Senin, 04 Desember 2017

[Blog Tour] Impian Demian - Pertemuan Tak Terduga dengan Penulis

Aku sedikit terlambat tiba di rumah teman yang menjadi host acara tupperware bulan ini. Sudah ada lumayan banyak orang di ruang tengah, tempat acara itu diadakan. Teman kantor yang nge-host ini sedang tergila-gila pada produk wadah makanan kedap udara yang berasal dari Negeri Paman Sam itu. Maka nggak heran, begitu ada tawaran nge-host dari  seorang anggota tupperware, langsung saja disambarnya.

Menjadi tuan rumah acara Tupperware itu punya keuntungan sendiri. Tuan rumah hanya perlu mengumpulkan potensial buyer untuk menghadari demo Tupperware, dan dia akan mendapatkan hadiah produk. Hadiah itu tergantung jumlah transaksi yang terjadi pada saat acara. Semakin banyak barang yang laku, akan semakin bagus dan mahal produk yang bisa didapatkannya. Dan  teman itu sudah mewanti-wanti kami untuk ikutan membeli produk. Itu permintaan yang sulit ditolak, karena dia juga nyaris nggak pernah menolak pemintaanku. Lagi pula, aku suka Tupperware kok, jadi ini simbiosis mutualisme.

“Ky, orang yang nawarin nge-host ini bawa temennya, lho,” Asri, si pemilik rumah menahan saat aku hendak duduk. “Gue yakin lo pasti excited dan pengin kenalan.” Senyumnya tampak lebar.

“Adam Levine?” godaku sambil tertawa. “Sori, tapi gue sedang nggak ingin selingkuh. Suruh dia  balik lagi kapan-kapan deh, saat hormon  gue sedang nggak stabil.”

“Adam Levine juga nggak kepengin punya affair sama lo, kali!” jawab Asri cemberut. “Dia lagi mabuk kepayang sama bini dan anaknya.” Dia kini setengah menyeretku menuju sudut ruangan, tempat seorang perempuan berjilbab merah sedang duduk bermain ponsel. “Itu Nimas Aksan, Neng! Gue tahu kok kalo impian terbesar bloger dan reviewer buku itu adalah ketemu langsung sama penulis dan ngobrol eksklusif.”

Senyumku sontak melebar. “Beneran Nimas Aksan yang penulis itu?” Aku baru saja selesai membaca buku terbarunya yang berjudul Impian Demian.

“Ya, iyalah, Neng. Memangnya ada berapa Nimas Aksan sih? Lo mau kenalan sendiri atau harus  pake jasa gue?”

“Gue bisa sendiri,” sambutku cepat. “Pake jasa lo tarifnya mahal. Ntar lo malah paksain gue beli Blossom Collection, padahal gue udah punya 2 set.” Aku buru-buru mendorong Asri menjauh, sebelum mendekati sofa di sudut ruangan, yang memang sedikit terpisah sofa set dan tempat duduk lain yang sudah diatur untuk keperluan acara.

“Hai…” tegurku begitu sampai di dekat perempuan itu. Aku menunggu sampai kepalanya terangkat sebelum melanjutkan, “Mbak Nimas Aksan, kan?” Wajahnya terlihat sama persis dengan foto-fotonya di sosial media miliknya. Karena aku bloger  buku, hampir semua teman di sosial mediaku adalah pencinta buku, terutama penulis. Jadi, wajah Nimas Aksan lumayan akrab, terutama beberapa minggu terakhir setelah buku terbarunya terbit. “Kenalkan, saya Kiky, Mbak.”

Nimas Aksan berdiri dan menyambut uluran tanganku. “Halo….” Senyumnya tampak ramah.

Aku menyilakan dia duduk kembali dan ikut mengambil tempat di dekatnya. “Saya boleh ngobrol dengan  Mbak Nimas sebentar? Nggak  ganggu?” Aku sih berharapnya dia nggak keberatan diajak ngobrol. Bertemu langsung dengan penulis yang bukunya fresh from  the oven akan bagus untuk cerita dalam blog-ku.

Nimas serentak menggeleng. “Sama sekali nggak. Mau ngobrol apa?”

Asyik. Ini namanya pucuk dicinta ulam tiba. “Saya sudah baca buku Mbak Nimas yang baru, lho. Dan saya penasaran dengan POV 1 laki-laki yang Mbak Nimas angkat. Nggak banyak kan penulis perempuan di Indonesia yang menulis dengan POV seperti itu. Ada alasan khusus, Mbak?”

“Alasan khusus?” Nimas mengulang kata-kataku. “Cuman pengin tantangan baru aja sih sebenarnya. Saya pernah membaca Madre punya Dee, dan jadi pengin mencoba. Ibu saya pernah bilang kalau nggak ada yang sulit dikerjakan asal mau. Yang ada tuh malas.”

“Nasehat bagus, Mbak.” Aku melanjutkan pertanyaan, “Oh ya, saya juga sudah baca buku pertama Mbak Nimas yang judulnya Janji Es Krim itu. Kok jaraknya lumayan jauh dengan buku yang ini ya, Mbak?”

Nima memperbaiki posisi duduknya sehingga kami berhadapan. Wajahnya terlihat semringah. Dia tampak bersemangat bercerita tentang bukunya. “Iya, lumayan jauh sih karena buku pertama saya itu ditulis pas anak pertama saya lahir. Setelah itu sibuk ngurus baby dan hamil lagi dalam jarak waktu setahun. Saya baru konsen menulis lagi setelah anak kedua saya berumur tiga tahun dan mulai mandiri. Itu sih yang bikin jarak terbit lumayan lama.”

“Trus bikin Impian Demian itu berapa lama sih, Mbak?” Mumpung ketemu narasumber yang bersahabat, sekalian saja diubek-ubek.  Lumayan untuk mengisi blog. Ini kesempatan yang nggak datang dua kali.

“Impian Demian itu dimulai sejak Januari 2017 sih. Benar-benar kelar dan disetor ke editor itu bulan Agustus 2017.”

“Ada kesulitan waktu ngerjain Demian nggak, Mbak?”

“Sebenarnya bukan kesulitan dalam pengerjaan sih, Mbak Kiky. Lebih ke deg-degan kalau karakter tokohnya kurang  laki.” Nimas tampak berpikir, mengingat-ingat. “Yang lain paling soal riset karena mengangkat cerita tentang pabrik dan dunia arsitektur yang  jauh dari dunia saya.”

“Oh ya, satu lagi nih, Mbak,  Demian itu tokoh yang karakter aslinya ada dalam  dunia nyata atau hanya rekaan sih?”

Nimas tersenyum. “Setiap karakter saya dalam cerita sebenarnya punya role model aslinya sih. Jadi ya, ada sosok Demian asli dalam dunia nyata. Cowok skeptis dan sinis memandang hidup. Dan meskipun pintar, dia malas menonjolkan kepintarannya.”

“Boleh tahu siapa orangnya, Mbak?”

Nimas tertawa. “Kayaknya sih mirip editor saya, Mbak. Dia sendiri yang bilang kalau Demian lumayan mirip karakter dia. Mungkin karena itu dia lebih mudah klik  ke naskahnya.”

Aku ikut tertawa. “Termasuk bagian womanizer-nya, Mbak?” tanyaku iseng.

Tawa Nimas menjelma menjadi gelak. “Bagian yang itu saya nggak berani jawab sih. Nanti ditanyakan sama orangnya langsung.”

Suara riuh dari tempat demo Tupperware mengalihkan perhatianku. “Mbak Nimas pengguna Tuperware juga?” Aku mengalihkan topik percakapan.

Nimas mengangguk. “Saya nggak semaniak ibu-ibu dalam meme Tuperware itu sih, tapi ya, saya punya beberapa koleksi Tupperware. Paling suka sih sama produk  T-Pop karena komplit dan punya kemasan khusus yang  cantik, sehingga pas untuk dijadikan kado.

Aku merasa percakapan singkat kami sudah cukup untuk mengisi rubrik temu penulis di blogku. “Oke, Mbak Nimas, makasih banyak untuk kesempatan ngobrolnya, yah. Nggak setiap hari bisa ketemu penulis keren nih. Wawancaranya boleh saya masukkan  dalam blog saya, kan?”

“Tentu saja boleh. Hitung-hitung buat promo.”


Postingan ini merupakan cerita pendek yang aku buat setelah obrolan singkat dengan Mba Nimas Aksan, penulis Impian Demian yang diterbitkan oleh Elex Media di whatsapp sekaligus sebagai bagian dari rangkaian Blog Tour Impian Demian.

Jangan lupa, simak juga kisah seru lainnya di blog teman-teman lainnya ya, yuk cek saja di banner di bawah ini:


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Design By Wulansari | Blogger Theme By Black Coffee Design