai laki-laki yang sepuluh tahun lebih muda darimu? Cellonita Clara adalah pegawai hotel yang harus berada dalam situasi tersebut. Ia dipertemukan dengan seorang pemuda SMA bernama William Albert - Alias Will, yang notabene adalah seorang anak tunggal dari keluarga konglomerat. Belenggu cinta tak dapat dihindari oleh kedua insan tersebut. Mereka memadu kasih layaknya pasangan-pasangan lain. Hingga tanpa disadari, masalah demi masalah datang bertubi-tubi menghadang hubungan percintaan mereka. Belum lagi mengenai Adam - sahabat baik Cello yang belakangan memendam perasaan pada sang karib. Lalu, akankah Cello mempertahankan hubungan cintanya dengan Will yang penuh dengan masalah pelik? Atau, akankah ia berpaling pada Adam, sahabat yang sangat disayanginya? Kemanakah sang takdir akan membawa cinta ketiganya?


-------------------------
"Usia itu hanyalah sebuah angka. Kematangan serta kedewasaan seseorang tidak bisa diukur dari usianya. Sesungguhnya bagaimana dia bersikap, bagaimana dia berkata, dan bagaimana dia memperlakukanmu, itu yang bisa mengukur kedewasaan seseorang." (Halaman 81)
Fated Love merupakan karya pertama Yulia Ang yang kubaca. Mengisahkan mengenai kehidupan Cellonita Clara, seorang wanita berusia 37 tahun yang bekerja sebagai pegawai hotel.  Di usianya yang cukup matang, Cello masih single dan belum mempunyai seorang kekasih. Cello mempunyai seorang sahabat bernama Adam, yang hubungannya dekat sekali sehingga kadang-kadang orang salah menyangka bahwa mereka adalah sepasang kekasih.

Suatu hari Cello bertemu dengan  Angela Wisnuhutama. Nyonya Angela yang terpukau dengan kemampuan Bahasa Inggris Cello menawarkan pekerjaan sebagai tutor anaknya, William Albert untuk jangka waktu 6 (enam) bulan.

William sendiri adalah seorang remaja berusia 18 tahun yang sekarang masih duduk di SMA tahun terakhir. Walaupun bersekolah di SMA internasional, sayangnya pelajaran Bahasa Inggris Will malah jauh dibawah rata-rata. Will bukanlah anak yang bodoh, tetapi Will lebih memilih untuk tidak mengikuti pelajaran Bahasa Inggris daripada bertemu Velisya, siswi SMA yang terus saja mengejarnya.
"Sebenarnya, cinta itu tidak rumit. Manusialah yang membuatnya tampak rumit. Cinta itu sederhana saja. Ia hanya perlu tahu." (Halaman 87)
Tak disangka, di hari pertama Will bertemu dengan Cello, Will jatuh cinta pada pandangan pertama. Will jatuh cinta kepada Cello, walau dia tahu kalau usia Cello jauh di atasnya. Cello pun akhirnya menerima tawaran pekerjaan dari ibu Will sebagai tutor Will.

Semakin lama hubungan Will dan Cello semakin dekat saja. Will tak kuasa membendung perasaannya, sedangkan Cello sendiri kebingungan dengan getaran aneh yang senantiasa hadir saat dirinya berada dekat dengan Will.                                                          
"Aku memang baru berusia delapan belas tahun. Aku mungkin hanya anak SMA yang sangat kurang ajar telah berani mencintaimu. Aku juga mungkin bukan pria yang kau harapkan, tapi aku pria yang akan berdiri di depanmu untuk melindungi dan menghadang luka ataupun bahaya yang datang menerpamu." (Halaman 118)
Will pun akhirnya memilih untuk menyatakan perasaannya terhadap Cello. Cello tentu saja kaget dengan pernyataan cinta Will. Apalagi di saat yang sama, Adam sahabatnya menunjukkan perasaan yang sama terhadapnya. Cello berada di persimpangan, kepada siapa dia harus menjatuhkan pilihannya. Will atau Adam?
"Persahabatan laki-laki dan perempuan itu ujung-ujungnya pasti akan tumbuh benih-benih cinta. Dan, Nona, kau sangat beruntung ada dua pria tampan yang menyukaimu." (Halaman 96)
Namun, akhirnya Cello pun menentukan pilihannya. Sayangnya, Cello tak menyangka pilihannya itu akan membuatnya harus terlibat berbagai banyak masalah, termasuk kehilangan pekerjaan dan keluarganya pun ikut-ikutan menanggung akibatnya. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Bagaimana akhir kisah Cello? Siapa yang akan menjadi pilihan hati Cello?

Membaca novel ini sungguh menyenangkan, aku tak menyangka aku bakal menyukai kisah Cello ini. Ide ceritanya sungguh sederhana dan mudah tertebak, tapi aku dibuat larut dengan kisah Cello ini. Aku dibuat simpati dengan Cello yang harus jatuh bangun memperjuangkan perasaannya, kemudian dia harus memilih mana yang terbaik bagi kehidupannya. Semua keputusannya terasa realistis sekali, karena kondisi saat itu juga tidak memungkinkan.

Baik Cello, Will maupun Adam, sama-sama mempunyai karakter yang kuat dan mereka saling melengkapi dan memperkuat cerita. Rasanya jika berada di posisi Cello, aku pun akan sulit sekali untuk memilih di antara Will atau Adam. Keduanya punya kelebihan yang membuat wanita mana saja bakal takluk, termasuk Cello. 

Walaupun usia will tergolong masih muda, tetapi selama membaca novel ini aku merasakan Will malah lebih dewasa dari usianya. Malah kadang-kadang Cello dan Adam yang bersikap kekanak-kanakan.

Yulia Ang mampu menghadirkan sebuah kisah romansa yang menghangatkan hati dan cukup menguras emosi. Tentunya tidak mudah menjadi seorang Cello. Setiap orang pasti ingin mencintai dalam keadaan biasa saja, perjalanannya pun lancar, tetapi takdir sering berkata lain. Kali ini, Cello malah dibuat jatuh cinta dengan pria yang jauh di bawahnya. Mulai dari perbedaan usia, status sosial hingga hal lainnya membuat keduanya harus benar-benar memperjuangkan cintanya jika ingin berhasil.

Walau jujur di bagian pertengahan aku sempat kaget kalau cerita bakal berbeda, jauh dari perkiraanku, tetapi aku tetap masih bisa menikmatinya. Sayangnya, sejak awal sebagai pembaca aku sudah tahu siapa yang dipilih oleh Cello, karena di prolog pun sudah kelihatan, padahal alangkah bagusnya jika bagian ini sedikit ditutupi, sehingga membuat pembaca menebak-nebak sendiri siapa pria yang berhasil mendapatkan Cello.

Setiap tokoh yang ada seperti Nyonya Angela, Tuan Kim, Aira, Didi bahkan Velisya punya peran masing-masing yang semakin memperkuat cerita.

Selain itu, walau novel ini memang diterbitkan secara self-published, tapi tulisan Yulia Ang sudah cukup mengalir dan tidak terlalu banyak typo. Semoga Yulia Ang bisa terus menulis dan karya selanjutnya bisa diterbitkan di penerbit mayor.

Overall, membaca novel ini kamu akan belajar bahwa jodoh akan selalu datang tepat waktu, sekali pun harus melewati jalan terjal berliku. Cinta tidak pernah memandang usia, status sosial, atau apapun, jika sudah jatuh cinta apapun bisa terjadi.
"Ya...itulah namanya cinta. Cinta tidak membutuhkan alasan. Cinta juga tak mengenal usia, waktu, dan tempat. Dia hanya datang begitu saja saat takdir sudah memutuskan." (Halaman 124)

2 komentar:

  1. masya allah covernya cantik banget :D illustratornya siapa mba ?

    BalasHapus
  2. Wah, 10 tahun?
    Untung WIll anak orang kaya, hehe..

    kayaknya cerita sederhana namun bisa ngasi banyak pelajaran juga, aku berharap ceritanya ditulis secara realistis..

    BalasHapus

Design By Wulansari | Blogger Theme By Black Coffee Design