Jumat, 10 Februari 2017

[Book Review] Kabut di Bulan Madu

Judul : Kabut di Bulan Madu
Penulis : Zainul DK
Penerbit : Ellunar Publisher
Tebal : 249 Halaman
Terbit : Agustus 2016

Tersangka kasus penembakan di sebuah kafe yang menewaskan seorang preman adalah Roby. Ia melakukan penembakan itu karena tak terima kekasihnya, Linda, diganggu. Ia pun berhasil ditangkap oleh Inspektur Ariel untuk menjalani hukuman penjara. Tidak sanggup melihat sang kekasih bersedih mengetahui dirinya dijebloskan ke penjara, Roby menyuruh Linda untuk berlibur menaiki kapal pesiar mewah.


Di sisi lain, ada pasangan yang baru menikah hendak berbulan madu : seorang penyiar berita bahasa Jepang, Helena Lizzana, dan pria keturunan Jepang-Timur Tengah, Ihdina Shirota. Mereka berencana menikmati momen indah itu dengan naik kapal pesiar.

Pasangan muda tersebut berada dalam satu kapal pesiar yang sama dengan Linda. Tak disangka terjadi musibah : kapal pesiar itu menabrak karang dan karam. Dari hasil evakuasi, dinyatakan bahwa hanya ada satu korban jiwa meninggal, yaitu LINDA!

Memperoleh berita nahas ini, Roby tentu saja tidak terima. Menurutnya, ada keanehan yang menyebabkan kekasihnya saja yang menjadi korban. Ia percaya seseorang sengaja membunuh Linda. Ia pun menyusun rencana untuk kabur dari penjara, dan mencari tahu siapa pembunuh sang kekasih. Inspektur Ariel mesti mati-matian mencegahnya!

---------------------
"Hanya karena Adinda dicolek preman, tanpa disengaja saya membunuhnya. Tak mampu membayangkan andaikan ada yang berani menyentuh dan melukaimu. Eye for an eye! Nyawa dibalas nyawa!" (Halaman 34)
Telah terjadi pembunuhan di sebuah kafe bernama Kafe Expose. Korban ditemukan adalah seorang preman yang diketahui membawa senjata tajam. Setelah olah TKP dan saksi mata, ditemukan bahwa Roby adalah tersangka atas pembunuhan tersebut. Roby, tersangka yang melarikan diri itu menembak mati korban karena dianggap telah mengganggu kekasihnya, Linda.

Singkat kata, akhirnya Roby pun berhasil diamankan dan harus mempertanggung jawabkan perbuatannya. Untuk sementara, Roby pun harus menerima nasibnya dipenjara selama kasus hukumnya diproses. Karena Roby tidak ingin membuat kekasihnya, Linda semakin sedih dan terpuruk. Roby pun menyarankan Linda untuk berlibur sejenak di sebuah kapal pesiar.

Namun, sayangnya liburan Linda yang seharusnya membahagiakan malah berakhir bencana. Kapal pesiar yang ditumpanginya mengalami kecelakaan dan karam. Semua penumpang selamat, kecuali Linda. 

Roby yang mengetahui hal ini sungguh tidak terima dengan kematian Linda. Roby yakin bahwa Linda dibunuh. Apalagi ada sebuah kalung berliontin H yang ditemukan bersama Linda. Roby pun semakin gelap mata, dia sudah tidak peduli lagi dengan dirinya. Dia harus segera kabur dari penjara. Dia belum bisa tenang jika belum menemukan sendiri siapa pelaku pembunuh Linda.

Di lain sisi, ada sepasang pengantin baru Ihdina Shirota dan Helena Lizzana yang juga menjadi penumpang kapal pesiar itu. Pasangan pengantin baru ini ingin menghabiskan masa bulan madunya, sayangnya momen romantis mereka harus diakhiri dengan memilukan karena kecelakaan kapal itu. Untungnya mereka berhasil selamat, sayangnya Helena berubah setelah kecelakaan itu.

Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apa benar Linda telah dibunuh? Apa ada hubungannya dengan pasangan pengantin baru Ihdina dan Helena?
"Jangan terbuai oleh kilauan, karena belum tentu itu emas. Wajah dan fisik bisa menipu, sama halnya kilauan yang memperdaya mata. Bila tertipu fisik, kadang cinta nggak elok lagi." (Halaman 151)
Sebenarnya, aku sudah menyelesaikan membaca novel ini sejak berbulan-bulan yang lalu, namun rasanya untuk membuat review terasa sulit sekali. Bukan karena novel ini tidak bagus atau bagaimana, tapi karena aku punya banyak sekali catatan yang membuatku sulit untuk menuangkannya dalam sebuah review dan aku takut malah jatuhnya akan spoiler cerita.

Jujur, awalnya aku tak punya ekspektasi apa-apa saat membaca novel ini. Melihat covernya yang berwarna hitam dan ada siluet pasangan yang berpelukan, cukup menarik perhatian dan selaras dengan temanya "thriller romance".

Aku pun dibuat bertanya-tanya akan seperti apa penulis membawakan kisah ini, akankah ada ketegangan yang kurasakan seperti saat aku membaca novel thriller lainnya? Atau akankah aku menemukan kisah romantis di dalam ketegangan yang ada. Sayangnya itu tidak kutemukan sama sekali, sampai akhir aku menutup novel ini, aku merasa semua elemen yang ada kurang maksimal dieksekusi. Unsur thriller maupun romance yang diusung tidak terlalu klimaks, bahkan sepanjang cerita aku merasa novel ini tidak fokus, karena unsur comedy (humor) pun mencuat.

Padahal aku suka sekali dengan ide cerita yang ditawarkan oleh penulis. Salut dengan penulis yang berani untuk mengambil sesuatu yang berbeda, ditengah maraknya novel romance yang beredar di pasaran. Sayangnya, penulis kurang bisa mengekplorasi cerita dalam novel ini menjadi suatu bacaan yang nyaman untuk dinikmati.

Aku hanya membutuhkan waktu membaca sekitar 2 jam saja untuk menamatkan novel ini. Tetapi sepanjang cerita, aku tidak bisa merasakan rasa ketegangan maupun rasa penasaran yang dalam seperti saat aku membaca novel sejenis thriller. Sejak awal sebagai pembaca kita sudah tahu akan pelakunya, mungkin ini yang membedakan dengan novel dengan tema sejenis. Disinilah tantangan bagi penulis untuk membuat pembaca bisa merasakan apa yang ingin disampaikan kepada pembaca. 

Untungnya, menjelang ending aku menemukan twist yang benar-benar di luar perkiraanku. Inilah yang mungkin sudah ditunggu-tunggu oleh pembaca lainnya sejak membaca kisah ini. Hal yang mengejutkan dan tentunya benar-benar berhasil disimpan rapat oleh penulis. Penulis berhasil kali ini.

Dengan menggunakan alur maju dan sudut pandang orang ketiga, kita akan diajak bertemu dengan Roby yang ingin membalas dendam atas kematian kekasihnya, Linda. Kita juga akan diajak mengintip kemesraan yang ditunjukkan oleh pasangan pengantin baru, Ihdina dan Helena. Aku suka dengan bagian-bagian peribahasa atau pepatah dalam bahasa Arab maupun Jepang yang sering ditulis oleh Ihdina untuk istrinya, Helena. Pepatah atau peribahasa berisi kalimat-kalimat motivasi yang cukup menghibur sepanjang cerita.

Sayangnya lagi-lagi aku tidak bisa merasakan chemistry yang begitu kuat antara Helena dan Ihdina. Interaksi mereka masih terasa kaku sekali, padahal harusnya mereka bisa lebih romantis karena mereka baru saja menikah dan mereka sama-sama saling mencintai. Dan ada yang sedikit mengganjal sebenarnya, terkait Helena yang entah kenapa lebih percaya dengan Iptu Ariel daripada suaminya sendiri mengenai kasus yang terjadi di kapal pesiar dan membuatnya trauma.

Berbicara tokoh, tidak ada satu pun karakter yang aku sukai dalam novel ini. Tokoh-tokoh dalam novel ini kurang kuat dan tidak membuatku terkesan sama sekali. 

Secara keseluruhan, ini hanya masalah selera saja. Walau memang novel ini belum bisa memuaskanku dari segi cerita, tapi aku salut penulis berani menerbitkan novel ini. Jika ada kemungkinan untuk direvisi atau dicetak ulang, aku sangat berharap sekali masukan-masukan baik dari aku maupun pembaca lainnya bisa menjadi catatan perbaikan. Karena sayang sekali, penulis punya ide cerita yang cukup menarik jika bisa dieksplorasi lebih jauh.
"Bukanlah yang berkilau itu emas. Apa yang terlihat indah di luar, belum tentu sama indahnya di dalam." (Halaman 232)

1 komentar:

  1. Wah kayaknya menarik nih ky, genre "thriller romance". Penasaran tapi juga jadi takut kentang alias kena tanggung. Thrillernya ga seru-seru banget, romancenya ga romantis. hoahahhaa

    BalasHapus

Design By Wulansari | Blogger Theme By Black Coffee Design