Kamis, 19 Januari 2017

[Book Review] Lost and Found





Judul Buku : Lost and Found
Penulis : Fanny Hartanti
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 248 Halaman
Terbit : Januari 2017

Rachel tak sengaja meninggalkan organizer-nya di taksi, padahal di dalamnya berisi paspor, SIM, dan KTP. Akibatnya dia batal melakukan liputan ke Singapura dan terpaksa merelakan rivalnya, Amy, bertugas menggantikannya.
Andy menemukan organizer tersebut, tapi kesalahpahaman terjadi sehingga dia tidak pernah mengembalikan benda itu pada Rachel.

Takdir mempertemukan Andy dengan Rachel dan cinta pun tumbuh. Namun, rahasia dan luka masa lalu menghalangi kebersamaan mereka. Apakah cinta cukup untuk mengisi apa yang pernah hilang dalam hidup mereka?

--------------------

Setelah The Wedding Games, akhirnya senang sekali rasanya mengetahui Kak Fanny akan menerbitkan novel terbarunya. Penantian yang cukup panjang hingga bisa membaca novel terbarunya ini. 

Lost and Found mengisahkan mengenai kehidupan Rachel, seorang reporter majalah POSH. Hidup Rachel tiba-tiba saja berantakan. Karirnya dipertaruhkan. Tak sengaja, organizernya hilang. Kalau hanya organizer saja yang hilang mungkin Rachel tidak sepanik ini, masalahnya dalam organizernya terselip dokumen penting, seperti Paspor, SIM dan KTPnya. Apalagi dia sangat membutuhkan paspornya, karena harus bertugas melakukan liputan di Singapura.

Organizernya tertinggal di sebuah taxi saat dia akan bertemu sahabat-sahabatnya. Karena sibuk mencari, Rachel sampai lupa menghubungi bosnya. Hingga kemudian klien di Singapura bingung karena Rachel yang seharusnya datang malah tak diketahui keberadaannya. Hal ini membuat Lady, bosnya kecewa dan marah besar. Untungnya, masih ada waktu untuk mengirim reporter pengganti ke Singapura. Yang membuat Rachel makin sedih adalah yang akhirnya menggantikan dirinya itu Amy, rivalnya selama di kantor.
"Kuncinya, Rach, kamu harus tekun. Sabar. Semua ada waktunya. Jangan berharap semua akan diberikan ke pangkuanmu begitu aja. You have to earn it. Semua memang tidak mudah, dan mungkin suatu kali kamu akan terjatuh, seperti sekarang ini, tapi yang paling penting bukan berapa kali kamu terjatuh, melainkan berapa kali kamu mampu bangkit lagi." (Halaman 95)
Karir Rachel pun terancam, karena profesionalitasnya diragukan. Hal ini tentunya membuat Rachel makin terpuruk. Apalagi melihat pandangan kecewa Lady, bos yang paling dihormatinya selama ini.
"Bukan masalah apa yang menimpa hidupmu, tetapi bagaimana kamu menyikapinya yang paling penting." (Halaman 95)
Ternyata organizer berisi paspor dan dokumen penting lainnya ditemukan oleh Andy, penumpang taxi setelah Rachel turun. Awalnya Andy ingin mengembalikan dokumen itu, tetapi karena kesalahpahaman dan pertemuan yang kurang menyenangkan, organizer itu tidak jadi dikembalikan.

Namun, Andy tak menyangka bahwa akhirnya dia dan Rachel malah terlibat kondisi yang malah mendekatkan mereka. Namun, Rachel tak pernah tahu bahwa Andy lah penemu organizernya yang gagal bertemu dengannya sampai 2 (dua) kali.

Andy yang memang sejak awal sudah tertarik dengan Rachel pun sungguh bahagia bisa berdekatan dengan Rachel. Sayangnya, Andy belum berani mengakui kalau dia lah penemu organizer itu. Andy akhirnya mulai berbohong demi menutupi semuanya.
"Apakah benar itu cinta?
Jika memang itu yang namanya cinta, penuh luka, maka Andy memilih untuk tidak pernah mencintai siapa pun.
Jika suatu hubungan, hanya berakhir dengan saling menyakiti, maka Andy memilih untuk sendiri.
Jika kesetiaan begitu mudah ternodai dengan dusta, lalu buat apa janji sehidup semati?" (Halaman 135)
Singkat kata, mereka akhirnya dekat dan kemudian malah menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Semuanya terasa menyenangkan. Hingga kemudian rahasia dan masa lalu terungkap, akankah semua baik-baik saja?

Membaca novel ini sungguh menyenangkan sekali. Gaya menulis Kak Fanny yang lincah, segar dan mengalir, membuatku begitu betah membacanya. Tak butuh waktu lama hingga aku bisa menyelesaikannya.

Novel ini cukup kompleks. Tidak hanya membahas masalah kehilangan Rachel saja yang malah mempertemukannya dengan Andy. Ternyata di balik kejadian buruk ada saja hikmah yang bisa diambil. Seperti kasus Rachel yang kehilangan organizer. 

Kehilangan itu membuat Rachel membuka lembaran baru kehidupannya. Selama ini Rachel selalu merasa hidupnya begitu mudah. Apa saja yang diinginkannya bisa terwujud. Karirnya pun cukup bersinar. Hingga ketika ada batu sandungan dalam hidupnya, dia sempat terpuruk dan terus menyalahkan dirinya. Padahal dalam hidup pasti ada saja kejadian tidak menyenangkan, tetapi tergantung dari sisi mana kita melihatnya.
"Terkadang, seseorang bisa begitu mudah menilai orang lain tanpa tahu cerita lengkap di baliknya. Padahal setiap manusia punya kisahnya sendiri."(Halaman 147)
Aku suka bagaimana Kak Fanny menceritakan dunia penerbitan majalah dengan sangat baik. Bagaimana orang-orang seperti Rachel yang bekerja sesuai passionnya. Semuanya terbangun dengan baik, tidak terlalu detail tetapi membuat kisah ini menarik. Apalagi Kak Fanny juga memasukkan isu intrik di dunia kerja, karena pasti ada saja rekan kerja yang berseberangan dengan kita, bahkan mungkin sengaja/tidak sengaja akan menghancurkan karir kita. Seperti Amy, yang secara tidak langsung ternyata menyabotase pekerjaan Rachel. Tetapi, disinilah semua berproses. Kak Fanny secara perlahan-lahan mengubah karakter para tokohnya ke arah yang lebih baik tentunya.   

Dan tak lengkap rasanya jika kisah Rachel ini tidak ada romansanya sama sekali. Disinilah Kak Fanny mencoba mempertemukan Rachel dan Andy. Hubungan keduanya yang dibangun dengan kebohongan. Andy yang menutupi rahasianya bahwa dia lah yang menemukan organizer Rachel. Andy yang terlalu takut mengetahui reaksi Rachel, dan malah memutuskan untuk berbohong. Padahal Andy sangat membenci kebohongan.
"Pernahkah kamu merasa seperti itu? Tiba-tiba saja begitu "klik" dengan seseorang seakan dia potongan puzzle yang selama ini hilang dalam hidupmu tanpa kamu menyadarinya?" (Halaman 149)
Aku suka bagaimana Rachel dan Andy akhirnya dekat. Chemistry keduanya terbangun tidak secara instan, tetapi secara perlahan-lahan. Aku bisa merasakan keraguan baik Rachel maupun Andy, tetapi pada akhirnya perasaan lah yang menjadi pemenangnya. Adegan favoritku saat Andy dan Rachel mengikuti lomba lari marathon 42 km di Bangkok. Andy dan Rachel seakan bertemu untuk saling melengkapi keping kehidupan masing-masing. Bersama Rachel, Andy pun berani untuk berdamai dengan masa lalunya dan juga memaafkan.   

Namun, sepandai-pandainya menyimpan rahasia, namanya kebohongan tetap kebohongan. Aku bisa merasakan kekecewaan Rachel terhadap Andy. Apalagi Andy punya tempat istimewa dalam kehidupannya. Bukan hanya orang asing. Hal yang terasa manusiawi sekali, melihat reaksi Rachel setelah mengetahui semuanya. Sayangnya, menjelang ending aku merasa penyelesaiannya terlalu biasa untuk semua perjalanan membaca yang terasa mengasyikkan ini. Terasa datar sekali, walau memang endingnya terasa realistis untuk kasus Andy dan Rachel. 

Walaupun novel ini memang menyoroti kisah Rachel dan Andy, bagaimana hidup mereka jungkir balik setelah bertemu. Tetapi, ada 1 (satu) tokoh yang sejak awal sudah membuatku jatuh cinta. Dia adalah Emma, adik Andy. Ah pasti bahagia sekali memiliki adik seperti Emma :) Siapa tahu Kak Fanny mau membuat kisah untuk Emma secara tersendiri.

Novel ini tidak hanya berbicara soal cinta saja, tetapi keluarga, berdamai dengan masa lalu dan tidak boleh patah semangat. Novel ini akan mengajarkanmu bahwa dalam hidup, kita mungkin saja akan merasakan kehilangan atau kejadian yang tidak menyenangkan. Tinggal sekarang bagaimana kita mampu melihat dari sisi yang berbeda dan mengambil hikmah dari semuanya.


"Kejadian tidak menyenangkan dalam hidup bisa membuatmu terpuruk, namun ada orang-orang yang mampu belajar dan mengambil hikmah saat berada di bawah. Mereka bangkit dan menyadari kemampuan dan potensi yang selama ini terkubur."(Halaman 154)
Overall, sebuah novel yang sungguh menarik untuk dinikmati. Page turner. Aku yakin kamu gak bakal berhenti membaca hingga halaman akhir. Semoga novel selanjutnya lebih baik lagi dan tidak perlu menunggu beberapa tahun lagi.

Terima kasih, Kak Fanny telah berbagi kisah Rachel dan Andy :)

"Ternyata, tidak semudah  itu menonaktifkan cinta. Cinta bukan tombol yang bisa dinyalakan dan dimatikan kapanpun kita mau. Cinta tetap ada, bercokol di hati walaupun kamu sudah tidak menghendakinya kehadirannya lagi." (Halaman 224)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Design By Wulansari | Blogger Theme By Black Coffee Design