Sabtu, 10 Desember 2016

[Book Review] The Number You Are Trying to Reach is Not Reachable

Judul Buku : The Number You Are Trying to
Reach is Not Reachable
Penulis : Adara Kirana
Penerbit : Bukune
Tebal : 298 Halaman
Terbit : Oktober 201

Kata orang-orang, aku ini genius dan kelewat serius.



Oke, memang koleksi piala dan medali olimpiadeku sedikit lebih banyak dari jumlah perempuan yang dilirik Zeus. Aku masih seusia anak kelas sepuluh, tapi sudah ikut beberapa try out SBMPTN, dan dapat nilai paling tinggi.



Namun, Kak Zahra—guru homeschooling-ku-menganggapku perlu bersosialisasi. Katanya, biar "nyambung" sama orang-orang.



Untuk apa? Aku punya teman kok: Mama, Kak Zahra, Hera, dan... saudara-saudara yang sering kulupa namanya.

***
“The Thirteen Books of Euclid's Elements. Buku itu bisa kamu dapat asal kamu mau masuk SMA,” tantang Kak Zahra suatu hari.

Tidak mungkin. Itu kan, buku legendaris yang ditulis sejak abad ketiga sebelum Masehi. Aku ingin sekali mengoleksi dan mempelajarinya sendiri. Rasanya pasti lebih memuaskan.

"Oke, aku coba satu semester, ya," jawabku mantap.

Demi buku itu, bolehlah aku jalani hidup sebagai anak SMA biasa. Lagi pula, sesulit apa "nyambung" sama orang-orang?

--------------------
Aira sangat suka belajar. Sudah 16 tahun dia belajar melalui homeschooling, dan tidak belajar lewat sekolah formal. Aira pernah bersekolah sebelumnya, waktu kelas satu SD, tapi karena semakin lama dia bersekolah, dia merasakan tidak cocok dengan anak-anak di sekelilingnya, akhirnya dia pun mengundurkan diri.

Selama ini Aira sangat menikmati kehidupannya. Dia tidak punya teman banyak, hanya kepada Mama dan Kak Zahra, guru lesnya saja dia bisa bercerita banyak. Hingga suatu hari, Kak Zahra membawa informasi mengenai lomba cerdas cermat matematika dan hadiahnya sungguh menggiurkan sekali. Hadiah berupa The Thirteen Books of Euclid's Element's, hasil terjemahan Thomas Heath. Buku aslinya ditulis oleh Matematikawan Yunani bernama Euklides di awal abad ke-3 SM.

Aira sudah pernah membaca buku itu sampai selesai, tapi hal itu tetap membuatnya tertarik mendapatkan buku istimewa itu. Namun, betapa kagetnya Aira bahwa dia harus bersekolah untuk bisa mengikuti lomba itu. Kak Zahra pun membujuk Aira untuk memikirkan untuk kembali ke sekolah formal, SMA seperti anak-anak seusianya.
"Percaya sama kakak, kalau kamu masuk sekolah, banyak hal yang kamu bisa pelajari. Misalnya dari ekskul, organisasi dan segala macam. Percuma kalau kamu pintar, tapi kamu enggak bisa bersosialisasi dengan baik." (Halaman 4)
Banyak hal yang dikemukakan oleh Kak Zahra, dan membuat Aira cukup berpikir. Apalagi Kak Zahra yakin bahwa dengan bersekolah Aira bisa bersosialisasi dan punya banyak teman.
"Nah, emangnya kamu enggak mau, kalau setiap kamu melangkah, kamu punya teman? Punya orang yang bisa kamu ajak bicara dengan nyaman? Dunia ini luas dan Kakak yakin kaki kamu nggak mungkin melangkah di sini-sini aja. Kamu pasti bakal melangkah jauh. Satu teman saja enggak cukup buat dunia yang luas ini, Aira." (Halaman 5)
Hal ini ternyata didukung oleh Mama Aira yang memang sejak lama ingin melihat Aira bersekolah kembali. Papa, Hera dan Viona, mama tirinya pun antusias sekali mendengar Aira akan kembali masuk SMA. Walau itu pun harus dengan perjanjian dan Aira baru akan mencoba selama 1 semester dulu, hanya untuk mengikuti lomba cerdas cermat itu.
"Gue kira orang pinter kayak lo tahu kalau sosialisasi itu hal yang penting di hidup. Lagian, pelajaran enggak cuma didapetin dari buku. Lo juga bisa belajar dari orang-orang di sekitar lo. Bahkan, ada beberapa pelajaran yang cuma bisa lo dapetin dari pengalaman langsung bukan dari buku-buku besar lo itu." (Halaman 20)
"Dan menurutku, setiap pengalaman yang bisa kualami di hidup sudah diwakili oleh banyak orang-orang hebat. Orang-orang yang kemudian menuliskan atau dituliskan kisahnya, aku selalu belajar tentang kehidupan dari biografi atau autobiografi seperti itu. Jadi, ketika Hera mengatakan bahwa ada pelajaran yang tidak bisa kudapatkan dari buku, dia pasti sedang bercanda." (Halaman 20)
Aira pun akhirnya kembali masuk SMA. Awalnya dia merasa berbeda dengan yang lain, tapi perlahan-lahan dia menemukan seorang teman baru, Kalila. Juga Rio seorang teman yang malah mengajaknya untuk mengikuti kelas tambahan untuk siswa-siswi yang bernilai kurang.

Aira takut terlihat aneh, jadi Aira pun mulai menutupi kepintarannya dan bersikap seperti siswi biasa-biasa saja, tanpa menunjukkan bahwa dia punya IQ di atas rata-rata dan dia sudah menguasai semua materi SMA.
"Terserah kamu, sih. Asal jangan sampai, kesannya kamu kayak bohong gitu. Malah jadi masalah nanti." (Halaman 71)
Perlahan-lahan Aira pun mulai nyaman dengan kehidupan barunya. Aira mulai bisa membuka diri kepada teman-teman baru. Bahkan Aira jadi bisa tahu banyak bahasa gaul dari teman-temannya. Aira pun mulai memahami bahwa benar ada banyak hal yang bisa dipelajari dari kehidupan, bukan hanya dari buku saja.
"Gue belakangan ini belajar kalau gue enggak bisa menilai orang dari luarnya saja, dan gue sadar kalau lo juga benar tentang enggak semua hal bisa dipelajari dari buku teks. Ada hal-hal yang harus kita alami dan pelajari sendiri." (Halaman 103)
Tapi, lama-lama Aira juga mulai takut akan perubahan dirinya. Takut bagaimana jika orang-orang tahu bahwa selama ini dia menutupi kepintarannya? Bagaimana pandangan teman-temannya, termasuk Kalila, Rio dan guru les tambahannya, Arka akankah mereka berubah kepadanya?
"Kalau kamu mengubah satu hal di hidup kamu, lama-lama seluruh hidup kamu akan berubah." (Halaman 109)
Akhirnya menemukan 1 (satu) lagi novel yang membuatku begitu hanyut saat membacanya. Gak menyangka, novel ini membuatku penasaran membaca sejak halaman awal hingga akhir.

Senang sekali bisa kenalan dengan sosok Aira, sosok remaja yang pintar dan sangat suka belajar. Dia memang unik dan berbeda dengan remaja seusianya. Dia selalu haus akan ilmu dan bagi dia belajar itu kayak bermain, tiada hari tanpa belajar.

Awalnya bingung ada ya remaja seperti itu, tapi saat tahu kehidupan keluarganya aku bisa memahami. Dia benar-benar duplikat mamanya. Mamanya juga pintar, tapi senang bersosialisasi. Hal yang berbeda dengan Aira yang kurang luwes dalam pergaulan.
"Selain bahasa gaul, lo juga harus belajar cara hidup remaja-remaja sekarang. Percuma lo bisa bahasa gaul kalau lo enggak bisa bertahan hidup." (Halaman 131)
Hingga iming-iming buku istimewa yang dia inginkan, dia pun mulai keluar dari zona nyamannya. Hal ini memang menakutkan bagi Aira, tetapi setelah dijalani dia menemukan banyak hal baru yang tidak bisa didapatkannya dari buku. Dan lebih enak langsung didapatkan dari pengalamannya sendiri.

"Menurut gue, sebaiknya lo jangan terlalu fokus buat berhasil. Kalau lo mikirin harus berhasil terus, bisa-bisa lo malah gagal. Mendingan, lo fokus belajar dan mikir kalau lo harus bisa menguasai materinya, bukan harus lolos." (Halaman 143)
Karakter Aira benar-benar konsisten dari awal hingga akhir. Aira yang memang agak kaku, tetapi perlahan-lahan dia mulai membuka diri. Penulis membuat Aira berubah secara perlahan-lahan, Aira mulai berteman dan bisa mengerti orang lain. Aira mulai bisa memahami apa artinya sosialisasi dan tidak terlalu menonjolkan kelebihannya.
"Menurut saya, bohong itu enggak pernah menghancurkan selama tetap jadi kebohongan. Yang menghancurkan adalah, kalau kejujuran mulai tampak di sela-sela kebohongan." (Halaman 146)

Walaupun Aira takut akan perubahan, tapi perlahan-lahan dia bisa memahami bahwa tidak semua perubahan itu buruk. Dia mulai melihat perubahan dari sisi yang berbeda. Dan ternyata dia bahagia menjalaninya.
"Belajar emang penting, tapi tanpa sosialisasi buat apa? Belaajr dari buku itu penting. Tapi lebih hebat lagi, kalau kita enggak sepenuhnya terpatok sama buku. Mereka bilang 'baca buku, lalu bikin bukumu sendiri, cari pengalaman sendiri." (Halaman 190)
Hingga kemudian rahasia tentang kepintarannya itu menjadi bumerang bagi dirinya. Dia harus memilih antara temannya atau lomba cerdas cermatnya, Aira pun bisa memilih yang terbaik.
"Orang yang benar-benar teman kita, enggak bakal mungkin marah lama-lama. Dan kalaupun dia emang enggak mau maafin kamu padahal kamu udah minta maaf, mungkin itu tandanya kamu harus cari teman lain, karena dia enggak bisa nerima kamu apa adanya." (Halaman 206)
Novel ini memang tidak terlalu mengulas tentang romansa para tokohnya, ada sebagian kisah memang antara sosok Aira, Arka dan juga Rio tapi semua dengan takaran yang pas. Memang novel ini lebih difokuskan untuk perkembangan karakter Aira dan bagaimana dia menyesuaikan diri dengan kehidupan barunya.

Jujur aku awalnya penasaran sekali dengan judul novel ini dan akhirnya bisa kuketahui setelah membaca kisah Aira. Judul yang memang pas menggambarkan kisah Aira ini.
"Karena buat saya, kamu itu kayak nomor yang enggak bisa diraih.
Karena kamu enggak bisa diraih atau seenggaknya, susah diraih. Saya dari dulu tahu kamu pinter, tapi kamu nutup diri. Itu yang saya enggak ngerti kenapa. Buat saya, kamu itu semacam ... misteri. Dan saya beruntung banget bisa kenal sama sesuatu yang enggak bisa diraih."
"Tapi, kenapa harus 'nomor'?"
"Yah, pertama, karena pertama kali kita kenal, gara-gara salah sambung. Kedua, yang paling penting karena kalau nomor enggak bisa diraih, ada suara bilang 'cobalah beberapa saat lagi'. Menurut saya, kamu itu mengundang orang-orang buat kenal sama kamu lebih dalam, dan bikin orang-orang terus mencoba." (Halaman 219)
Kamu mencari sebuah novel remaja yang ringan dan kamu bisa mengambil hikmah dari kisahnya, aku rekomendasikan novel ini untuk kamu baca. Novel yang membuatku jatuh cinta dan membuatku sadar bahwa perubahan akan selalu datang. Mau tidak mau, suka atau tidak suka, tergantung darimana kita melihatnya. Jadi, jangan takut untuk keluar dari zona nyamanmu dan berubah ya, siapa tahu perubahan bisa membawamu menjadi pribadi yang lebih baik dan menemukan hal-hal baru.
"Menurutku, perubahan memang menakutkan. Tapi, itu adalah bagian dari hidup - bagian dari tumbuh besar. Mama pernah bilang, kalau Mama tidak berubah, mungkin aku tidak akan pernah ada. Dan itu benar. Perubahan tidak selamanya buruk, dan lagi pula, menurutku sekarang, perubahan juga dapat menentukan siapa diri kita sebenarnya." (Halaman 287)

3 komentar:

  1. Penasaran sama buku ini :D
    Tapi stoknya di tokbuk online kosong T_T

    BalasHapus
  2. Wah mba kiki punya? hana boleh pinjam mba? :D

    BalasHapus
  3. kak, aku harap yang ini ada give away timenya...

    BalasHapus

Design By Wulansari | Blogger Theme By Black Coffee Design