Kamis, 28 Juli 2016

[Book Review] Sang Penakluk Kutukan

Judul Buku : Sang Penakluk Kutukan
Penulis : Arul Chandrana
Penerbit : Republika
Tebal : 292 Halaman
Terbit : Februari 2016


Sosok itu memiliki rambut yang tumbuh jarang-jarang. Salah satu telinganya memiliki ukuran yang jauh lebih kecil karena mengerut. Dan wajahnya… wajah itu rusak seluruhnya. Tidak ada alis atau bulu mata di sana. Hidungnya berpilin, bibirnya bengkak dan keriput, serta mulutnya serupa seringai seperti gambar patung Batara Kala di buku pelajaran. Di pipi yang berkerut kasar, terdapat banyak cekungan. Kemudian, sebuah pikiran menyergap benak Ranti, “Inikah Akdong? Makhluk terkutuk yang diusir dari desa sepuluh tahun lalu?”

*** 
Ranti tidak pernah berharap bahwa dia akan bertemu dengan Akdong yang ditakuti penduduk desa, dibenci, dihindari, dan diyakini sebagai sumber dari segala malapetaka. Akdong adalah makhluk kutukan yang telah diusir satu dekade lalu dari desa, dan pertemuan Ranti hari itu akan menjadi awal tragedi berikutnya bagi penduduk Desa Kumalasa. 

Sang Penakluk Kutukan bercerita tentang kebencian yang diwariskan, desas-desus yang meracuni, raja jin dan kekuasaannya, persahabatan dan pengkhianatan, keluarga dan permusuhan, serta tentu saja kutukan dan perlawanan. Semua itu bermula dari perjalanan seorang gadis kecil menuju salah satu pantai terbaik di dunia, Pantai Labbhuan. 

------------------------

Novel ini memang bukanlah novel romansa percintaan seperti yang biasanya yang kubaca, tetapi sejak membuka halaman awal novel ini, aku sudah jatuh cinta dengan ceritanya. Cerita yang terasa sederhana, tetapi ternyata sarat makna. Novel yang dikemas dengan cukup mengalir, walau memang untuk kamu yang tidak terlalu suka dengan banyaknya narasi, akan terasa membosankan di awal kisah. Namun, percayalah teruskanlah membaca dan kau akan menemukan banyak hikmah saat membaca novel ini. 

Novel ini mengisahkan tentang seorang gadis kecil, bernama Ranti yang hidup nyaman bersama kedua orang tuanya di sebuah desa di Pulau Bawean. Ada sebuah mitos yang menakutkan yang sudah turun-temurun ada di dalam desanya tentang keberadaan sesosok makhluk kutukan. Sosok yang wujudnya seperti manusia, tetapi penampilannya sungguh menyeramkan. Sosok itu adalah Akdong, seseorang yang pernah terusir dari desa beberapa tahun yang lalu. Semua orang takut kepadanya, karena menganggap dia adalah makhluk kutukan dan siapa pun yang dekat bahkan bertemu dengannya akan mendapatkan kutukan darinya. 

Hingga suatu hari, Ranti pun bertemu dengan sosok Akdong dan Aknang, anaknya. Namun, tidak terjadi sesuatu yang ditakutkan oleh Ranti. Ternyata itu bukanlah pertemuan pertama sekaligus terakhir bagi mereka, akan ada pertemuan-pertemuan lainnya yang mengubah hidup Ranti dan keluarganya. Pertemuan yang melahirkan persahabatan bagi Ranti dan Aknang, yang seharusnya membawa kebahagiaan tapi berujung fitnah bagi keluarganya.
“Kebanyakan orang tidak menyadari awal dari setiap peristiwa besar. Bahkan tidak oleh mereka yang mengalaminya sendiri. Barulah beberapa tahun kemudian, ketika segala sesuatunya sudah telanjur terjadi dan orang-orang mulai bertanya dari mana semua ini bermula, mereka akan mengingat kembali kapan semua itu dimulai.” (hlm.29) 
Membaca novel ini sungguh menyenangkan sekali, Kak Arul mampu mengangkat isu lokalitas yang sangat kental sekali di masyarakat. Hal yang terasa dekat sekali dengan kehidupan sehari-hari. Bagaimana masyarakat sudah terlalu terbiasa hidup dengan mitos-mitos bahkan kepercayaan yang sulit dibuktikan kebenarannya. 
“Kebohongan yang diulang-ulang pada akhirnya akan terdengar seperti kebenaran. Apalagi jika yang menceritakannya orang yang dihormati, seperti orang-orang yang dituakan, maka cerita bohong sekalipun akan tampak seperti kenyataan.” (hlm.42)
Pemilihan setting tempat di Pulau Bawean juga menjadi sebuah nilai tambah yang menarik, yang mendukung kisah Ranti ini menjadi semakin menarik. Salut buat Kak Arul yang berani mengambil setting tempat yang berbeda dari yang biasanya dilirik oleh penulis lainnya. Alih-alih mengambil setting tempat yang sudah dikenal, bahkan setting perkotaan yang biasanya lebih banyak digunakan, Kak Arul mengambil setting sebuah pulau yang terasa cukup asing di telinga. Setting tempat yang membuatku penasaran dan cukup antusias saat membacanya, karena nuansa lokalitas yang sungguh terasa sekali.

Pemilihan tokoh seorang gadis kecil seperti Ranti juga menarik. Ranti yang pada akhirnya berperan banyak mengubah semua pandangan masyarakat tentang si makhluk kutukan. Namun, Kak Arul berhasil mempertahankan peran Ranti layaknya gadis kecil seusianya, tetap konsisten tidak berubah menjadi layaknya orang dewasa.

Aku suka bagaimana Kak Arul dengan narasinya secara perlahan-lahan mengenalkan sosok Ranti dan masyarakat desanya. Bagaimana kepercayaan turun-temurun tentang makhluk kutukan bernama Akdong yang sudah menjadi isu yang begitu hangat dalam kehidupan Ranti dan masyarakat setempat. Namun, kepercayaan dan mitos mengenai makhluk kutukan itu sendiri belum dapat dibuktikan kebenarannya. Bagaimana mitos, kepercayaan maupun desas-desus yang ada akhirnya semakin terkendali dari mulut ke mulut, benar-benar menggambarkan masyarakat saat ini, yang lebih memilih percaya dengan hal-hal seperti ini daripada memikirkan kebenarannya.
"Terkadang kebenaran terlalu membingungkan sehingga kebohongan tampak lebih nyata dan bisa diterima." (hlm.75)
Novel ini tidak hanya menyoroti tentang mitos-mitos yang ada di desa Ranti saja tentang makhluk kutukan, tetapi ada kebencian dan iri hati yang membuat Ranti harus merasakan perlakuan buruk di sekolahnya. Perlakuan buruk yang membuat Ranti kadang-kadang sedih bahkan tidak ingin lagi bersekolah. Untuknya, Ranti punya orang tua yang bijak dan mampu mengarahkan anaknya ke arah yang lebih baik.
"Kau tidak bisa melawan orang yang menghinamu dengan menghina mereka, Sayang. Kau hanya bisa melawan mereka dengan menunjukkan prestasi yang hebat." (hlm.12)
“Jika kau menghina balik orang yang menghinamu, Nak, apakah itu membuatmu menjadi lebih baik? Apakah dengan menghina mereka tiba-tiba kamu menjadi lebih pintar dan mereka berkurang ilmunya satu halaman? Tidak. Justru yang kau dapatkan hanya pertengkaran yang semakin panas. Tapi jika kau menunjukkan prestasi yang hebat sebagai jawaban atas penghinaan mereka, kau akan membuat mereka kalah dan diam selamanya.” (hlm.12)
Aku sangat menikmati membaca kisah Sang Penakluk Kutukan ini, tema yang terasa familiar sekali dikemas dengan bahasa dan gaya menulis yang cukup mengalir. Aku bisa merasakan apa yang ada di dalam pikiran dan perasaan Ranti terkait semua hal yang terjadi dalam hidupnya, apalagi sejak pertemuannya dengan Akdong yang mengubah hidupnya sedemikian rupa. 

Membaca novel ini menimbulkan sejumlah perasaan yang berbeda, berkumpul menjadi satu. Novel yang sungguh menyentuh, banyak pemahaman tentang kehidupan, persahabatan, nilai-nilai kebaikan, hingga kepercayaan turun-temurun yang diulas dengan sangat baik dalam buku ini. Sebuah kisah sederhana dengan latar Pulau Bawean yang indah, jadi ingin berkunjung kesana setelah membaca buku ini.
“Kupikir, setiap bocah yang lahir ke dunia akan mewarisi kemarahan orang tuanya, mewarisi kebencian masyarakatnya, mewarisi ketakutan budayanya. Apa pun hal-hal yang dibenci maupun yang ditakuti, tidak dimiliki anak-anak sejak lahir, tapi orang tua, lingkungan dan budaya lah yang mewariskan semua itu pada mereka. Maka setiap bocah lahir memikul tanggung jawab untuk menghapus tiga kutukan tersebut. Mereka harus bangun di atas kakinya sendiri, melepaskan dirinya dari warisan yang buruk, dan berusaha sedapatnya untuk menyudahinya. Dan jadilah mereka para penakluk kutukan berikutnya.” (hlm.285)
Terima kasih Kak Arul telah berbagi kisah yang sungguh inspiratif sekali.
“Kabar buruk menyebar lebih cepat dari hantaman badai, dan cerita bohong membesar lebih cepat dari serbuan banjir. Butuh lebih dari setengah abad untuk mengajak semua orang memercayai kebaikan dan hidup dalam kebenaran, dan hanya butuh kurang dari satu hari untuk membuat orang percaya kabar buruk dan hidup dalam kebohongan.” (hlm.239)

Selasa, 26 Juli 2016

Giveaway Winner : Look At Me Please


Alhamdulilah, akhirnya Review & Giveaway Look At Me Please diblogku telah berakhir.

Terima kasih kuucapkan kepada Kak Sofi Meloni yang sudah memberikan kesempatan kepada Ky's Book Journal untuk mereview sekaligus mengadakan giveaway berhadiah Look At Me Please. Alhamdulilah, tidak menyangka antusiasme peserta Giveaway kali ini sungguh besar sekali, tercatat ada 69 komen yang masuk, dan setelah divalidasi ternyata hanya 58 komen saja yang valid (ada komen yang dobel dan dihapus). Walaupun hanya berlangsung 5 hari saja tidak menyurutkan antusiasme peserta GA, tercatat postingan GA ini sampai saat ini telah dilihat oleh lebih dari 1300 viewers, alhamdulilah :D

Terima kasih atas partisipasi teman-teman semua, sekarang saatnya penentuan pemenang yang rasanya sungguh susah sekali, ingin rasanya bisa memenangkan semuanya, tetapi hanya boleh memilih 1 (satu) pemenang saja. Bagiku sendiri, tidak ada jawaban yang benar atau salah, semua pasti punya prioritas masing-masing, entah itu sahabat atau cinta. Tapi, di antara semua komen yang masuk, ada 1 komen peserta yang cukup menarik perhatianku, karena lain dari yang lain, yang sampai menggunakan teori segala (yang jujur memang masing asing di telingaku :p)

Dan pemenang yang beruntung adalah:

Tri / @tewtri

Jawaban:

Dua kali 45 menit juga kerasa nggak cukup untuk jawab satu pertanyaan ini. Bahkan adu pinalti juga nggak akan bisa menentukan pemenangnya. Haduh suer, dua-duanya sama-sama dibutuhan. Tanpa keduanya kebahagiaan tentu nggak bakal sempurna. Oke, rasa-rasanya buat jawab ini, saya tertarik untuk memakai teori hukum Avogadro yang bahkan ketika saya SMA ini hukum kalah beken sama Pascal. Tapi apa peduli saya? Yang penting usahanya lah yah *ngik*

Katanya, 'Jika dua macam gas atau lebih sama volumenya, maka gas-gas tersebut sama banyak pula jumlah molekul-molekulnya masing-masing, asal temperatur dan tekanannya sama pula.' Nah, agak mumetin kan kata-katanya persis kayak sahabatan sama cinta-cintaan lah pokoknya. Oke, anggap gas itu sahabat dan cinta, kuantitasnya sama buat saya fifty-fifty. Hidup saya terbagi untuk dua hal itu, saya jelas akan pincang tanpa salah satunya dengan catatan kedua hal itu memberikan kualitas hubungan–tekanan dan temperatur–yang sama baiknya. Lalu, kalau yang terjadi sebaliknya seperti kisah Laras? Salah satu gasnya mulai mau menang sendiri, siapa yang bakal saya bela dong? Cinta. Haruskah saya pakai teori lagi buat menjabarkannya? Kayaknya nggak usah yah anak IPS nggak bakat main gituan :D
Saya pilih cinta, karena persahabatan itu lebih tinggi derajatnya bagi saya. Sesuatu yang saya agungkan, saya percayai, dan saya coba selalu loyal saat menjalaninya. Dan ketika muncul penghianatan, sakitnya jelas lebih dalam dari putus cinta. Terus, apa memaafkannya bisa sesederhana teori move on dari sang mantan? Saya pilih cinta, karena sangat sulit untuk menggandeng tangan sahabat yang sudah memukul saya dari belakang. Saya pilih cinta karena saya tahu, bahwa dia punya kemampuan untuk jadi sahabat yang lebih baik untuk saya. 
Cuma mau jawab begitu, tapi habis 2 halaman. Duh, maafkan diri ini, mbak :'<

Selamat buat pemenang, kamu berhak mendapatkan Look At Me Please, silahkan DM nama nama, alamat lengkap dan no.hpmu yang bisa dihubungi ke twitterku untuk pengiriman hadiah. Yang belum beruntung, tenang masih akan ada GA buku-buku lainnya yang tak kalah kece loh :D

Buat kamu yang sudah punya bukunya, jangan lupa juga ikutan event Review Competition Look At Me Please ini ya, deadlinenya sampai 30 Agustus 2016 loh. Yuk masih banyak waktu untuk menyiapkan review terbaikmu :)


Senin, 25 Juli 2016

[Blog Tour] Somewhere Called Home ------------------ GIVEAWAY!!!!!

Judul Buku : Somewhere Called Home
Penulis : Dhamala Shobita
Penerbit : De Teens
Tebal : 260 Halaman
Terbit : Mei 2016
ISBN : 978-602-39-1178-3


Manusia adalah kumpulan dari kenangan-kenangan yang tertata menjadi satu. Isi kepala manusia mungkin memiliki lebih dari lima puluh persen kenangan. Kenangan bahagia, sedih, marah, semuanya bercampur menjadi satu dan membentuk manusia sejak ia lahir dan tumbuh menjadi dewasa. 


Menurut Benjamin Murray, seorang surfer blasteran Australia-Indonesia, hidup adalah petualangan tanpa henti. Maka dari itu, ketika dirinya mulai terlibat lebih jauh dalam kehidupan seorang gadis bernama Lila yang sedang mencari kakaknya, Ben semakin bersemangat untuk melanjutkan petualangannya. Pertemuan keduanya di Pulau Sipora, Sumatera Barat, dalam kurun waktu kurang lebih satu bulan cukup untuk membentuk perasaan antara Ben dan Lila. Sayangnya, gadis berusia dua puluh satu tahun itu tidak mempunyai waktu lagi dalam hidupnya. Di sanalah perjalanan Ben dimulai.


-----------------------

"Semua orang akan menghilang pada waktunya, Ben. Seperti Dila, seperti ayahku, begitu pun aku."

Dila dan Lila adalah sepasang kakak beradik yang terpisah karena perpisahan kedua orang tuanya. Keluarga mereka yang awalnya baik-baik saja, akhirnya harus berpisah. Dila mengikuti ayahnya, sedangkan Lila mengikuti ibunya.
"Keluarga, Dil, sekalipun terpisah jauh, berdiri bersisian dengan jarak dan waktu sebagai pemisah, mereka akan tetap disebut keluarga. Aku mungkin bisa punya mantan pacar, mantan sahabat, tapi tidak pernah ada mantan kekasih, mantan adik, mantan ayah dan juga mantan ibu."
Perpisahan kakak beradik ini sungguh menyakitkan. Lila tidak pernah tahu, kenapa Dila lebih memilih ikut ayahnya daripada ibunya. Komunikasi pun terputus begitu saja. Bertahun-tahun berlalu, Lila hanya menyimpan kerinduan kepada kakaknya, Dila. Dila seakan menghilang tanpa jejak, namun tiba-tiba kembali dengan datangnya lima suratnya yang pendek. Surat yang berisi cerita perjalanannya ke beberapa tempat.
"Kita tidak bisa memilih siapa yang akan menjadi keluarga kita, Dil. Harmonis atau nggak, bahagia atau nggak, nggak ada satu orang pun yang bisa memilih akan dilahirkan di keluarga yang kaya saja, atau yang memiliki reputasi baik di masyarakat juga."
Lila pun memutuskan untuk mencari Dila. Satu keinginan Lila ingin mengajak Dila pulang bersamanya. Banyak hal yang ingin ditanyakan kepada Dila, hal-hal yang hingga saat ini belum dimengerti dan hanya Dila yang bisa menjawab semuanya.

Lila pun melakukan perjalanan demi perjalanan yang ada di surat yang Dila kirimkan. Sayangnya Lila tidak berhasil bertemu dengan Dila. Seakan Dila hilang ditelan bumi. Lila malah menemukan perjalanan baru, menemukan kehidupan baru dan menemukan sesuatu yang mungkin saja tidak akan pernah dialaminya jika ia tidak memutuskan untuk pergi. Semua cerita perjalanan dan pencariannya terhadap Dila pun akhirnya dituangkannya dalam sebuah jurnal coklat.

Lila pun tak kuasa lagi mencari Dila. Akhirnya jurnal coklat itu pun beralih ke Ben, seorang teman yang akhir-akhir ini sering menghabiskan waktu bersamanya. Ben pun berjanji akan menemukan Dila untuk Lila. Akankah Ben berhasil bertemu dengan Dila?
"Kalau lo travelling cuma buat mencari orang, lebih baik lo berhenti. You can't enjoy the trip if there's such a pressure".
Ini bukan pertama kalinya aku membaca karya Dhamala. Rasanya sungguh menyenangkan sekali membaca karya terbarunya ini yang mengharukan tentang keluarga dan perjalanan.

Membaca kisah Ben dan Lila ini, membuka pemahaman baru tentang perjalanan. Bagaimana sebuah perjalanan bisa membawa sebuah makna tersendiri. Banyak hal yang bisa kita dapatkan dan temui dari perjalanan yang kita temui, hal-hal yang mungkin saja tidak akan pernah kita dapatkan seandainya kita tidak melakukan sebuah perjalanan.

Hal inilah yang dialami Ben, si tokoh utama. Berbekal sebuah jurnal coklat milik Lila, Ben pun melakukan perjalanan ke tempat-tempat yang disebutkan oleh Lila, dimulai dari Pantai Mapaddegat, Teluk Meranti, Pulau Rinca, Labuan Bajo, Bukit Doa Tomohon hingga Sipora. Ben bertemu orang-orang baru, lingkungan baru hingga kebiasaan setempat. Tanpa disadari perjalanan ini mengubah Ben, menyadarkan Ben arti keluarga dan rumah.

Perjalanan Ben tidak hanya untuk mencari Dila, sesuai janjinya terhadap Lila. Tetapi perjalanan Ben ini semacam perenungan bagi dirinya, yang mengubah hidupnya sedemikian rupa.
"Kalau buat gue, doa itu seperti mengisi ulang kekuatan, meluruskan benang-benang yang sudah terlalu lama kusut di pikiran, dan melapangkan hati yang tadinya penuh, entah dipenuhi oleh apa."
Diceritakan dari sudut pandang orang ketiga dan sedikit flashback kehidupan Lila dan Dila semasa kecil, kita akan dibawa memasuki kehidupan Ben dan perjalanan yang dilakukannya berbekal jurnal coklat milik Lila. Jurnal Lila inilah yang menjadi panduan bagi Ben untuk menemukan jejak Dila di tempat-tempat yang disebutkan di dalam jurnalnya. Aku cukup menikmati perjalanan Ben ini, banyak tempat yang disebutkan disini yang membuatku penasaran dan tertarik ingin berkunjung kesana. Sayangnya, setting tempat sendiri kurang dieksplor terlalu jauh.

Dari segi tokoh, aku jatuh cinta dengan sosok Ben. Sejak awal Ben digambarkan sebagai sosok pria yang tampan. Ben dengan ikhlas membantu Lila menemukan Dila padahal Ben tidak pernah bertemu dengannya bahkan kemungkinannya sangat kecil sekali. Di balik itu semua, hidup Ben ternyata tidak kalah rumit. Konflik yang mendera kehidupan Ben ternyata cukup kompleks,yang membuat Ben lebih memilih bepergian dari satu tempat ke tempat lain, bukannya pulang ke rumahnya.

Aku dibuat penasaran dengan akhir dari kisah perjalanan Ben,akankah dia berhasil memenuhi janjinya dan menemukan Dila. Walaupun twist yang hadir cukup bisa tertebak, tapi aku sangat menikmati kisah ini.

Overall, sebuah kisah perjalanan yang mengharukan dan sarat makna. Melalui novel ini, kita akan belajar untuk memaafkan, berdamai dengan masa lalu dan kembali menyadarkan kita akan arti rumah dan keluarga.
"Kita semua takut akan masa depan dan segala yang akan terjadi di dalamnya, oleh karena itu kita mulai berhenti melakukan apa yang bisa kita lakukan sekarang."



--------------GIVEAWAY TIME----------------



Aku punya 1 (satu) eksemplar gratis Somewhere Called Home ney, caranya gampang banget loh:

1. Memiliki alamat pengiriman di Indonesia. 

2.Follow akun twitter @RizkyMirgawati dan @dhamalashobita 

3. Follow blog ini, bisa via GFC (Google Friend Connect), G+ atau email 

4. Share info GA ini di akun twittermu dengan mention @RizkyMirgawati dan @dhamalashobita  sertakan hastag #SomewhereCalledHome

5. Jawab pertanyaan di bawah ini di kolom komentar, jangan lupa cantumkan nama, akun twitter, link share, dan jawabanmu. 

Apa arti keluarga untukmu? 

6. Giveaway ini berlangsung selama 7 hari, dimulai sejak hari ini sampai tanggal  31 Juli 2016. 



Semoga beruntung!!!!!!

*******UPDATE*******

Saatnya memilih 1 (satu) nama yang beruntung yang mendapatkan Somewhere Called Home. Dan yang beruntung adalah:

Elsita F Mokodompit/@sitasiska95

Selamat buat pemenang, silahkan DM aku di twitter untuk alamat lengkap dan no.hpmu yang bisa dihubungi. Yang belum beruntung, tenang saja masih akan ada beberapa giveaway lain yang tak kalah menarik ya :)
Rabu, 20 Juli 2016

[Book Review] Bowl of Happiness

Judul Buku : Bowl of Happiness
Penulis : Sophie Maya
Penerbit : GPU
Tebal : 280 Halaman
Terbit : Maret 2016
ISBN : 978-602-03-2565-1
Helen hidup dibayangi kenyataan bahwa Mama, Papa, dan ketiga kakaknya menjadi dokter sukses. Didikan Mama yang kaku menghalangi mimpinya menjadi penyanyi. Bahkan ia harus rela pindah ke Semarang dan bersekolah di SMA Sinar Bangsa selama setahun. Sampai ia bisa memperbaiki nilai dan pantas masuk ke Hannigan International School.

Impian Helen mulai muncul kembali ketika melihat Klub Mangkuk Kebahagiaan di SMA Sinar Bangsa. Apalagi melihat sosok pentolan klub, Lulu, yang nyentrik dan selalu berusaha menghibur semua orang dengan permainan gitar yang ceria dan meriah. Mama berkeras agar Helen menjauhi klub itu agar tidak menggangu waktu belajarnya. Apalagi dengan fakta bahwa Lulu sudah dua kali tidak naik kelas.

Namun daya tarik klub dan anggota-anggotanya terlalu kuat bagi Helen. Perlahan ia mengikuti satu demi satu kegiatan yang terasa menyenangkan. Saking larutnya mengikuti kegiatan, Helen lupa belajar dan nilai-nilainya turun.

Helen dilema. Apakah ia harus menyerah dan mengikuti obsesi Mama? Atau terus mengejar impiannya menjadi penyanyi?

----------------------------
“Kenapa kamu begitu terobsesi dengan nilai dan peringkat? Kita itu sekolah buat belajar, buat cari teman, dan buat menemukan jati diri kita sendiri. Kita sekolah bukan buat dapat nilai tinggi dan peringkat satu di kelas.” (hlm.142) 
Terlahir sebagai anak bungsu, dari orang tua yang sukses dalam karir di dunia kedokteran, membuat Helen mendapatkan tekanan yang sama untuk bisa sama bahkan melebihi apa yang telah dicapai kedua orang tuanya. Sejak kecil, Helen sudah dituntut untuk bersekolah bahkan kuliah di jurusan kedokteran seperti orang tua dan ketiga kakaknya. Helen pun harus membunuh impiannya untuk menjadi penyanyi, padahal menyanyi adalah salah satu kebahagiaan bagi Helen. 
“Nilai tidak menentukan hidup kamu hancur atau nggak. Roda hidup bakal terus berputar meski nilai pelajaran kita seperti jalan di tempat. Tapi aku yakin, kita akan baik-baik saja dengan semua itu. Sebab hidup kita memang nggak pernah diukur dari deretan angka-angka di rapor.”(hlm.143) 
Helen tumbuh besar dengan tuntutan untuk bisa mendapatkan nilai yang sempurna dan peringkat kelas tertinggi. Sayangnya, seberapa pun kerasnya Helen belajar, Helen tak bisa memenuhi ekspektasi mamanya. Hasil UN Helen tidak mencukupi untuk masuk ke SMA favorit yang diinginkan oleh mamanya, membuat mamanya marah dan mengirimkannya ke Semarang selama 1 tahun untuk bersekolah di SMA Sinar Bangsa. Mamanya berharap Helen bisa meraih peringkat kelas tertinggi di sekolahnya dan bisa masuk ke Hannigan Internation School di tahun kedua. 

Awalnya Helen hanya berusaha belajar sesuai dengan perintah mamanya demi nilai dan peringkat terbaik. Namun, semua berubah saat Helen bertemu dengan Lulu, ketua Klub Mangkuk Kebahagiaan. Klub yang hanya beranggotakan 4 orang saja, Lulu, Angkasa, Karina dan Anya ingin merekrutnya sebagai anggota baru. Lulu yang pernah tidak naik kelas 2 kali dan sosoknya yang agak nyentrik, membuat Helen penasaran. Apalagi Lulu seakan bahagia dengan hidupnya bahkan berusaha untuk membahagiakan semua orang di sekolahnya. Ternyata, tanpa orang lain tahu, Lulu pun punya rahasia besar yang disimpannya. 
“Mangkuk adalah semacam tempat untuk menampung sesuatu, dan nggak seperti piring yang datar, benda-benda yang ditaruh di mangkuk bisa lebih banyak dan nggak mudah jatuh. Mangkuk kebahagiaan adalah mangkuk untuk menampung kebahagiaan.” (hlm.145) 
Apa yang dirahasiakan oleh Lulu? Akankah Helen bergabung dengan Klub Mangkuk Kebahagiaan? Akankah Helen mengikuti obsesi mamanya untuk menjadi dokter atau mengejar impiannya sebagai penyanyi? 

Membaca novel ini sungguh menarik sekali, novel remaja yang sungguh mengharukan. Dari segi tema sederhana, tapi penulis mampu membuatku larut dengan kisah Helen, Lulu dan Klub Mangkuk Kebahagiaan. 

Novel ini mencoba memotret kondisi yang nyata di masyarakat. Kadang-kadang orang tua lupa terlalu memaksakan keinginan dan obsesinya sendiri dan membebani anak dengan segala tuntutan berlebihan. Seharusnya anak tumbuh menjadi pribadi yang bahagia, ini malah hidup dengan tekanan untuk selalu mendapatkan nilai baik dan peringkat di kelas. Melalui novel ini, kita coba diingatkan kembali untuk mendukung segala impian anak asal positif, bukannya memaksakan kehendak kita sebagai orang tua. Kebahagiaan anak yang utama, bukan sekedar nilai dan peringkat di kelas saja. 

Selain itu, ada kisah persahabatan yang sungguh mengharukan. Kisah yang membuatku kagum dengan sosok Lulu yang luar biasa. Bukannya menyerah dengan keadaan yang menimpanya, dia malah memilih untuk bangkit. Bahkan Lulu menjadi seorang remaja luar biasa yang memberikan semangat dan kebahagiaan untuk orang lain. 
“Aku memang mengidap penyakit tapi bukan berarti aku akan menyerah pada keadaan. Aku akan terus berjuang sekuat tenaga agar bisa bangun di pagi yang sama dengan kalian. Aku ingin kalian memperlakukanku seperti orang lain agar aku lupa dengan penyakitku, agar aku bisa tersenyum dan tertawa tanpa beban.” (hlm.261) 
“Kematian adalah sebuah rahasia yang bahkan tidak bisa diramalkan oleh Lulu atau siapa pun. Lulu yakin suatu saat baik dirinya, atau pun Helen, Angkasa, Anya dan Karina akan mati dan meninggalkan dunia. Namun, daripada kita hanya memikirkan kapan akan meninggalkan dunia, lebih baik memikirkan apa yang bisa kita lakukan selagi diberi kesempatan menari di atas dunia.”(Hlm.278) 
Novel ini tidak hanya cocok dibaca untuk remaja saja, agar selalu ingat untuk berjuang meraih impiannya. Juga cocok dibaca untuk orang tua, agar tidak memaksakan kehendak dan obsesinya terhadap anak.

Terima kasih untuk SCOOP, Gramedia Pustaka Utama dan Gramedia.com yang telah memberikan novel ini untuk saya baca dan review. Kalau kamu tertarik untuk membacanya, kamu bisa juga membacanya versi digital/e-book loh, dan harganya jauh lebih murah daripada buku cetak. Hanya modal gadgetmu saja, kamu sudah bisa membaca buku ini kapan pun dan dimana pun.

Senin, 18 Juli 2016

[GIVEAWAY] LOOK AT ME PLEASE

Judul Buku : Look At Me, Please
Penulis : Sofi Meloni
Penerbit : Elex Media
Tebal : 304 Halaman
Terbit : Mei 2016

Mencintai berarti merelakan orang yang kita cintai bahagia bersama orang lain? 


Omong Kosong ! 

Cinta itu tidak melulu soal merelakan, namun juga soal perjuangan. Bodoh namanya jika aku merelakan kamu, yang jelas-jelas pernah mencintaiku, demi wanita yang diam-diam menusukku dari belakang. Delapan tahun aku hidup dalam sebuah kebohongan yang mengatasnamakan persahabatan. Aku bukan malaikat. Aku juga bukan orang suci yang bisa pasrah dan menerima begitu saja apa yang telah terjadi sebelumnya. Kini tiba saatnya untuk aku memperjuangkan kembali kelanjutan cerita diantara kita. Kamu harus sadar bahwa aku juga ada disini menunggumu, sadar bahwa ada akhir bahagia untuk cerita kita. 

We can have our happy ending, so look at me, please. 


-------------------- 



Pernah membayangkan kamu jatuh cinta kepada pacar sahabatmu sendiri? Tentunya sakit sekali berada di posisi Laras, melihat pria yang pernah dan masih sangat dicintainya itu malah memilih Lily, sahabatnya. Seharusnya sebagai sahabat yang baik, Laras bisa segera move on atau merelakan cintanya melihat dua orang yang sangat dicintainya bersama, sayangnya merelakan itu sungguh tidak mudah....

Apalagi ketika sebuah rahasia terkuak, Gerry pria yang pernah dicintainya itu pernah punya rasa yang sama terhadapnya. Laras pun mulai berandai-andai, seandainya tidak pernah ada Lily pasti dia dan Gerry akan bahagia sekarang. Hal ini membuat Laras menjadi semakin terobsesi terhadap Gerry, membuat dirinya tidak lagi berpikir jernih. Alih-alih merelakan cintanya, Laras malah memilih untuk memperjuangkan cintanya. 

Di sisi lain, tanpa Laras sadari ada sosok Remy, rekan kerjanya yang walaupun agak nyebelin, Remy lah pria yang senantiasa ada di antara kerumitan hubungan Laras dengan Lily-Gerry. Bagaimana akhir kisah Laras-Lily-Gerry? Akankah ada akhir bahagia untuk Laras?

Ini novel ketiga Kak Sofi Meloni yang kubaca, setelah Stay With Me Tonight dan Peek A Boo, Love. Walaupun tema yang diangkat merupakan tema paling klise, tapi di tangan Kak Sofi novel ini menjadi sebuah karya yang sungguh menarik untuk dibaca.

Tokoh seperti Laras ini mungkin dan bahkan pernah kita temui di dunia nyata, tidak sekedar fiksi saja. Hal ini membuatku merasa begitu dekat dengan sosok Laras. Aku bisa merasakan bagaimana Laras yang jatuh cinta setengah mati terhadap Gerry, dan berharap akan bersama selamanya. Sayangnya, kenyataan tak seindah bayangannya. Gerry yang dicintainya malah memutuskan untuk berpacaran dengan Lily, sahabatnya sendiri. Tentunya sakit sekali dan susah untuk menerima kenyataan ini, apalagi Laras harus melihat kebersamaan dan kemesraan yang dirasanya "seharusnya" menjadi miliknya. Apalagi saat Laras tahu jika dulu Gerry pernah punya rasa yang sama, namun Lily sahabatnya malah memilih menutupi semuanya. Walaupun sudah bertahun-tahun berlalu, perasaan Laras tetap sama, Laras malah memilih berjuang untuk mendapatkan cinta Gerry kembali, bukannya melepaskan Gerry. 

Laras sampai menutup mata dari persahabatannya dengan Lily. Laras melupakan semua kebaikan Lily bahkan persahabatan yang sudah sekian lama terjalin, karena menganggap Lily lah perusak kebahagiaan yang seharusnya dia miliki. Jujur rasanya sulit sekali untuk membenci Laras atau Lily, aku pun akan sama bingungnya jika berada di posisi mereka. Mereka hanyalah dua orang yang terjebak dalam suatu hubungan yang rumit. Hubungan yang terasa semakin dipersulit, karena pria yang sama-sama mereka cintai pun tak melakukan apa-apa. Jujur, aku malah gregetan dengan sikap Gerry, yang kurasa plin-plan bahkan tidak bisa tegas memilih di antara dua sahabat ini.

Diceritakan dengan alur maju mundur, sebagai pembaca aku bisa memahami situasi yang terjadi diantara Laras-Gerry-Lily. Bagaimana akhirnya mereka masing-masing terjebak dengan perasaan mereka masing-masing. Semua terlalu sibuk memikirkan diri masing-masing, hingga tak sadar mereka pun saling melukai. Andai saja mereka bisa lebih terbuka, mungkin kisah mereka akan jauh lebih berbeda.

Aku suka sekali bagaimana Kak Sofi membangun karakter para tokoh dalam novel ini, karakternya kuat membuatku sebagai pembaca larut dalam kisah ini. Dari sekian tokoh yang hadir, aku malah jatuh simpati dengan Remy, sosok yang malah mengorbankan diri masuk dalam hubungan yang nyata-nyata sudah rumit ini.

Kak Sofi benar-benar membuatku larut dengan hingga terus melanjutkan bacaanku karena penasaran bagaimana akhir kisah Laras dan bagaimana persahabatannya dengan Lily. Walau pun sedikit banyak, aku sudah bisa menebak akhir kisah novel seperti ini, tapi menjelang ending aku tidak ingin kisah ini cepat diakhiri. Untungnya, endingnya terasa realistis dan sesuai dengan yang kubayangkan.

Walau memang tak ada gading yang tak retak, masih ada beberapa kesalahan penulisan/ketikan, tapi karena aku sudah terlanjur menikmati proses membaca, aku sudah tidak peduli lagi. Semoga saja jika nanti di cetak ulang, novel ini bisa lebih diperbaiki lagi dari segi teknis penulisan, agar jauh lebih baik lagi.

Melalui kisah ini, kamu akan belajar mengenai move on dan melepas masa lalu. Hal ini mungkin terasa mudah untuk diucapkan, tetapi akan terasa sulit untuk dilakukan. Tapi tidak ada hal yang tidak mungkin, siapa tahu tanpa kamu sadari ada cinta lain yang layak untuk kamu perjuangkan. Selamat jatuh cinta...

----------------GIVEAWAY TIME--------------------- 


Aku punya 1 (satu) buku Look At Me Please persembahan Sofi Meloni, yuk ikutan:

1. Peserta memiliki alamat pengiriman di Indonesia.

2. Follow twitter @RizkyMirgawati dan @Sofi_Meloni dan share info GA ini dengan hastag #LookAtMePlease

3. Follow blog ini via GFC, Google+ atau email

4. Jawab pertanyaan di kolom komentar dengan format: nama, akun twitter, link share dan jawabanmu:


5. Giveaway ini akan berlangsung mulai hari ini sampai tanggal 22 Juli 2016.

Semoga beruntung!!!!

Buat kamu yang sudah baca bukunya, jangan lupa ikutan event Review Competition Look At Me Please di bawah ini ya, menangkan hadiah menarik loh. Event ini akan berlangsung sampai 30 Agustus 2016 loh!!!!

Selasa, 12 Juli 2016

Giveaway Winner : Forever with You


Alhamdulilah, akhirnya Giveaway Forever with You diblogku telah berakhir.

Terima kasih kuucapkan kepada Kak Ria N Badaria yang sudah memberikan kesempatan kepada Ky's Book Journal untuk mereview sekaligus mengadakan giveaway berhadiah Forever with You. Alhamdulilah, tidak menyangka antusiasme peserta Giveaway kali ini sungguh besar sekali, tercatat ada 45 komen yang masuk.

Terima kasih atas partisipasi teman-teman semua, sekarang saatnya penentuan pemenang yang rasanya sungguh susah sekali, ingin rasanya bisa memenangkan semuanya, tetapi hanya boleh memilih 2 (dua) pemenang saja.

Dan pemenang yang beruntung adalah:

Kiki/@kyoungsaeng

dan

Deria Anggraini / @derxreads

Selamat buat pemenang, silahkan kirim alamat lengkap dan no.hpmu ke DM twitterku untuk konfirmasi pengiriman hadiah.

[Book Review] Persona

Judul Buku : Persona
Penulis : Fakhrisina Amalia
Penerbit : GPU
Tebal : 248 Halaman
Terbit : April 2016

Namanya Altair, seperti salah satu bintang terang di rasi Aquila yang membentuk segitiga musim panas. Azura mengenalnya di sekolah sebagai murid baru blasteran Jepang yang kesulitan menyebut huruf L pada namanya sendiri.

Azura merasa hidupnya yang berantakan perlahan membaik dengan kehadiran Altair. Keberadaan Altair lambat laun membuat perasaan Azura terhadap Kak Nara yang sudah lama dipendam pun luntur.

Namun, saat dia mulai jatuh cinta pada Altair, cowok itu justru menghilang tanpa kabar. Bukan hanya kehilangan Altair, Azura juga harus menghadapi kenyataan bahwa orangtuanya memiliki banyak rahasia, yang mulai terungkap satu demi satu. Dan pada saat itu, Kak Nara-lah tempat Azura berlindung.

Ketika Azura merasa kehidupannya mulai berjalan normal, Altair kembali lagi. Dan kali ini Azura dihadapkan pada kenyataan untuk memilih antara Altair atau Kak Nara.

----------------------------
"Memang luar biasa sekali pengaruh yang bisa ditimbulkan oleh kehadiran seseorang dalam hidupmu. Pada suatu waktu kau akan menjadi dirimu yang kau kenal, di waktu lain tiba-tiba kau berubah menjadi orang lain."
Selama ini Azura yang terbiasa hidup dalam sepi, di sekolah pun dia terkenal sebagai siswi yang penyendiri dan tidak punya banyak teman. Tidak ada seorang pun yang tahu, bahwa di balik semua sikapnya itu, Azura menyimpan beban berat dalam hidupnya. Azura sering menyiksa dirinya sendiri dengan sering mengiris pergelangan tangannya.  

Azura seakan hidup dalam dunianya sendiri, di rumah pun hidupnya sudah berubah. Tidak ada lagi kehangatan keluarga, yang ada hanya suara bentakan dan teriakan dari papa dan mama yang senantiasa terdengar. Azura sudah terbiasa seperti ini, hingga suatu hari ada seseorang yang hadir dalam kehidupannya, mengubah hidup Azura sedemikian rupa. 

Dia adalah Altair Nakayama, seorang siswa pindahan dari Jepang. Sejak awal Azura tidak berminat berteman dengannya, tapi entah kenapa Altair selalu mengganggunya. Altair yang belum terlalu fasih bahasa Indonesia, selalu saja bertanya kepada Azura selama pelajaran berlangsung. Altair ingin berteman dengan Azura, sebaliknya Azura masih enggan untuk membuka dirinya.
"Hanya karena kau menganggapku temanmu, bukan berarti aku juga menganggapmu temanku."
Hingga kemudian Altair mulai menarik diri, Azura merasa kehilangan. Akhirnya mereka pun berteman, dan Azura merasa bahagia. Bersama Altair, Azura menemukan dunia yang baru. Mereka sering menghabiskan waktu bersama, sering menghabiskan bekal bersama. Altair selalu ada di samping Azura. Termasuk saat Azura sering mengintip gebetan yang disukainya, Kak Nara, kakak kelas yang pernah menolongnya.

Perlahan-lahan Kak Nara tidak lagi menjadi perhatian Azura, apalagi sejak Kak Nara lulus sekolah. Namun, kemudian Altair menghilang begitu saja. Azura patah hati, tapi berusaha untuk bangkit kembali dan akhirnya bisa lulus sekolah dan kemudian kuliah. Takdir pun mempertemukannya kembali dengan Kak Nara. Kak Nara adalah kakak dari Yara, sahabat barunya saat kuliah.

Ketika keadaan semakin membaik, Azura pun sudah terbiasa hidup tanpa Altair, mengapa Altair hadir kembali? Ada apa sesungguhnya? Bagaimana pula hubungan Azura dengan Kak Nara? 
"Masing-masing dari kita punya satu lubang itu, lubang tempat sesuatu yang hilang mendadak, seolah dicabut paksa dari sana, dan kekosongan tempat itu akan mengubah kita setelahnya. Bagiku, lubang itu dulunya ditempati oleh Altair."
Ini bukan pertama kalinya aku membaca karya penulis, aku merasakan perkembangan tulisan yang makin matang dari penulis. Sejak membaca  All You Need Is Love , aku sudah menyukai tulisannya sehingga aku pun tak sabar untuk membaca karya terbarunya ini.

Awalnya aku berpikir aku akan disuguhkan dengan seorang gadis remaja yang kebingungan memilih diantara 2 pria sekaligus, tipikal kisah cinta segitiga biasa yang sering diusung oleh penulis lainnya. Rupanya aku salah, kisah ini tidak sesederhana itu. 

Sejak awal membaca novel ini, aku sudah disuguhkan dengan sebuah adegan rumah sakit yang cukup mencekam dan membuatku bertanya-tanya dengan apa yang sesungguhnya terjadi. Kemudian perlahan-lahan aku diajak memasuki kehidupan Azura, tokoh wanita dalam novel ini. Awalnya aku bisa merasakan bagaimana sepinya hidup Azura. Hidup dalam keluarga yang broken home, tentunya tidak mudah. Sehingga ketika Azura mulai melakukan hal-hal yang tidak terduga itu mungkin hanya pelarian dari masalah yang sedang menghimpitnya, mengubah pribadinya menjadi penyendiri dan tak banyak teman.

Aku bisa merasakan bagaimana Azura yang sudah terbiasa hidup seperti itu, kemudian ada seseorang asing yang masuk dalam kehidupannya menawarkan sesuatu yang rasanya jauh sekali dari dirinya "sebuah pertemanan". Tentunya ada rasa takut membuka diri, namun perlahan-lahan Altair dengan semua sikapnya bisa mengubah Azura keluar dari zona nyamannya. Kehadiran Altair memberikan warna tersendiri dalam hidup Azura, kemudian akhirnya dia menghilang jujur aku pun bertanya-tanya ada apa. Apalagi kemudian Azura dipertemukan kembali dengan Kak Nara, kemudian Altair hadir kembali, makin membuat kisah ini menjadi semakin menarik.

Hal ini mungkin terlihat sederhana, tetapi jika kamu membaca halaman demi halaman novel ini aku yakin kamu bakal tahu bahwa kisah ini tidak sesederhana itu. Mungkin kamu akan merasakan banyak kejanggalan demi kejanggalan dalam kisah ini. Rasanya seperti ada yang tidak pas dan kamu mulai menebak-nebak apa yang terjadi, teruslah membaca karena kamu akan menemukan jawabannya di akhir cerita.

Mungkin aku seperti pembaca lainnya yang memang ikutan menebak kisah ini akan dibawa kemana, tapi percayalah aku pun dibuat terkejut dengan ending yang diberikan. Salut sekali dengan eksekusi yang dibuat oleh penulis, jujur aku dibuat tercengang-cengang dengan penutup kisah ini. Plot twist yang indah menutup perjalanan kisahku bersama Azura.

Tidak hanya mengisahkan tentang romansa Azura-Altair-Nara saja, tetapi ada kisah keluarga juga yang tidak kalah penting. Penulis mampu menggambarkan dengan baik, bagaimana sebuah keluarga itu menjadi fondasi utama bagaimana membentuk kepribadian dan karakter seseorang. Pentingnya keluarga untuk selalu ada, bukan hanya dalam bentuk materi saja, tetapi juga perhatian dan kepedulian. 

Overall, aku rekomendasi novel ini untuk kamu baca, percayalah kisah ini tidak sesederhana yang kamu pikir. Aku yakin kamu mungkin akan menyukai novel ini seperti aku jatuh cinta kepadanya. Novel ini menjadi Young Adult terbaik dan terfavorit sejauh ini dari lini Young Adult yang sudah kubaca. 
"Kadang-kadang, kedekatan kita dengan seseorang tidak dilihat dari seberapa sering kita bersamanya. Kadang-kadang, kedekatan kita dengan seseorang justru tampak dari betapa tidak seringnya kita bertemu, tapi kita selalu punya waktu-waktu menyenangkan dalam pertemuan yang tidak sering itu."
Senin, 11 Juli 2016

[Blog Tour] Love Trip --------- GIVEAWAY!!!!

Judul Buku : Love Trip
Penulis : Putu Kurniawati
Penerbit : GPU
Tebal : 272 Halaman
Terbit : Juni 2016
Selain untuk melanjutkan studi, Cakra pindah ke Denver untuk mengobati penyakit yang ia derita. Menjelang kelulusan, ia mengikuti penelitian di Kyoto dan bertemu Luna. Tak disangka pertemuan itu membuat mereka akrab hingga memutuskan pacaran—meski harus menjalani LDR.

Tapi menjaga hubungan jarak jauh tidak semudah itu. Makin lama Luna merasa perhatian Cakra kepadanya jauh berkurang. Belum lagi tampaknya Cakra menyembunyikan sesuatu darinya. Apalagi Steve, teman masa kecilnya, semakin gigih dan bersedia nyentana demi dirinya.

Luna mulai berpikir untuk mengetes keseriusan Cakra dengan permainan yang dia buat. Dan permainan itulah yang membuat mereka menjejakkan kaki mulai dari Denver, Kyoto, Bali, Lombok, sampai Praha. 

-------------------------
Cakra adalah seorang mahasiswa yang sedang melanjutkan pendidikannya di Colorado State University dan saat ini tinggal di Denver. Suatu saat, Cakra dan sahabatnya Junot memilih bergabung dalam program Research Assistant selama liburan semester. Alih-alih memilih balik ke Bali untuk bertemu keluarganya sekaligus melihat kelahiran keponakannya dari Davin, Cakra malah memilih program tersebut yang kali ini memilih Kyoto sebagai tempat risetnya.

Selama ini Cakra berusaha untuk mengobati penyakitnya, hidupnya masih bergantung pada obat-obatan. Jika cuaca sedang buruk dan suhu berubah sangat dingin, Cakra akan merasakan kedinginan yang amat sangat yang membuat tubuhnya menggigil bahkan sampai sesak nafas. Paru-parunya telah terkontaminasi zat-zat beracun sejak lama dan sekarang Cakra sedang berusaha untuk pulih kembali.

Saat di Kyoto, penyakit Cakra kambuh kembali. Anehnya, bukan karena cuaca yang dingin, tapi penyakitnya kambuh di kala cuaca sangat panas. Untungnya, ada seorang gadis yang menolongnya. Gadis itu adalah Luna, gadis yang sama yang pernah dilihatnya sedang menari. Gadis itu telah menghipnotis Cakra sejak pandangan pertama. Seakan takdir sedang bekerja, akhirnya mereka pun bisa berkenalan walau dalam keadaan Cakra yang sedang butuh pertolongan. 

Tidak membutuhkan waktu lama, mereka pun akhirnya sering berkomunikasi. Jarak Denver dan Kyoto pun seakan tak menjadi masalah, setelah sekian lama bersama akhirnya mereka pun memutuskan untuk menjalin suatu hubungan percintaan. Pacaran jarak jauh pun terukir, semuanya tentunya tidak mudah tapi mereka percaya cinta bisa mengatasi semuanya.

Hingga saat kelulusan, Luna pun kembali ke Bali, sebaliknya Cakra malah memilih untuk tak kembali. Cakra malah menerima tawaran pekerjaan di Denver. Awalnya Luna keberatan dengan keputusan Cakra, tapi Cakra tetap meyakinkan Luna. 

Akhirnya mereka pun tetap menjalin hubungan jarak jauh, Bali dan Denver, namun semua makin tidak mudah. Perbedaan waktu dan komunikasi yang berkurang, membuat Luna kembali mempertanyakan hubungan keduanya. Apalagi ada Steve, sahabatnya yang secara terang-terangan menunjukkan ketertarikan. Belum lagi, keinginan keluarganya agar calon suaminya kelak mau nyentana, makin memperumit semuanya.
"Nyentana - salah satu hukum adat dalam pernikahan di Bali, yang mana seorang laki-laki ikut dalam keluarga istri dan keturunan mereka akan menjadi milik dan penerus keluarga istri. Pernikahan nyentana dilakukan jika calon istri tidak memiliki saudara laki-laki sebagai ahli waris yang akan melanjutkan keturunan dan disetujui oleh keluarga kedua belah pihak."
Luna pun akhirnya ingin menguji Cakra untuk membuktikan keseriusannya. Terinspirasi dari salah satu tayangan TV, The Amazing Race, Luna pun menghilang dan menantang Cakra untuk menemukannya. Tak disangka, tantangan Luna membuat mereka berpindah-pindah dari Bali, Lombok hingga ke Praha. Bagaimana akhir kisah Luna dan Cakra? Akankah Luna menemukan pria yang mau "nyentana" dan apakah Cakra bisa menemukan Luna?

Sejak melihat cover Love Trip jujur aku sudah tertarik sekali, apalagi membaca blurbnya malah semakin membuat penasaran. Awalnya aku sudah penasaran permainan seperti apa yang diciptakan oleh Luna, si tokoh utama yang membuat mereka bisa berpetualang ke sekian tempat sekaligus, mulai dari Denver-Kyoto-Bali-Lombok-Praha. Ide yang sungguh menarik sekali.

Ternyata setelah membaca novel ini, ide permainan "Finding Me" itu hanya sebagian kecil dari konflik yang ada. Ada permasalahan penyakit Cakra, hubungan jarak jauh Cakra-Luna, masa lalu Cakra yang belum selesai, hingga masalah "nyentana" yang disyaratkan keluarga Luna. Salut buat Kak Nia yang bisa memadukan sekian konflik yang ada menjadikan cerita ini cukup berwarna.

Walau memang tidak terlalu detail mengenai perjalanan Cakra dan Luna yang menjejaki sudut Bali, Lombok hingga Praha, tapi aku cukup terhibur. Ada beberapa tempat yang membuatku ingin sekali berkunjung kesana.

Novel ini tidak hanya mengisahkan tentang Cakra dan Luna saja, ada beberapa tokoh lain yang mempunyai peranan yang tak kalah penting, yang membuat kisah ini menjadi menarik. Ada Junot, Davin, Sunny, Steve hingga ayah Luna yang nyentrik. Dari sekian tokoh yang ada, aku dibuat penasaran dengan Junot. Sosok sahabat Cakra yang satu ini sudah menarik perhatianku sejak awal, Cakra sungguh beruntung sekali punya sahabat yang setia kawan seperti Junot. Bahkan rela untuk kehilangan pekerjaan dan ikut menemani Cakra mencari Luna, bukan hal yang tentunya mudah untuk diputuskan. Andai Kak Nia, ingin membuat sekuel atau membuat kisah lain dari novel ini, aku harap Kak Nia bisa membuatkan cerita tersendiri untuk Junot :D

Dari sekian konflik yang ada, aku mungkin lebih memfokuskan ke ide "nyentana" dan "finding me" yang berbeda dari novel romance lainnya yang pernah kubaca. Namun, aku merasa penyelesaian dari semua konflik yang ada terlalu cepat, termasuk segala ide permainan dan persoalan "nyentana" yang cukup krusial disini. 

Overall, walau aku sebenarnya mengharapkan ada sesuatu yang lebih dramatis dari novel ini, ending novel ini terasa realistis dan menutup kisah Cakra dan Luna dengan baik. Aku cukup terhibur dan dibuat penasaran membaca halaman demi halaman hingga akhir.


--------------GIVEAWAY TIME---------------



Aku punya 1 (satu) buku Love Trip persembahan Kak Putu Kurniawati, yuk ikutan:

1. Peserta memiliki alamat pengiriman di Indonesia.

2. Follow twitter @RizkyMirgawati dan @niaa_89  kemudian share info GA ini dengan hastag #GALoveTrip

3. Follow blog ini via GFC, Google+ atau email

4. Jawab pertanyaan di kolom komentar dengan format: nama, akun twitter, link share dan jawabanmu:

Jika kamu diberi kesempatan untuk melakukan sebuah perjalanan, kota mana yang akan kamu kunjungi bersama pasangan/orang yang kamu sayangi? Kenapa kamu pilih kota itu?

5. Giveaway ini akan berlangsung mulai hari ini sampai tanggal 15 Juli 2016.

Semoga beruntung!!!!


**********UPDATE**********

Saatnya memilih 1 (satu) nama yang beruntung yang mendapatkan buku dan kaos persembahan Kak Putu Kurniawati.

Dan yang beruntung adalah:

Silvy Rianingrum/@berryfledge

Selamat buat pemenang, silahkan DM aku di twitter untuk alamat lengkap dan no.hpmu yang bisa dihubungi. Yang belum beruntung, tenang saja masih akan ada beberapa giveaway lain yang tak kalah menarik ya :)
Design By Wulansari | Blogger Theme By Black Coffee Design