Selasa, 06 Desember 2016

[Book Review] Sing Me Home

Judul Buku : Sing Me Home
Penulis : Emma Grace
Penerbit : GPU
Tebal : 272 Halaman
Terbit : Desember 2016

Selain menghadapi ibu yang tidak setuju dirinya menjadi penari, Gwen juga harus menerima fakta yang lebih menyakitkan: Hugo, cowok yang selama ini dekat dengannya, ternyata memilih gadis lain. Gwen sadar ia mesti mempertahankan impiannya menjadi penari profesional, meski masih patah hati.

Di tengah situasi itu, Gwen harus mengikuti audisi tari yang sangat penting. Dan di sana, ia bertemu Jared mengabadikan tariannya dalam selembar foto. Sejak itu, nyaris tiap kali, Jared menemaninya latihan tari. Cowok itu memasuki hidup Gwen, dan hidup Gwen tenang kembali.

Namun, bagaimana kalau jauh di dalam hati Gwen, Jared hanyalah pengganti Hugo? Bahwa Hugo-lah yang sebenarnya ia inginkan? 

----------------
Setelah membaca Pay It Forward dan Re-Write aku jatuh cinta dengan tulisan Emma Grace. Tulisan yang ringan tetapi "berisi", begitu tenang tetapi menghanyutkan.

Kali ini, Emma hadir kembali dengan kisah terbarunya, Sing Me Home. Jika kamu sudah membaca Re-Write, kamu akan antusias karena kali ini kamu akan diajak masuk dalam kehidupan Jared, sahabat Beth yang dulunya membuat dia jatuh cinta sekaligus patah hati. Jared yang terasa menyebalkan sekali karena memanfaatkan rasa suka Beth dan malah sibuk dengan kekasih barunya, Gwen.

Dalam Sing Me Home, Emma Grace mengubah pandanganku mengenai Gwen dan Jared. Aku diajak berkenalan dengan sosok Gwen Catherine Tirta, sosok remaja yang sangat menyukai dunia tari dan Hugo Tandiono. 

Perkenalan Gwen dan Hugo di sebuah kafetaria, membuat mereka perlahan-lahan semakin dekat. Jalan hidup Gwen tak  lagi sama sejak mengenal Hugo, mereka jatuh cinta satu sama lain. Hingga takdir kemudian mempermainkan mereka, Corrine sahabat Hugo sedang menderita sakit keras dan dia jatuh cinta terhadap Hugo. Hugo pun memutuskan untuk mendampingi Corrine di hari-hari pengobatannya dan memutuskan untuk menjauh dari Gwen.

"Terkadang hidup terasa tidak adil. Kalau saja manusia bisa protes atas keadilan yang seharusnya mereka terima, maka meja front office di surga pasti sudah penuh oleh surat." (Halaman 56)
Gwen patah hati melihat hubungan Corrine dan Hugo. Di satu sisi dia prihatin dengan kondisi Corrine, tapi di sisi lainnya hatinya juga sakit menahan perasaannya terhadap Hugo. Hingga kemudian Gwen bertemu dengan Jared. Jared yang begitu mengagumi Gwen yang sedang menari, kemudian mereka sering bertemu dan tak lama kemudian mereka pun menjalin hubungan. Tetapi walau sudah bersama Jared, Gwen masih tetap mengingat Hugo bahkan Hugo tak pernah pergi dari hatinya.
"Meski hati Gwen setengah mati menolaknya, ia mengerti budaya begitu kental mengikat. Tak pernah ada sejarah dalam garis keturunan Ma yang berani menolak apa yang orangtua mereka perintah. Bagi budaya Cina, perintah orang tua itu sakral; titah yang tak pernah mereka langgar, apa pun alasannya." (Halaman 48)
Di lain sisi, kesukaan Gwen terhadap dunia tari tidak direstui oleh keluarganya, khususnya Ma. Ma benar-benar terlihat sedih bahkan menentang keras Gwen untuk menari. Padahal Ma tahu Gwen sungguh berbakat dalam bidang seni, tapi Ma malah meminta Gwen masuk ke Fakultas Seni dan Desain, bukan menggeluti dunia tari. 
"Bermain biola maupun menari takkan pernah bisa membuatmu hidup. Jadi, tinggalkan saja kesukaan itu." (Halaman 122)
Hal ini membuat Gwen sering berbohong hanya untuk latihan menari bahkan saat mengikuti audisi menari. Sayangnya, sepandai-pandainya Gwen menyimpan rahasia, akhirnya terbongkar juga. Pertengkaran pun tidak bisa dihindarkan. Ma masih menentang keras Gwen terjun dalam dunia tari, hal ini membuat Gwen dilema. Di satu sisi dia sangat mencintai Ma, tetapi dia juga tidak ingin mengubur impiannya untuk menjadi penari profesional. Ternyata ada alasan di balik sikap Ma yang begitu keras menentang keinginan Gwen. Ada rahasia masa lalu yang begitu pahit untuk dikenang oleh Ma.
"Mungkin tak mudah, tapi aku yakin akhirnya ibumu akan mengerti. Paling tidak ibumu sadar bahwa kamu memang sungguh mencintai dunia tari. Kalian memiliki darah seni yang sama. Kamu mewarisi bakatnya." (Halaman 122)
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Akankah Gwen bisa mewujudkan impiannya untuk menjadi penari profesional? Bagaimana juga kisah asmara Gwen, siapa yang akan dipilihnya Hugo atau Jared?
"Tahukah kamu kenapa aku suka menari? Karena setiap kali menari, aku menjelma menjadi bagian terbaik dalam diriku. Begitu pun saat aku bersama denganmu." (Halaman 157)
Membaca Sing Me Home ini sungguh menghanyutkan, aku begitu terhipnotis membaca sejak halaman awal. Semua pandanganku terhadap Gwen dan Jared berubah dalam novel ini. Emma membuat aku melihat sisi lain dari Gwen dan Jared, bagaimana mereka bertemu dan terjebak dalam hubungan yang sulit. 
"Hati mengerti siapa yang mereka izinkan tinggal di sana. Seperti hati juga mengerti siapa yang tak dapat menetap, walaupun orang itu sudah berusaha keras." (Halaman 239-240)
Gwen yang masih mencintai Hugo dan Jared yang kemudian hadir di sisinya. Awalnya aku berpikir kehadiran Jared bisa menjadi alasan buat Gwen untuk bisa move-on, tetapi melihat interaksi keduanya semua orang pun bisa melihatnya. Sulit juga untuk menyalahkan Gwen, yang membuat dia dan Jared harus terjebak dalam hubungan yang rumit, tetapi itulah kehidupan kadang-kadang kita butuh seseorang untuk mengalihkan perhatian, walau kadang-kadang itu tidak membantu banyak. Jika aku berada di posisi Gwen, aku juga akan bingung memilih, antara Hugo atau Jared, tetapi hati selalu tahu kemana dia akan bermuara. 
"Melarikan perasaanmu pada orang yang tidak tepat bukanlah jalan keluar. Cepat atau lambat kamu sendiri akan merasa terpenjara. Pada akhirnya kamu harus mencintai orang itu untuk bisa berbahagia." (Halaman 131)
Tidak hanya kisah romansa Gwen-Jared-Hugo-Corrine saja, kita juga akan diajak untuk mengenal Gwen yang begitu mencintai dunia tari. Sayangnya, impiannya itu harus terhalang oleh keinginan orang tua. Hal yang terasa manusiawi sekali dan terlihat dekat dengan kehidupan kita. Masalah yang menimpa Gwen ini mungkin juga pernah dialami oleh siapa saja ketika impian berbenturan dengan harapan orang tua, ketika harus memilih untuk memperjuangkan impian atau mengikuti kehendak orang tua.

Aku mengerti perasaan Gwen bagaimana pun tidak mudah untuk memilih. Aku pun dibuat penasaran dengan alasan kenapa Ma begitu menentang keras keinginan Gwen, dan ketika mengetahuinya aku bisa merasakan perasaan Ma. Tentunya tidak mudah bagi Ma. Aku suka bagaimana kakek Gwen, Pop memberikan saran bagi Gwen untuk berbicara secara baik-baik dengan Ma. Nasihat yang begitu bijak sekali. 
"Paling tidak, cobalah. Tahukah kamu, ketika dua orang harus berteriak untuk menyelesaikan persoalan, itu bukan karena mereka tak saling mendengarkan, tapi karena hati mereka terlalu jauh sehingga teriakan diperlukan untuk menjembatani jaraknya." (Halaman 201)
Membaca novel ini akan mengingatkanmu untuk memperjuangkan impianmu. Jika ada halangan dan hambatan, anggap sebagai warna dalam perjalanan meraih impianmu. Jika kamu yakin, perjuangkanlah apa yang kamu yakini itu.
"Cita-cita bukanlah sekedar cita-cita. Mereka mendefinisikan siapa dirimu yang sesungguhnya." (Halaman 191)
Menjelang ending, aku suka bagaimana Emma mengakhiri kisah ini. Ending yang realistis sekali, menutup novel ini dengan manis. 
"Berjuang untuk mendapatkan apa yang membuat kita bahagia adalah hal yang tak bernilai di dunia." (Halaman 77)
Overall, kamu mencari sebuah kisah tentang impian, cinta dan keluarga, aku rekomendasikan Sing Me Home untuk kamu baca. Semoga kamu bisa mengambil hikmah dari kisah Gwen. Terus semangat meraih impianmu ya.....

3 komentar:

  1. Mbak, kisah cintanya sendiri sedikit dipaksakan nggak? Aku baca Pay It Forward dan nggak dapat chemistry romance-nya sih. Kayak gitu nggak Sing Me Home ini? Penasaran pengin baca tapi ya gitu hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gak Kok Dah, aku paling suka yang Sing Me Home ini diantara 3buku Emma yang sudah terbit. Kelihatan lebih matang dan rapi tulisannya :D

      Hapus
    2. Ok, thanks mba ky :D

      Hapus

Design By Wulansari | Blogger Theme By Black Coffee Design